Penyuluh Perikanan

Penyuluh Perikanan
Pulau Tinggi

Kamis, 13 Agustus 2015

Cara pembuatan silase

Cara pembuatan silase

Pembuatan silase ikan, baik dalam skala kecil maupun skala besar dapat dilakukan dengan mudah dan murah. Adapun proses pembuatannya sangat sederhana, yaitu dengan mencairkan daging ikan dengan bantuan enzim, baik yang terdapat di dalam tubuh ikan itu sendiri, maupun yang dihasilkan oleh mikro-organisme tertentu, dan asam yang sengaja ditambahkan. Penambahan asama ini dimaksudkan untuk membantu menciptakan kondisi lingkungan yang memenuhi syarat dan terkontrol sehingga mampu menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk maupun mikro-organisme lain serta dapat mempercepat proses pencairan daging ikan.
Berdasarkan bahan baku yang digunakan, pembuatan silase ikan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu ;

Bahan baku ikan mentah
Langkah pertama yang harus dilakuakn dalam pembuatan silase ikan adlah mencuci daging ikan yang digunakan sebagai bahan baku. Pencucian ini dimaksudkan untuk untuk membersihkan daging ikan dari kotoran maupun benda keras yang mungkin terdapat pada daging ikan, , terutama  bila bahan baku dari ikan diperoleh dari limbah pabrik pengalengan ikan. Pencucian sebaiknya dilakukan dengan air bersih yang mengalir. Setelah dicuci bersih, daging ikan dicincang sesuai dengan ukuran yang diharapkan, daging ikan kemudian digiling dengan alat penggiling daging sehingga lumat.
Ikan yang telah digiling halus dimasukan ke dalam sebuah wadah yang bersih untuk dibubuhi asam, untuk menghindari kerusakan karena korosi oleh asam sebaiknya digunakan wadah yang terbuat dari bahan plastik atau tanah. Tambahkan asam formiat berkadar 85% ke dalam wadah tersebut sebanyak 2-3 % dari berat total ikan yang akan diproses (jadi sekitar 3 liter untuk setiap 100 kg ikan). Tujuan untuk pemberian asam formiat adalah untuk menurunkan pH lingkungan dalam wadah hingga mencapai 4.5 atau lebih rendah lagi.  Selanjutnya ke dalam wadah tersebut ditambahkan pula asam propionat sebanyak 1% (1 liter untuk 100 kg ikan), tujuannya adalah untuk meningkatkan daya awet dari silase yang akan dihasilkan.
Bahan baku daging yang telah dibubuhi asam formiat dan propionat harus selalu diaduk agar keduanya benar-benar tercampur secara merata. Proses pengadukan dilakukan 3-4 kali sehari selama 4 hari pertama, sedangkan hari berikutnya cukup dilakukan pengadukan secara berkala. Bila semua langkah pengerjaannya dilakukan dengan benar, pada hari kelima telah tampak cairan yang berasal dari tubuh ikan, dengan demikian silase sudah dapat diberikan sebagai makanan ikan atau ternak. Bersamaan dengan timbulnya cairan yang berasal dari tubuh ikan, biasanya akan timbul pula cairan lemak yang ada segera dibuang karena jika dikonsumsi oleh ikan atau ternak dapat menimbulkan pengaruh kurang baik.
Untuk mendapatkan silase dalam bentuk kering, sebaiknya dilakukan penambahan karbohidrat (dedak, tepung kanji, tepung terigu, dsb) setelah dilakukan penambahan karbohidrat, silase dijemur hingga benar-benar kering. Produk silase yang telah dikeringkan dalam wadah yang bersih dan kering untuk kemudian digunakan sedikit sebagai makanan  ikan atau ternak. 

Bahan baku ikan telah dimasak   
Pross pembuatan silase dengan bahan baku ini sama seperti pada pembuatan silase dengan bahan baku ikan mentah, pertama ikan yang akan diolah dicuci dahulu dengan air bersih, kemudian dipotong kecil-kecil dan dicincang sampai halus, hasil cincangan selanjutnya digiling hingga lumat.
Gilingan daging ikan dimasukan ke dalam wadah yang bersih, kemudian direbus. Tabahkan sedikit air ke dalam wadah tersebut agar ikan tidak menjadi hangus, terutama ikan didasar wadah jumlah air yang ditambahkan tidak terlalu banyak, cukup setinggi 0,5-1 cm dari dasar wadah. Setelah direbus, tambahkan asam formiat dan propionat 1% dari berat total ikan yang akan diolah , langkah pengerjaan selanjutnya sama seperti pada pembuatan bahan baku ikan mentah.


Sumber : Bulletin Co-Fish No.2 - November 2002

(Artikel : Cara Pembuatan Silase, Hal. 8-10 )

Membuat Probiotik Sendiri

Membuat Probiotik Sendiri


2 kg gula pasir, 1 kaleng susu kental manis dan 1 kg tetes tebu diaduk menjadi satu, semua bahan pemanis itu lantas dicampur 0,5 liter biang bakteri Lactobacillus sp, nah itu lah probiotik buatan. Probiotik buatan sendiri tak kalah unggul produksi pabrik, saat diaplikasikan pada budidaya lele, diketahui tingkat kelulusan hidup (SR) Clarias sp itu mencapai 98% dari semula 80%, dan FCR (food conversion rasio) pun turun dari 1 menjadi 0,9-0,95. Ramuan itu perlu diencerkan dengan 30 liter air dan difermentasikan selama 2 hari, selanjutnya setiap 10 cc larutan probiotik diencerkan dengan 300 cc air sebelum dicampurkan pada 1 kg pelet.

Bahan pemanis yang digunakan berguna untuk tumbuh dan berkembang biak bakteri tersebut, jenis bahan pemanis seperti gula pasir, gula batu, gula merah atau jus buah-buahan bisa menjadi sumber nutrisi bakteri.

Pemberian probiotik memang membuat ikan lebih efesien menyerap nutrisi, sehingga masa pemeliharaan lebih singkat. Bibit bandeng berukuran 2-3 cm yang diberi probiotik dapat dipanen setelah 50 hari dengan bobot panen 90-100 gr/ekor. Kelebihan lain probiotik membuat tingkat kelulusan hidup naik dari 70% menjadi 97-98%, ini tak lepas dari peran probiotik yang dapat menstabilkan salinitas dan pH yang sesuai untuk budidaya Chanos chanos.

Yogurt, kefir dan dadih dapat dijadikan bahan baku probiotik, produk turunan susu tersebut kaya akan bakteri asam laktat seperti lactobacillus, streptococus, dan bifidobacterium, mereka memperbaiki fungsi saluran pencernaan sehingga penyerapan nutrisi lebih bagus.

Probiotik berbahan baku yogurt mudah dibuat, pertama buat larutan nutrisi untuk bakteri, caranya larutkan 50 gr molase, 100 cc susu murni, dan 50 gr jus kedelai pekat ke dalam 1 liter air. Campuran tersebut kemudian dipasteurisasi dengan cara merebus selama 30 menit, setelah dicampur rata, dnginkan, lalu tambahkan 100 cc biang bakteri yogurt, kefir atau dadih. Inkubasikan selama 48 jam dalam drum atau ember yang dilengkapi pompa sirkulasi akuarium, setelah itu starter siap digunakan, untuk memproduksi lebih banyak lagi tinggal menambahkan volume larutan nutrisi plus 10% starter, proses pembiakan dilakukan selama 2-5 hari dengan sistem agitasi pompa sirkulasi, untuk aplikasi disemprotkan langsung pada pelet atau disiramkan di kolam dengan dosis 1 liter per 80 m2 setiap 1-2 bulan.



Sumber : Majalah trubus Edisi 492-November 2010/XLI

(Artikel : gandakanmahluk mini sendiri )

Zero Water Discharge Technology

Zero Water Discharge Technology




Bakteri nitrifikasi sejak lama dipakai petambak udang untuk mengurangi amonia dalam menjaga kualitas air, maklum amonia dapat meracuni udang dan mencemari lingkungan. Menurut Kepala Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee di Nanggroe Aceh Darussalam, bakteri nitrifikasi itu sengaja ditebar untuk mengurangi amonia yang terbentuk dari perombakan sisa pakan dan kotoran menjadi nitrat. Nitrat tidak beracun, saat terbentuk nitrat, oksigen mudah masuk ke air, dampaknya nafsu makan udang meningkat.
Bakteri nitrifikasi tidak langsung ditebar di kolam, ia menaruh dalam potongan karpet yang disusun menyerupai karamba. Total terdapat 2 karpet bakteri yang masing-masing berukuran 1m x 1m x 60cm di kolam seluas 10 m2. Dengan adanya bakteri nitrifikasi, sampai panen air kolam tetap jernih. Tingkat kelulusan hidup Microbrachium rosenbergii pun melesat sampai 95%. Karpet menjadi tempat tinggal nyaman bakteri sehingga dapat berkembang biak cepat. Media dengan bahan tekstil berpolimer apa saja dapat dipakai untuk tempat tumbuh bakteri. Karpet dipilih karena tebal sehingga ruang sembunyi bakteri luas. Hasilnya perombakan amonia terus berlangsung dan kualitas air terjaga meski berbulan-bulan tidak diganti, temuan ini dinamakan Zero Water Discharge Technology.



Pemakaian karpet dapat memperluas bidang gerak dan udang pun dapat memanfaatkan panjang permukaan sebagai tempat tinggal. Bila moulting alias ganti kulit udang tinggal bersembunyi pada rooster bata yang ditaruh didasar kolam. Dengan cara itu, kanibalisme salah satu penyebab anjloknya produksi udang dapat ditekan. Setelah panen selesai, air di kolam masih dapat dipakai lagi dengan cara resirkulasi. Kualitas air hasil resirkulasi akan tetap terjaga dengan menambahkan batu kapur yang mengandung kalsium karbonat sebagai filter. Filter diletakan di samping kolam, bersihkan karpet dari kotoran berwarna cokelat, kotoran itu adalah sisa pakan dan kotoran yang belum sempat dirombak bakteri. Karpet cukup dibersihkan dengan menyemprotkan air bersih sampai lapisan kotoran itu hilang, bakteri sendiri tidak perlu ditambah, karena bakteri sudah berkembang biak di kolam dan akan kembali menempel pada karpet.

Bakteri nitrifikasi yang dibiakan di atas sebaiknya diambil dari perairan di lokasi budidaya, karena setiap daerah memiliki karakteristik bakteri nitrifikasi berbeda. Bakteri itu dikultur dalam media agar dan diinkubasi selama 3 hari pada suhu 250C. Keberhasilan penggunaan karpet bakteri itu sebelumnya telah teruji pada pembenihan, selama ini tingkat kelulusan benih udang galah sangat rendah paling pol sekitar 40-50% itupun sudah ketat menjaga stabilitas dan kualitas air. Dengan penambahan karpet bakteri ini kelulusan hidup benih naik hingga 94,67%.
Bentuk karpet bakteri benih lebih sederhana daripada pembesaran, setiap akuarium disekat oleh 4 potongan karpet yang berdiri tegak. Kerja karpet bakteri itu sama seperti pada tahap pembesaran. Sebelum udang masuk ke akuarium, karpet terlebih dahulu direndam selama 24 jam. Saat perendaman air, diberikan 10-30 ppm NH4CL sebagai sumber pakan bakteri, dari sana akan terlihat kemampuan bakteri merombak sisa pakan dan kotoran. Keesokan harinya, 100% air akuarium dikuras lalu dituang air baru yang sebelumnya telah diinapkan selama 24 jam. Setelah itu karpet dan larva dapat bersamaan mengisi akuarium. Penggunaan karpet berisi bakteri nitrifikasi sangat signifikan meningkatkan produksi dan tingkat kelulusan hidup benih udang galah. 


Sumber : Majalah trubus Edisi 483-Februari 2010/XLI

(Artikel : Udang galah : karpet bakteri genjot produksi)

Sosialisasi Kartu Nelayan di Kabupaten Bangka Selatan

Sosialisasi Kartu Nelayan di Kabupaten Bangka Selatan

Pada hari Kamis tanggal 13 Agustus 2015 bertempat di Ruang Pertemuan Badan Pelaksana Penyuluhan & Ketahanan Pangan Kab. Bangka Selatan diselenggarakan kegiatan sosialisasi kartu nelayan yang dihadiri oleh perwakilan KUB di sekitar daerah Bangka Selatan serta penyuluh perikanan.
Pemberian Kartu Tanda Anggota Nelayan merupakan salah satu terobosan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengatasi kemiskinan nelayan, kartu ini dapat menjadi instrumen bagi KKP saat memberikan bantuan kepada nelayan sehingga lebih tepat sasaran. Kementerian Kelautan dan Perikanan juga menilai bahwa usaha perikanan tangkap adalah usaha yang mempunyai tingkat resiko sangat tinggi baik dari segi finansial maupun tingkat kecelakaan kerja. Dalam upaya untuk memberikan perlindungan kepada nelayan melalui jasa asuransi, maka perlu diadakan sosialisasi program ini kepada para nelayan serta kerja sama dengan pihak - pihak terkait.
Dalam menyampaikan kartu nelayan ini, KKP menggandeng BRI dan BNI 46. Pertamina juga diajak serta, sehingga subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) akan dapat mudah penyalurannya. Selain itu, kartu ini juga dapat berfungsi untuk menjadi fasilitas bagi anak-anak nelayan yang kurang mampu untuk masuk sekolah, rumah sakit, dan membeli beras murah. Nelayan untuk mendapatkan Kartu ini, harus memiliki ada 3 (tiga) syarat. Pertama, mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP). Kedua, direkomendasikan dari lingkungan sebagai nelayan, yaitu dari RT dan RW atau Kepala Desa, dan Ketiga, dikenal & diperhatikan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota.
Penerbitan Kartu Nelayan merupakan wujud penghargaan pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan terhadap profesi nelayan. Kepemilikan Kartu Nelayan, diharapkan menjadi materi kongkret proses pemberdayaan nelayan sebagai mitra pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya perikanan dan upaya juga peningkatan pendapatan secara berkelanjutan, efektif dan tepat sasaran. Hal ini sebagai upaya juga untuk melindungi nelayan dari intervensi adanya migrasi dari profesi lainnya yang ikut menangkap ikan tanpa izin, sehingga dikemudian hari, hanya pemegang kartu yang boleh melakukan penangkapan ikan di laut secara sah. Pembuatan Kartu Nelayan (KN) tidak semata-mata sebagai kartu identitas sebagai nelayan, tetapi lebih merupakan inisiatif pemerintah melakukan langkah inisiasi menjadikan nelayan selaku pemangku kepentingan utama (stakeholder) sebagai mitra dalam proses pembangunan perikanan tangkap. Realisasi kegunaan Kartu Nelayan yang sudah dilaksanakan diberbagai daerah di Indonesia diantaranya :
1)    Bukti identitas profesi nelayan diwilayah Negara kesatuan republik Indonesia.
2)    Database daerah dan Nasional perkembangan kapasitas nelayan guna pengendalian sumberdaya ikan dan penyediaan lapangan kerja nelayan secara rasional berkelanjutan.
3)    Referensi data bukti identitas tepat sasaran kepada nelayan dalam pembelian BBM bersubsidi.
4)    Referensi pembuatan jamkesda.
5)    Salah satu syarat bagi Nelayan agar tepat sasaran Penerima Program PUMP (pengembangan usaha mina pedesaan) perikanan tangkap.
6)    Salah syarat agar tepat sasaran Penerima SeHAT (Sertifikat Hak Atas Tanah nelayan).
7)    Pelaporan keselamatan kerja nelayan dan informasi cuaca melalui SMS Gateway.
8)    Salah satu syarat bagi nelayan agar tepat sasaran mendapat program bimbingan teknis perikanan tangkap.
9)    Salah satu syarat agar tepat sasaran bagi nelayan yg mendapatkan Asuransi Jamsostek nelayan.

10) Salah satu syarat tepat sasaran dalam nelayan mendapatkan bantuan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) ketika musim gelombang tinggi tidak bisa melaut.





Rabu, 12 Agustus 2015

Kegiatan Temu Teknis Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan Se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Kegiatan Temu Teknis Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan
Se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Hari Senin - Rabu Tanggal 10 - 12 Agustus 2015 bertempat di Hotel Soll Marina Jl. Koba Km.8 Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah telah diselenggarakan kegiatan “Temu Teknis Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan Se- Provinsi Kepulauan Bangka Belitung” oleh Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian Perikanan & Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kegiatan yang dihadiri oleh penyuluh PNS, honor daerah, THL-TB PP, PPB dan swadaya sebanyak kurang lebih 500 orang.
Agenda kegiatan tersebut antara lain apel siaga, pemaparan materi oleh Kepala Pusat Penyuluhan dari 3 Kementrian (BPPSDM-Pertanian, BPSDM-Kelautan & Perikanan, serta BPPSDM-Kehutanan), pemaparan materi oleh Dinas provinsi terkait (Dinas Pertanian & Peternakan, Dinas Kelautan & Perikanan, serta Dinas Kehutanan), cerdas cermat penyuluh, serta pemaparan inovasi teknologi oleh penyuluh dari masing-masing daerah/ kabupaten.
Maksud diadakan kegiatan tersebut adalah menyatukan persepsi, motivasi, tekad, dan gerak langkah dalam mendukung pembangunan pertanian, kelautan & perikanan, serta kehutanan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sedangkan tujuannya adalah :
1)    Untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap penyuluh pertanian, perikanan, serta kehutanan dalam penyelenggaraan penyuluhan.
2)    Untuk menggali pengalaman para penyuluh pertanian, kelautan & perikanan, serta kehutanan dalam melaksanakan tugas penyuluhan.
Berikut foto-foto kegiatan temu teknis :








Pertemuan KUB Sumber Bakti Di BP3K Kecamatan Tukak Sadai Tanggal 06 Agustus 2015

Pertemuan KUB Sumber Bakti Di BP3K Kecamatan Tukak Sadai Tanggal 06 Agustus 2015
           

Bertempat di ruang pertemuan Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan & Kehutanan (BP3K) Kecamatan Tukak Sadai pada hari Kamis Tanggal 06 Agustus 2015 pukul 11.00 sampai 12.30 WIB telah diselenggarakan penyuluhan melalui metode pertemuan kelompok. Pertemuan tersebut dihadiri oleh pengurus dan anggota KUB Sumber Bakti sebanyak 10 nelayan. Penyuluh perikanan Kecamatan Tukak Sadai (Titis Hesty Yuliany, S.Pi) pada pertemuan tersebut menyampaikan beberapa materi penyuluhan seperti :
1)    Kegiatan kelembagaan kelompok pelaku utama perikanan
Penjelasan mengenai cara penyusunan RUB, rencana kerja kelompok, perangkat administrasi kelompok, dsb.
2)   Sosialisasi kegiatan SeHAT (sertifikat hak atas tanah) Nelayan
Mengidentifikasi nelayan yang bangunan dan atau tanahnya belum disertifikasi untuk diajukan usulan calon peserta kegiatan SeHAT Nelayan untuk kuota tahun 2015.
3)   Penyuluh perikanan swadaya
Penjelasan pengertian, tatacara dan syarat penumbuhan penyuluh perikanan swadaya.
KUB Sumber Bakti adalah salah satu KUB binaan BP3K Kecamatan Tukak Sadai yang berada di Desa Pasir Putih dinahkodai oleh Torang Suheri Sihombing merupakan kelompok yang terbilang baru seumur jagung, dibentuk pada tanggal 05 Mei 2015 dengan berita acara pengukuhan nomor : 02/D.PSPT/V/2015 yang ditandatangani oleh pejabat setempat (Kepala Desa Pasir Putih). Aktifitas anggota kelompok adalah nelayan radisional dengan alat tangkap bubu rajungan dengan hasil produksi rata-rata berkisar 5-10 kg/ hari.
kUB Sumber Bakti itu sendiri cukup aktif dalam kegiatan penyuluhan perikanan karena secara rutin melaksanakan pertemuan kelompok dengan penyuluh perikanan, dimana dalam setiap pertemuan tersebut disampaikan berbagai informasi terkait profesinya sebagai nelayan dan seputar usaha penangkapan rajungan, serta ada diskusi mengenai permasalahan yang dihadapi oleh kelompok.
Semoga penyuluhan menjadi gerakan masyarakat, dimana pelaku utama bersama penyuluh secara sadar, mau dan mampu membangun paradigma penyuluhan yang berbasis kemandirian dan kompetensi. 




Pertemuan Penyuluh BP3K Tukak Sadai 04 Agustus 2015


 
Pertemuan Penyuluh BP3K Tukak Sadai 04 Agustus 2015

Hari Selasa Tanggal 04 Agustus 2015 bertempat di Ruang Pertemuan Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan & Kehutanan (BP3K) Kecamatan Tukak Sadai.      

Berikut disajikan foto-foto kegiatan :