Penyuluh Perikanan

Penyuluh Perikanan
Pulau Tinggi

Rabu, 12 Agustus 2015

Pertemuan Penyuluh BP3K Tukak Sadai 04 Agustus 2015


 
Pertemuan Penyuluh BP3K Tukak Sadai 04 Agustus 2015

Hari Selasa Tanggal 04 Agustus 2015 bertempat di Ruang Pertemuan Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan & Kehutanan (BP3K) Kecamatan Tukak Sadai.      

Berikut disajikan foto-foto kegiatan :  





Selasa, 04 Agustus 2015

Sosialisasi SeHat Nelayan di Kecamatan Tukak Sadai Kabupaten Bangka Selatan

Sosialisasi SeHat Nelayan di Kecamatan Tukak Sadai
Kabupaten Bangka Selatan




Dalam rangka pemberdayaan masyarakat khususnya nelayan-nelayan tradisional di desa pesisir, diperlukan program atau kegiatan yang lebih mengukukuhkan ke arah peningkatan kapasitas, baik dalam hal potensi wilayah, profesi ataupun aset dan kepemilikan harta bendanya. Karena jika berbicara mengenai nelayan, kita tidak bisa hanya melihat dari sisi profesi dan lautnya semata, lebih dari itu terdapat permasalahan-permasalahan yang lebih kompleks seperti salah satunya kepastian hukum akan tanah dan bangunan milik nelayan.

Tanah dan bangunan yang merupakan aset nelayan harus mendapatkan legalitas dari pemerintah berupa serpikat tanah. Jika semua aset kepemilikan nelayan mempunyai kekuatan hukum yang sah, maka hal tersebut akan menunjang peningkatan kapasitas baik dari segi sosial maupun ekonomi. Nelayan yang tanah dan bangunannya telah disertipikasi tentunya akan merasa nyaman dan terhindar dari gangguan sosial terkait asetnya, sedangkan dari segi ekonomi dapat dijadikan sebagai media dalam peningkatan kapasitas usaha penangkapan ikannya, yaitu dapat dijadikan sebagai agunan atau jaminan dalam peminjaman modal kepada bank atau lembaga keuangan lainnya.  

Bertolak dari hal tersebut diatas bertempat di ruang pertemuan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Desa Sadai Kecamatan Tukak Sadai, pada hari Senin tanggal 03 Agustus 2015 diselenggarakan sosialisasi sertifikasi hak atas tanah (SeHAT) untuk nelayan, kegiatan yang difasilitasi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bangka Selatan dan DKP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung serta BPN Bangka Selatan tersebut dihadiri oleh perwakilan aparat desa, perwakilan KUB, dan penyuluh perikanan di wilayah Kecamatan Tukak Sadai.


     

Tahun 2015 Kabupaten Bangka Selatan mendapat kuota sebanyak 100 bidang yang tersebar di desa - desa pesisir, dengan diadakannya sosialisasi tersebut nelayan dapat mengetahui prosedur dalam keikut-sertaan program SeHAT. Penyuluh perikanan diharapkan berperan aktif dalam menyebarluaskan info program SeHAT dan juga bisa memfasilitasi pendaftaran atau pengajuan sebagai calon penerima program SeHAT, sehingga kegiatan tersebut bisa tepat sasaran kepada nelayan-nelayan tradisional.

Membesarkan lobster di luar habitat asli ?

Membesarkan lobster di luar habitat asli ?


Peluang membesarkan anakan lobster (fattening) di luar habitat aslinya sangat besar dan belum banyak dilirik oleh pembudidaya. “beberapa tahun ini disinyalir telah terjadi penurunan populasi lobster di alam,” kata peneliti udang yang kini menjadi Kepala Unit Pelaksana Teknis Loka Pengembangan Bio Industri Laut (UPT-LPBIL) LIPI di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Penurunan itu tampak dari ukuran lobster hasil tangkapan nelayan. Di Perairan Selatan Jawa seperti Banyuwangi, Pacitan dan Pangandaran, pada musim penangkapan lobster sekitar bulan Nopember sampai Januari, lebih banyak diperoleh anakan lobster yang belum layak jual karena bobot tubuhnya kurang dari 100 gr/ ekor.

Tidak sulit merawat lobster di luar habitat aslinya, agar anakan lobster nyaman pada dasar kolam misalnya ditaruh karang meniru habitat aslinya. Untuk mencegah kanibalisme saat anggota keluarga Palunuridae itu berganti kulit, dasar kolam diberi tanaman air seperti red grass. Sejatinya anakan lobster memerlukan tempat berlindung, di alam pada awal perkembangan hidupnya, udang karang bersifat bentik dan hidup merayap. Anakan udang secara naluriah selalu mendekati sebuah benda yang dapat digunakan untuk melindungi diri dari predator, meski demikian sifat itu akan hilang sejalan lobster tumbuh dewasa, artinya peluang terjadinya kanibalisme menjadi kecil, berbeda dengan lobster air tawar yang hingga besar pun tetap memiliki sifat kanibalisme tinggi.

Dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI nomor 1 tahun 2015 tentang penangkapan lobster, kepiting dan rajungan, dimana penangkapan lobster dapat dilakukan pada lobster yang berukuran diatas 8 cm dan tidak boleh menangkap lobster dalam kondisi bertelur, hal ini menjadi peluang pembudidaya untuk menangkap peluang tersebut apalagi diketahui komoditi lobster merupakan komoditi unggulan dengan pasar yang tersedia dan harga yang tinggi.

Oleh karena dipelihara di kolam, sistem filterisasi menjadi penting memikai 3 filter untuk menyaring kotoran. Pada filter pertama ditaruh pasir, filter kedua ditaruh karang-karang kecil dan filter terakhir yang menjadi sumber air tidak diberi material, tetapi menampung limpahan air dari filter ke 2 yang masuk melalui pancuran. Hal itu dilakukan untuk menaikan kadar oksigen terlarut sebelum air dialirkan kembali ke kolam. Kualitas air untuk ikan laut budidaya harus bagus, rata-rata salinitas 30-32 ppt, pH diatas 7 dan kadar oksigen berkisar 5-8 ppm, diluar angka tersebut pertumbuhan akan terganggu.

Salinitas atau kadar garam memang kunci keberhasilan pembesaran ikan laut di darat, sejatinya lobster Panulirus spp merupakan penghuni karang yang hidup pada kedalaman 3-10 m di bawah laut dengan salinitas 30-32 ppt.  Beberapa udang karang seperti jenis bambu dan pasir dapat hidup dibawah salinitas normal atau payau sekitar 28 ppt, itu lantaran kedua lobster tersebut banyak ditemukan di Pantai Selatan Jawa yang kerap mencari makan di daerah pantai.


Pembesaran lobster dilakukan di ruangan tertutup atau kolam beratap agar salinitas terkontrol, perubahan iklim mempengaruhi naik-turunnya salinitas. Di musim hujan, salinitas kolam yang kemasukan air hujan bakal turun sekitar 2-3 ppt, supaya normal perlu ditambahkan garam ikan. Sebaliknya dimusim kemarau salinitas naik karena air kolam menguap lalu garam menumbuk sehingga konsentrasi lebih pekat, untuk mengatasinya pengenceran memakai air tawar. Lobster merupakan tipe euryhalin, memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan salinitas. Toleransi itu terjadi karena lobster punya mekanisme osmoregulasi yang mengatur keluar masuknya cairan dan ion tubuh melalui insang ginjal dan usus. Sensor tentkel di kepala akan mengirim sinyal atau pesan ke otak ketika terjadi perubahan salinitas, pesan tersebut direspon dalam bentuk keluar cairan dan ion tubuh ketika salinitas turun. Jika dibiarkan kondisi itu mengakibatkan lobster dehidrasi sehingga tubuhnya lemas dan lobster malas makan, sebalinya salinitas tinggi membuat lobster menyerap air kolam.



Penyesuaian terhadap perubahan salinitas membutuhkan energi besar, lobster bakal mengambil energi yang seharusnya dipakai untuk pertumbuhan. Akibatnya pertumbuhan tidak optimal, waktu pembesaran lebih lama. Yang tak kalah pentingnya adalah oksigen terlarut (DO), tinggi rendahnya DO tergantung tingkat kepadatan lobster, lobster akan tumbuh optimal dengan DO berkisar 4-5 mg/L dengan kepadatan 15-20 ekor/m2. DO dapat ditingkatkan dengan menambah aerasi berupa air pancuran dari pipa berlubang atau memberikan arus kuat yang didorong oleh pompa berkekuatan 100 watt dalam bak filter. Diluar itu suhu kolam dalam ruangan harus stabil, sekitar 25-280C, kadar pH pun diatur 7-8, keasaman dibawah netral menyebabkan lobster rentan terserang bakteri dan cendawan.



Sumber : Majalah trubus Edisi 488-Juli 2010/XLI

(Artikel : Lobster laut ke darat & salinitas kuncinya)

Sekilas Tentang Balai benih Ikan (BBI)

Sekilas Tentang Balai benih Ikan (BBI)


Dalam rangka peningkatan produksi perikanan air tawar, penyediaan benih ikan yang cukup merupakan salah satu faktor yang menetukan bagi keberhasilan bidang perikanan budidaya. Balai benih ikan (BBI) adalah sarana pemerintah untuk menghasilkan benih ikan dan untuk membina usaha pembenihan ikan rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia. Ada BBI yang dikelola oleh pemerintah daerah tingkat I yaitu BBI sentral, dan ada yang dikelola oleh pemerintah daerah tingkat II yaitu BBI lokal. Oleh karena itu, peningkatan potensi BBI mempunyai kedudukan yang strategis dalam pengembangan budidaya perikanan air tawar umumnya.
Keadaan lingkungan dan tingkat kemajuan budidaya ikan serta pengelolaan perairan umum (danau, waduk, rawa, sungai dsb) di setiap daerah seluruh Indonesia tidak selalu sama. Tuntutan terhadap BBI di setiap daerah juga berbeda, oleh karena itu pengoperasionalan BBI dapat disesuaikan tanpa merubah prinsip yang telah digariskan. Efektivitas dan efesiensi BBI sebagai unit pelaksana teknis (UPT) daerah akan dapat tercapai bilamana ada keseimbangan  antara tuntutan kebutuhan benih di daerah setempat dengan fasilitas yang disediakan, tenaga pelaksana organisasi, dan pengelolaannya.

Persyaratan Pembangunan BBI
1)      Kriteria Teknik
a)         Ketinggian dan kemiringan tempat
Ketinggian tempat < 700 m dpl, dan kemiringan tanah berkisar antara 3-5%.
b)        Tanah
Tanah dengan struktur yang kuat, dapat menahan air (tidak porous), subur, dan tidak berbatu-batu.
c)         Sifat fisika dan kimia air
Sifat fisika meliputi : Suhu 25-300C, kekeruhan 25-100 JTU, muatan suspensi 250-100, kecerahan >10% penetrasi cahaya yang sampai ke dasar perairan.
Sifat kimia meliputi : pH 4-9, kandungan O2 >2 ppm, kandungan CO2 <25 ppm, kandungan NH3 <1.5 ppm, dsb.
d)        Sumber air
Mata air, sumur artesis, dan sumur bor. Untuk air yang bersumber dari sungai perlu dilengkapi bak pengendapan dan filter, dengan debit air berkisar 10-15 liter/ detik.

2)      Kriteria Sosial Ekonomi
a)         Daerah pengembangan budidaya ikan
b)        Persyaratan jenis ikan budidaya, mempunyai keunggulan tertentu dan spesifik lokasi
c)         Pemasaran terjamin
d)        Sarana yang mendukung untuk pengangkutan sapras dan hasil produksi BBI
e)        Lokasi BBI bukan merupakan lokasi perkembangan kota dan industri

Standar Unit BBI
BBI dibedakan menjadi 2 unit, BBI lokal dengan luas 2 Ha dan BBI sentral dengan luas 5 Ha, masing-masing BBI mempunyai tugas yang berbeda ;
1)      Tugas BBI lokal
a)         Menerapkan dan menyebarluaskan teknologi pembenihan ikan
b)        Menyediaan dan menyaluran benih ikan yang bermutu
2)      Tugas BBI sentral
a)         Menerapkan meode lapangan dari hasil penelitian teknologi pembenihan baru yang baik untuk budidaya
b)        Menyebarluaskan teknologi pembenihan ikan yang lebih menguntungkan
c)         Menyediakan dan menyebarkan jenis ikan yang baik untuk budidaya dari ukuran benih sampai induk
d)        Menyediakan dan menyalurkan benih ikan yang bermutu secara kontinyu.




Standar Perkolamanan
Meliputi ketersediaan prasarana berupa kolam induk, kolam pemijahan, kolam pendederan, kolam donor, dan kolam calon induk.
  
Standar Bak Pembenihan
Meliputi ketersediaan prasarana berupa bak pemijahan, bak penetasan, bak sortasi benih, bak pengobatan (treatment), dan bak pemberokan (penampungan).

Standar Organisasi
Pada prinsipnya BBI lokal dan sentral terdiri dari Kepala BBI yang dibantu oleh urusan/ Sub-seksi produksi, distribusi, sarana & prasarana, tata usaha, teknisi, dan supir.

Untuk memperlancar pengelolaan BBI, perlu diadakan catatan/ dokumentasi BBI yang memadai, seperti buku produksi, buku inventaris barang, buku agenda surat, buku keuangan, buku tamu dan lain-lain yang dianggap berguna. Pencatatan seperti ini penting untuk pengelolaan BBI sebagai bahan laporan, evaluasi, dan penyusunan perencanaan kerja berikutnya.

Sumber : Buku Pembenihan Ikan Air Tawar (Dedy Heryadi Sutisna &Ratno Sutarmanto)  
Penerbit Kanisius, 1995.


Maggot, pakan ikan alternatif

Maggot, pakan ikan alternatif




Hasil riset peneti di Loka riset budidaya ikan hias air tawar (LRBIHAT) Bogor, maggot alias belatung yang merupakan larva lalat Hermetia illucens kaya akan nutrisi, kandungan protein maggot mencapai 40%, kadar ini lebih tinggi daripada pakan buatan (pelet), protein penting bagi kelangsungan hidup ikan terutama untuk pertumbuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.


Hasil uji maggot sebagai pakan memakai ikan hias asal jambi Balashark (Balantiochelius melanopterus) berbobot 1-2 gr/ ekor memuaskan, asupan 70% pelet udang dan 30% maggot sebagai pakan selama 12 minggu membuat ikan balashark tumbuh 3 kali lebih besar daripada kontrol yang diberi 100% pelet udang, tingkat kelulusan hidup atau survival rate balashark naik 2 kali lipat mencapai 90% dari sebelumnya, indikatornya tergambar jelas peningkatan jumlah sel darah putih dari 2-juta sel/ mm3 menjadi 3-juta sel/ mm3 di tubuh sel darah putih adlah pasukan tempur yang menggempur penyakit. Sel darah merah yang bertugas menyebarkan sari makanan ke seluruh tubuh pun melambung dari 2.800 sel/mm3 menjadi 4.500 sel/ mm3 efeknya sari-sari makan lebih cepat terserap tubuh menjadi energi.
           

Uji lain memakai ikan konsumsi lele Clarias gariepinus memperlihatkan efek yang sama, pengujian tim Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi menunjukan penurunan signifikan nilai FCR (rasio konversi pakan), dengan memakai campuran 50% maggot pada pelet nilai FCR turun menjadi 1,16 dari sebelumnya 1,42. Disini selisih nilai FCR 0,26, artinya mencetak 1 kg lele cukup membutuhkan 1,16 kg pakan.


Peluang maggot menjadi pakan alternatif memang terbuka lebar, apalagi dapat mengantikan fungsi tepung ikan sebagai sumber prtein pada pelet. Industri pakan ikan di tanah air masih bergantung pada tepung ikan impor dari negara amerika latin seperti chili dan peru. Tepung ikan berasal dari ikan tangkapan laut yang kini jumlah penangkapan terus menurun, padahal kebutuhan pakan untuk ikan budidaya terus meningkat seiring meningkatnya konsumsi ikan akibat pertambahan jumlah penduduk. Saat ini konsumsi ikan Indonesia sekitar 15 kg/kapita/tahun, jauh dari standar FAO sebesar 25 kg/kapita/tahun.




Maggot tidak sulit dibudidayakan, media ampas tahu, tapioka dan palm kernel meal alias bungkil kelapa sawit, dapat dipakai membiakan larva lalat. Riset menunjukan bahwa dengan 3 kg bungkil kelapa sawit dapat dihasilkan 1 kg maggot, bandingkan dengan ampas tahu hanya menghasilkan 0,25-0,5 kg maggot.


Sumber : Majalah trubus Edisi 476-Juli 2009/XL

(Artikel : Maggot, pakan hebat)

Selasa, 07 Juli 2015

Labi-Labi Komoditi Yang Terlupakan

Labi-Labi Komoditi Yang Terlupakan



PENDAHULUAN
Bulus atau labi-labi (Tryonix sp) merupakan sejenis kura-kura yang sangat potensial dijadikan salah satu komoditas perikanan di Indonesia, dagingnya lezat dan dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan. Negara-negara di Asia Timur seperti Jepang, Cina Hongkong banyak mengimpor bulus dari Indonesia, para eksportir selama ini mengandalkan hasil tangkapan dari alam, padahal budidaya bulus relatif mudah dilakukan dan cukup feasible.

KEBIASAAN HIDUP
Spesies bulus yang dibudidayakan adalah Tryonix cartilageneus (The Black Rayed Soft-shell).  Spesies ini berukuran besar, panjangnya mencapai 70 cm, moncongnya lebih panjang dari diameter matanya, warna tempurungnya bervariasi.  Pada bulus muda, tempurung berwarna hijau pupus, dengan garis hitam lebar yang menyebar.  Seluruh permukaan tempurung berbintik-bintik kuning dan terdapat 1 – 2 bintik hitam tak beraturan dengan lingkaran luar kuning. 
Cangkang bagian bawah putih keabu-abuan.  Kepalanya coklat gelap atau abu-abu, dengan bintik-bintik kuning yang banyak sekali.  Bulus hidup di rawa-rawa, danau, sungai dan dapat pula hidup di kolam dengan suhu air 25-30 ºC.  Habitat yang digemari adalah perairan tergenang dengan dasar perairan lumpur berpasir, terdapat batu-batuan dan tidak terlalu dalam.


Salah satu kegemarannya adalah berjemur diatas bebatuan, bulus menyukai perairan yang banyak dihuni hewan air (molusca, ikan, krustacea dan lain-lain) atau perairan yang permukaaannnya ditumbuhi tanaman air (enceng gondok, salvinia, terarai dan sebagainya).
Bulus berkembangbiak dengan bertelur (ovipar), alat reproduksi berupa penis yang terletak pada dinding ventral rotodenum. Jantan dan betina gampang dibedakan yaitu dengan melihat bentuk ekornya.  Pada jantan, ekornya memanjang sehingga bagian ujungnya bisa terlihat dari luar cangkang, pada betina, bentuk ekor lebih pendek sehingga tidak tampak dari luar cangkang.
Kematangan kelamin terjadi pada Mei dan Juni, saat temperatur air berkisar 20ºC.  Ketika akan bertelur, bulus akan menggali lubang sedalam 20 cm, dengan dua kaki belakangnya.  Lubang tersebut digunakan untuk menyimpan telur-telur yang baru dikeluarkan.  Sebelum induknya kembali ke air, lubang ditutup kembali dengan pasir.



Bulus bertelur 3-4 kali dalam setahun, dengan interval 2-3 minggu.  Telur berbentuk bulat, berwarna putih kekuningan atau krem dengan garis tengah sekitar 1,5-2 cm.


TEKNIK BUDIDAYA
Ada 4 (empat) hal utama yang perlu disediakan dalam pemeliharaan belut, yaitu kolam pemijahan, kolam pendederan, kolam pembesaran, dan mesin penetas.

1.   Kolam Pemijahan
Lokasi kolam harus terbuka, tidak terlindung pohon/bangunan sehingga sinar matahari tidak terhalang, bagian dasar kolam diberi pasir, sedangkan dinding pematang kolam dibuat miring, berfungsi sebagai tempat labi-labi berjemur dan tempat meletakkan makanan.  Tinggi pematang 100-150 cm dan dilengkapi dengan bibir sepanjang 12 cm.
Salah satu sudut kolam pemijahan dibuat kandang tempat bertelur.  Luas kolam sekitar 700-1000 m², dengan kedalaman 40-80 cm.
Induk harus diseleksi dengan syarat sebagai berikut : sehat, tidak cacat, tidak bergerak, berat badan 1 kg.  Perbandingan antara jantan dan betina adalah 1 : 4, dengan padat penebaran tidak lebih dari 5 ekor/m².  Pakan yang diberikan berupa ikan rucah, udang air tawar, ketam, kodok, siput air dan cacing tanah.  Jumlah pakan untuk setiap ekor adalah 10-20% dari berat badannya.  Pakan diberikan dua kali, pagi dan sore.

2.   Penetasan
Bulus bertelur pada malam hari, sedangkan pengambilan telur dilakukan keesokan harinya.  Telur diseleksi terlebih dahulu, telur-telur yang telah diseleksi ditempatkan kedalam mesin penetas.  Suhu penetasan sekitar 30 ºC, kelembaban diatur dengan cara menyemprotkan air secukupnya tiap hari. 
Telur bulus biasanya akan menetas setelah 45-60 hari, benih yang baru menetas secara naluri akan mencari air.

3.   Kolam Pendederan
Kolam pendederan diperuntukkan bagi anak-anak bulus atau tukik.  Kolam ini bisa dibuat dari beton yang dilengkapi pelindung dari plastik dengan kerangka kayu.  Luas kolam 10-60 m², dengan kedalaman 40-50 cm.
Disekeliling kolam ditempatkan shelter (berupa papan atau tumbuhan air) sebagai tempat bertengger atau berjemur.  Pakan berupa cacing tubifek dan udang giling.  Jumlah pakan sebanyak 10% dari bobot badannya, dan diberikan dua kali dalam sehari.  Apabila pakan berupa ikan giling atau rebusan kuning telur ayam, maka diberikan sebanyak 20% berat badannya.  Tapi jika menggunakan pakan berupa ikan sidat cukup 5% saja.

Suhu air selama pemeliharaan tukik dipertahankan 32ºC, sehingga merangsang nafsu makan dan mempercepat pertumbuhan.  Pemeliharaan dalam kolampendederan berlangsung selama 30 hari, dan selanjutnya dipindah ke kolam pembesaran.
4.   Kolam Pembesaran
Konstruksi kolam pembesaran sama seperti kolam pemijahan, tapi ditambah dengan tempat bertelur.  Luasnya 700-1200 m² dengan kedalaman 70-100 m.  Pembesaran ini dilakukan dengan padat tebar 10 ekor/m².  Untuk mencapai ukuran konsumsi (berat 500 gram/ekor) diperlukan lama pemeliharaan selama 8 bulan.
Suhu air yang dikehendaki selama pemeliharaan sekitar 26-30ºC.  Pakan yang diberikan berupa ikan rucah dicampur bungkil jagung/kedelai.  Boleh juga ikan sidat.  Jumlah pakan 5% bobot badannya, diberikan 1 – 3 kali/hari.  Bulus dipanen dengan menggunakan jaring atau ditangkap dengan tangan setelah airnya dikuras.


** diolah dari berbagai sumber.

Sistem Produksi & Pengawasan Mutu Kerupuk Udang

Sistem Produksi & Pengawasan Mutu Kerupuk Udang



Pendahuluan
Salah satu cara pengawetan udang adalah dengan mengubah bentuk udang mentah menjadi produk kerupuk dengan penambahan bahan-bahan lainnya. Kerupuk merupakan salah satu makanan olahan tradisional yang digemari di Indonesia. Kerupuk dikenal baik disegala usia maupun tingkat sosial masyarakat, dan mudah diperoleh di segala tempat, baik toko di pinggir jalan, supermarket maupun di restoran hotel berbintang.
Kerupuk udang adalah kerupuk yang bahannya terdiri dari adonan tepung dan udang. Kerupuk udang mempunyai beberapa kualitas bergantung pada komposisi banyaknya udang yang terkandung dalam kerupuk. Semakin banyak jumlah udang yang terkandung dalam kerupuk semakin baik kualitasnya. Kerupuk udang dibuat dengan bahan dasar tepung tapioka (gandum), dari bahan tersebut ditambahkan sejumlah udang segar atau udang kering dan bumbu seperti bawang putih, bawang merah, garam, gula, dan air.

Produksi Kerupuk Udang
Kerupuk udang yang diproduksi dibuat dengan bahan baku tepung tapioka, tepung terigu, udang, telur, garam, gula, dan bumbu. Tepung tapioka adalah tepung yang diperoleh dari ubi kayu segar (Manihot utilissima) setelah melalui cara pengolahan, dibersihkan dan dikeringkan. Tapioka yang digunakan dalam pembuatan kerupuk udang harus berwarna putih, bersih, kering, tidak bau apek, tidak masam, dan murni atau tidak mengandung benda asing.
Pada dasarnya baik udang segar/ udang kering dapat digunakan sbg bahan baku pembuatan kerupuk udang. Udang segar yang bisa digunakan untuk pembuatan kerupuk udang harus memiliki ciri-ciri warna transparan, tidak berbau, dan tidak berlendir. Sedangkan udang kering yang digunakan untuk pembuatan kerupuk udang adalah tidak berjamur, berbau khas dan tidak ada kristal di permukaannya.
Telur yang ditambahkan pada pembuatan kerupuk dimaksudkan untuk meningkatkan gizi, rasa dan bersifat sebagai pengemulsi serta pengikat komponen adonan. Pemberian gula dan garam dalam pembuatan kerupuk udang  berperan sebagai penambah cita rasa dan pengawet, sedangkan bumbu meningkatkan aroma dan cita rasa kerupuk.  Tahapan pembuatan kerupuk udang sangat sederhana, yaitu meliputi persiapan bahan, pembuatan bubur adonan, pembuatan dodolan, pengukusan, pengirisan, dan penjemuran.
Pengolahan kerupuk udang berkualitas ekpor yang dilakukan oleh perusahaan telah memanfaatkan teknologi dan berskala industri yang meliputi tahapan persiapan, processing, supply, potong dan tebar, pengeringan, sortasi, dan pengemasan.  Cara produksinya harus menerapkan sistem HACCP dan menerapkan sanitasi dan hygiene perusahaan/ pekerja.



Pengawasan mutu merupakan program atau kegiatan yang tak terpisahkan dengan dunia isndustri, yaitu usaha yang meliputi proses produksi, pengolahan dan pemasaran produk.  Dalam industri pangan modern, pengawasan mutu banyak menguunakan analisa mutu berdasarkan prinsip-prinsip ilmu dan teknologi yang makin canggih, namun disamping itu penilaian secara indrawi/organoleptik tetap dipertahankan.  Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu kerupuk udang antara lain adalah kadar air, volume pengembangan dan kemasan.

Kerenyahan kerupuk sangat ditentukan oleh kadar airnya.  Semakin banyak mengandung air, kerupk udang akan semakin kurang renyah.  Kadar air yang terikat dalam kerupuk sebelum digoreng sangat menentukan volume pengembangan kerupuk matang.
Prosentase kandungan tepung lebih banyak dibanding udangnya, maka daya kembang kerupuk akan semakin berkurang.  Sebaliknya bila perbandingan tepung dengan udang seimbang maka daya kembang kerupuk akan semakin besar.


Salah satu parameter mutu kerupuk goreng adalah volume pengembangan, sedangkan volume pengembangan dipengaruhi oleh kadar air kerupuk mentah dan suhu penggorengan.  Pengemasan berfungsi untuk melindungi produk dari pengaruh lingkungan dan untuk memberi pengaruh visual.  Selain itu pengemasan juga unuk mempermudah penanganan serta distribusi dan memperpanjang masa simpan produk yang dikemas. Terdapat hubungan antara kemasan dengan mutu produk yang dikemas.  Pengemasan  akan menjaga produk dari perubahan aroma, warna, testur yang dipengaruhi oleh perpindahan uap air dan oksigen.  Kemasan yang digunakan oleh perusahaan adalah kemasan primer dan sekunder, artinya pada kemasana primer, kerupuk dikeas dalam plastik, kemudian dimasukkan kedalam karton, dan “sring”.  Setelah kemasan selesai kemudian dimasukkan kedalam karton besar, pada kemasan bagian dalam dicantumkan kode produksi dan tanggal kadaluarsa sedangkan pada bagian luar dicantumkan tanggal produksi. Hal ini dimasudkan agar pada saat pengiriman dan pemasaran dapat menerapkan sistem FIFO (first in and out), barang yang telah dikemas kemudian disusun dalam gudang.

Sumber : Penelitian Diana Nur Afifah, UNDIP Semarang.