Penyuluh Perikanan

Penyuluh Perikanan
Pulau Tinggi

Rabu, 12 Juli 2017

Mengenal Sistem Resirkulasi Dalam Budidaya Ikan

Mengenal Sistem Resirkulasi Dalam Budidaya Ikan


Pengembangan industri akuakultur untuk meningkatkan produksi dibatasi oleh beberapa faktor diantaranya adalah keterbatasan air, lahan dan polusi terhadap lingkungan. Air sebagai media pemeliharaan ikan harus selalu tersedia baik secara kuantitas dan kualitas yang layak untuk proses kegiatan budidaya ikan. Intensifikasi budidaya melalui padat tebar dan laju pemberian pakan yang tinggi dapat menimbulkan masalah kualitas air, walaupun ikan mengkonsumsi sebagian besar pakan yang diberikan tetapi prosentase terbesar diekskresikan menjadi bahan buangan metabolik (nitrogen). Usaha yang dapat dilakukan untuk menanggulangi permasalahan diatas adalah mengaplikasikan sistem resirkulasi akuakultur.

Sistem resirkulasi pada prinsipnya adalah penggunaan kembali air yang telah dikeluarkan dari kegiatan budidaya ikan, fokus utama pada sistem resirkulasi adalah pemindahan amonia zat hasil proses metabolisme ikan. Sistem resirkulasi adlah alternatif yang dapat digunakan pada budidaya ikan secara intensif dengan media filter yang berbeda yaitu zeolit, kijing taiwan (Anodonta woodiana) dan selada (Lactuca sativa). Contoh budidaya ikan yang menggunakan sistem resirkulasi yang populer adalah akuaponik. Akuaponik adalah sistem teknologi budidaya yang menggabungkan antara budidaya ikan dengan tanaman sayuran dalam satu wadah, inti dasar dari sistem teknologi ini adalah penyediaan air yang optimum untuk masing-masing komoditas dengan memanfaatkan sistem resirkulasi. Konsep sistem resirkulasi pada akuaponik adalah memanfaatkan kembali air yang telah digunakan dalam budidaya ikan dialirkan dengan pompa air melalui pipa paralon ke filter biologi (tanaman sayuran) dan fisika (batu arang) yang juga berfungsi sebagai wadah tanaman, kemudian air tersebut dialirkan kembali ke dalam kolam secara gravitasi. Akuarium bisa juga sebagai model contoh paling sederhana dalam penerapan sistem resirkulasi, dimana air akan digunakan secara kontinue dan rutin untuk budidaya ikan. Penambahan air akan dilakukan jika ketersediaan volumenya berkurang karena proses penguapan atau terjadi kebocoran, sedangkan pengurangan sejumlah volume air akan dilakukan jika kondisi kualitas air sudah terlalu jenuh atau berdampak buruk bagi kesehatan ikan budidaya.
 


Gambar Kolam akuaponik

Sistem resirkulasi mengkondisikan kotoran ikan, sisa pakan, dan senyawa serta gas hasil efek samping dari kotoran ikan dijebak dalam tangki pengendapan dan filtrasi. Setelah melalui tahapan tersebut diharapkan air yang kembali ke dalam kolam memiliki kandungan kotoran dan senyawa berbahaya yang sudah direduksi atau berkurang, sehingga bakteri pathogen tidak berkembang, kesehatan dan daya tahan ikan terjaga, nafsu makan ikan tidak menurun, dan dampaknya pertumbuhan ikan tidak terhambat dan tingkat kematian dapat diminimalisir.
Tujuan penerapan budidaya ikan sistem resirkulasi adalah sebagai berikut :
1.    Menghemat dalam penggunaan air dan lahan
2.    Tidak merubah kontur asli tanah
3.    Kestabilan sistem dari gangguan cuaca dan lingkungan  (hama dan penyakit)
4.    Menaikan efesiensi dan produktifitas dengan sistem padat tebar tinggi
5.    Pengendalian budidaya sepenuhnya pada pembudidaya, bukan kepada lingkungan
6.    Sistem resirkulasi dapat diintegrasikan dengan budiaya lain seperti budidaya cacing sutra, pembuatan pupuk organik, pertanian (akuaponik), sehingga disebut pertanian yang terintegrasi (integrated farming system).
Sistem resirkulasi memiliki batasan dan syarat yang harus dipenuhi sebagai berikut :
1.    Harus adanya sumber listrik yang cukup
2.    Memperhitungkan investasi yang dikeluarkan dan overhead terhadap harga jual komoditi
3.    Memahami sistem budidaya ikan dan cara kerja masing-masing model alat agar tidak salah dalam membuat konfigurasi alat filtrasi
4.    Sistem ini tetap masih membutuhkan sumber air


Gambar penerapan sistem resirkulasi secara sederhana

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Putra dkk (2011), menyatakan bahwa pemeliharaan ikan nila (Oreochromis niloticus) pada sistem resirkulasi berdampak positif yaitu meningkatkan laju pertumbuhan harian dan kelangsungan hidup ikan budidaya. Oleh karena itu penerapan budidaya ikan menggunakan sistem resirkulasi sangat direkomendasikan untuk pelaku usaha (pembudidaya), hal ini mengingat keterbatasan lahan dan ketersediaan air untuk kegiatan budidaya ikan dalam mendukung peningkatan produksi perikanan budidaya.

Sumber :
    1)     bp.blogspot.com
    2)     ilmuikan.com
   3)     Lele-ras-system.blogspot.com
   4)     Putra, Iskandar, dkk. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Nila Oreochromis niloticus Dalam Sistem Resirkulasi. Jurnal        Perikanan dan Kelautan 16, 1 (2011) : 56-63.  

   5)     Nugroho, Estu dan Sutrisno. 2010. Budidaya Ikan dan Sayuran dengan Sistem Akuaponik. Penebar Swadaya, Jakarta.

Minggu, 28 Mei 2017

Sekilas Mengenai Ikan Napoleon

Sekilas Mengenai Ikan Napoleon


Ikan napolen (Cheilinus undulatus) merupakan ikan karang yang berukuran besar, dengan ukuran mencapai 2 m dan berat 190 kg. Ikan yang mempunyai pola hermaprodit protogini ini banyak ditemukan di terumbu karang kawasan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Ikan napoleon merupakan salah satu spesies yang masuk daftar merah International Union for The Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), lembaga yang menetapkan potensi sumber daya sebagai batas kritis, langka dan terancam populasinya. Seperti namanya ikan karang, napolen hidup diantara terumbu karang dan mengisi sebagian besar perairan yang memiliki gugus batu karang yang besar, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya napoleon memangsa ikan-ikan kecil, kerang-kerangan, bintang laut, teripang, dan cacing laut. Ikan napolen merupakan salah satu keluarga Wrasse, dimana dalam aksi berenang mereka mirip burung ketika terbang, dengan mengepak-ngepakan sirip dada. Adapun klasifikasi ikan napolen adalah sebagai berikut :
  
Filum                      : Chordata
Kelas                      : Actinopterygii
Ordo                      : Perciformes
Famili                     : Labridae
Genus                    : Cheilinus
Spesies                   : Cheilinus undulatus
Nama Inggris          :  Napoleon Wrasse, Humphead Wrasse, Napoleonfish,    Maori Wrasse
Nama Umum          :  Ikan Napoleon Nama Lokal  : Mengkait (Kep. Natuna), Maming (Kep. Seribu dan Sulawesi), Siomay (Bangka Belitung), Bele-bele (Kep. Derawan), Lemak (Kep. Karimun Jawa), Ketipas (Kep. Anambas) dan Licin (Nunukan)


Faktor pemijahan yang rendah, tingkat kelulusan hidup (survival rate) nya Cuma 2-3%, dan eksploitasi besar-besaran menjadi penyebab utama semakin menurunnya jumlah populasi ikan yang dijuluki king of ocean ini.  Wajar jika di Indonesia larangan itu bukan Cuma penangkapan seperti yang tercantum dalam SK Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 37/KEPMEN-KP/2013 tentang penetapan status perlindungan ikan napoleon (Cheilinus undulatus), namun perdagangan ikan napoleon pun dilarang seperti yang tercantum dalam SK Menteri Perdagangan RI No.94/Kp/V/95 dicantumkan larangan mengekspor ikan napolen dlam keadaan hidup atau mati, bagian-bagiannya maupun barang-barang yang terbuat dari ikan tersebut. CITES (Convention on International Trade in endangered Species of Wild Flora and Fauna) pun memasukan ikan napolen ini sebagai satwa yang haram diperdagangkan. Namun jauh sebelumnya atas dasar ekses kerusakan habitat yang ditimbulkan oleh penangkapan yang merusak, pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 375/Kpts/IK.250/95 tentang Larangan Penangkapan Ikan Napoleon Wrasse (Cheilinus undulatus) dan dengan Keputusan Dirjen Perikanan Nomor HK.330/Dj.8259/95 tentang ukuran, lokasi dan tata cara penangkapan ikan Napoleon Wrasse yang ketika itu Dirjen Perikanan masih di bawah Departemen Pertanian.

Kasus yang pernah terjadi di perairan Indonesia, adanya sindikat mafia asal Hongkong yang menjarah ikan karang (napoleon, kerapu, dsb) dengan cara destruktif menggunakan bom potasium. Sindikat tersebut memasok bom potasium tersebut kepada nelayan lokal di pulau-plau terkecil dan memborong hasil tangkapannya, harga ikan napoleon di tingkat nelayan lokal dihargai sekitar Rp. 600.000-800.000,- per kg. Dalam sebulan kapal mafia Hongkong tersebut singgah sampai 2 kali dan membawa pulang 15 ton ikan karang hidup.

Dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang perlindungan terbatas ikan napoleon ini nantinya, kegiatan pengawasan di lapangan akan dilakukan oleh Pengawas Perikanan dan aparat pengawas lainnya, satu hal yang pasti, pengawasan terhadap aktivitas pemanfaatan ikan napoleon ini menjadi salah satu tugas pokok aparat pengawas perikanan. Dengan jumlah dan kemampuan aparat pengawas perikanan yang ada saat ini, besar keyakinan pengawasan kegiatan perikanan napoleon dapat berjalan dengan lebih baik, termasuk di jalur peredarannya. Aparat karantina ikan yang ada akan berjalan saling sinergis dengan aparat pengawasan di lapangan, karena berada dibawah satu komando Menteri Kelautan dan Perikanan.




Referensi :
Intisari Edisi Oktober 2001. Artikel I Gede Agung Yudana : Ikan napoleon si buruk rupa yang lezat. Hal. 74-79, 120-121.
https ://pecintasatwa.com. Artikel Hernda Pertiwi : Ikan napolen-raja laut yang diambang kepunahan.

https://m.detik.com. Kamis, 10 September 2015.

Rabu, 10 Mei 2017

Peningkatan Pertumbuhan Ikan Budidaya Melalui Pemotongan Sirip

Peningkatan Pertumbuhan Ikan Budidaya Melalui Pemotongan Sirip

Dalam kegiatan budidaya ikan pertumbuhan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu usaha, hal ini sangat wajar karena nilai tukar rupiah atau harga jual ditentukan oleh bobot akhir ikan yang telah dipelihara dan siap dipasarkan. Pertumbuhan itu sendiri merupakan pertambahan massa ikan yang terukur melalui panjang dan bobot tubuh ikan. Dalam rangka mendukung peningkatan produksi hasil perikanan budidaya, diperlukan upaya ekstensifikasi dan intensifikasi dari berbagai pihak yang terkait dan kompeten.

Upaya untuk memacu pertumbuhan telah banyak dilakukan, antara lain melalui manipulasi lingkungan, pemberian hormon maupun efesiensi pakan. Namun pendekatan tersebut cukup mahal dan dapat meninggalkan residu yang kurang menguntungkan bila dikonsumsi, sehingga dapat menurunkan keamanan pangan. Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha memacu pertumbuhan secara aman dan murah, yaitu melalui pemotongan sirip ekor. Namun faktor pakan juga penting dalam pertumbuhan, pakan yang diberikan hendaknya mengandung nilai gizi yang sesuai dengan kebutuhan ikan.
    
Pemotongan sirip bertujuan untuk mengurangi aktifitas gerak ikan (berenang) sehingga energi yang tersedia untuk aktifitas kehidupan lainnya, diantaranya adalah memacu pertumbuhan. Hal ini karena bagi ikan berenang merupakan aktifitas hidup yang khas dan banyak memerlukan energi. Jika ikan makan dengan suplai normal tetapi aktifitasnya berkurang maka nilai pertumbuhannya menjadi meningkat.    



  1.  Penelitian yang dilakukan oleh Margaretha Solang dan Djuna Lamondo pada ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam keramba jaring apung adalah sebagai berikut : melakukan pengujian pemotongan sirip ekor ikan nila terhadap 3 perlakuan yaitu (A) tanpa dipotong/ kontrol, (B) sirip ekor dipotong setengah dari panjang, dan (C) sirip ekor dipotong seluruhnya. Dari masa pemeliharaan 4 bulan didapatkan hasil rata-rata pertambahan berat yaitu perlakuan (A) sebesar 126.733 gr, (B) sebesar 129.931 gr, dan (C) sebesar 224.137 gr. Kemudian untuk rata-rata pertambahan panjangnya yaitu perlakuan (A) sebesar 8.41 cm, (B) sebesar 9.82 cm, dan (C) sebesar 11.25 cm.Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa pemotongan sirip ekor dapat meningkatkan rata-rata pertambahan berat dan panjang ikan nila.  
  2. Peneltian Eggar Patriono, Endri Junaidi dan Asri Setriorini pada ikan mas (Cyprinus carpio) dalam akuarium adalah sebagai berikut : melakukan pengujian pemotongan sirip ikan mas terhadap 4 perlakuan yaitu (A) tanpa pemotongan/ kontrol (B) pemotongan sirip dorsal (C) pemotongan sirip ventral (D) pemotongan sirip kaudal. Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa pertumbuhan tertinggi pada perlakuan (D) sebesar 4.23 cm, diikuti perlakuan (C) sebesar 3.76 cm, kemudian perlakuan (B) sebesar 3.64 cm, dan perlakuan (A) sebesar 3.01 cm.  

Dari kedua hasil penelitian tersebut diatas pada dua jenis ikan budidaya yang berbeda (nila dan mas) dapat disimpulkan bahwa pemotongan sirip pada ikan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan itu sendiri. Seperti disebutkan diatas bahwa pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor genetika masing-masing individu, jenis strain, jenis ikan serta faktor lingkungan terutama pakan. Pemotongan sirip pada ikan terutama sirip ekor (Kaudal) memberikan respon yang paling baik, namun hal tersebut bukan merupakan faktor penentu utama dalam pertumbuhan karena tujuan pemotongan sirip tersebut hanya untuk menimimalkan atau mengurangi aktifitas gerak dari ikan budidaya, sehingga energi yang didapatkan dari nutrisi pakan ikan diharapkan dapat dialihkan ke pertambahan panjang dan bobot ikan budidaya.

Sumber :
    1.      Solang, Margaretha dan Lamondo, Djuna. Peningkatan Pertumbuhan dan Indeks Kematangan Gonad Ikan Nila (Oreochromis niloticus L) Melalui Pemotongan Sirip Ekor. Torani (Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan) Vol. 19(3) Desember 2009 : 143-149
   2.     Patriono, Eggar, Junaidi, Endri dan Setiorini, Asri. Pengaruh Pemotongan Sirip Terhadap Pertumbuhan Panjang Tubuh Ikan Mas (Cyprinus carpio L). Jurnal Penelitian Sains Edisi Desember 2009 (D) 09: 12-13


Seri Penanganan Ikan Pasca-Panen Bagian 1 : Teknik Pengemasan Benih Ikan

Seri Penanganan Ikan Pasca-Panen Bagian 1 :
Teknik Pengemasan Benih Ikan

Pasca-panen merupakan akifitas yang dilakukan setelah pembudidaya mendapatkan produksi ikan yang diinginkan. Kegiatan pasca-panen meliputi pengemasan, pengangkutan dan penebaran benih ikan. Kegiatan penanganan ikan pasca-panen sebaiknya dilakukan secara baik dan benar, agar kualitas tetap terjaga sehingga harga jual tidak turun.
          Pada artikel seri 1 ini akan dibahas mengenai teknik pengemasan (packing) ikan hasil panen. Cara packing harus disesuaikan dengan jarak lokasi usaha ke konsumen, hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah mempertahankan keawetan ikan agar sampai ke tangan konsumen dalam keadaan aman dan baik. Teknik pengemasan ikan konsumsi sedikit berbeda dengan pengemasan benih ikan, untuk pengemasan ikan konsumsi tujuannya mempertahankan kesegaran ikan, sedangkan pengemasan benih ikan tujuannya mempertahankan daya hidup benih ikan.
Cara pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong plastik :
1.    masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih
2.    hilangkan udara dengan menekan kantong plastik ke permukaan air
3.    alirkan oksigen dari tabung dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga (air:oksigen=1:2)
4.    kantong plastik lalu diikat

5.    kantong plastik dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik
Gambar 1. Perhitungan benih ikan yang akan dipacking
Gambar 2. Pengisisan ikan dilanjutkan pengisian oksigen ke wadah plastik
Gambar 3. Pengikatan wadah plastik

Sabtu, 25 Maret 2017

Penyuluhan Perikanan Go To School


Mengantar siswa-siswi yang melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Industri (Prakerin) di BBI Sentral Sungailiat dan
BBI Lokal Pangkalpinang 

Memberikan bantuan benih ikan nila ke SMP Negeri 1 Tukak Sadai 


Penyuluhan Akuaponik di SMP Negeri 2 Tukak Sadai tanggal 10 Februari 2017

Sutar - Siswa SMK Negeri 1 Tukak Sadai melakukan pembenihan ikan hias di pekarangan rumah



Menjadi Penguji pada kegiatan Ujian Kompetensi SMK Negeri 1 Tukak Sadai 20-22 Februari 2017





Penumbuhan KUB Camar Laut di Desa Tanjung Sangkar Kec. Lepar Pongok Tanggal 24 Maret 2017

Penumbuhan KUB Camar Laut di Desa Tanjung Sangkar Kec. Lepar Pongok Tanggal 24 Maret 2017

    

Karakteristik Wilayah
Desa Tanjung Sangkar terletak di Kecamatam Lepar Pongok Kabupaten Bangka Selatan, Keadaan alam Desa Tanjung Sangkar secara topografi merupakan daerah pantai berpasir dengan jenis tanah podsolik kekuningan, kontur tanah datar sampai berbukit. Wilayah Desa Tanjung Sangkar memiliki batas-batas sebagai berikut :
1. Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa
2. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Penutuk Kecamatan Lepar Pongok
3. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Kumbung Kecamatan Lepar Pongok
4. Sebelah timur berbatasan dengan Tanjung Labu Kabupaten Lepar Pongok


Data Kependudukan
Penduduk yang berada di Desa Tanjung Sangkar terdiri dari berbagai macam suku dan etnis yaitu Melayu (pribumi), jawa, bugis. Jumlah penduduk desa Tanjung Sangkar kecamatan Lepar Pongok  pada tahun 2016 adalah sebagai berikut .

Tabel 1.  Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin tahun 2016.

No
Desa
Laki-laki
(orang)
Perempuan
(orang)
Jumlah jiwa
Jumlah KK
1
Tanjung Sangkar
1.118
1.104
2.222
724
Sumber data : Kantor Desa Tanjung Sangkar, 2016

Tabel 2. Sumber Mata Pencarian Penduduk Desa Tanjung Sangkar

No
Mata pencarian
Jumlah (Orang)
1
Petani
420
2
Nelayan
90
3
Buruh
55
4
Pedagang
62
5
PNS
16
6
Pengrajin
30
7
Montir
4
Sumber data : Kantor Desa Tanjung Sangkar, 2016

Tahapan Identifikasi
Tahap identifikasi dilakukan oleh penyuluh perikanan pada hari Rabu tanggal 15 Maret 2017 atas informasi dari Ketua LPM Desa Tanjung Sangkar dan Koordinator Penyuluh Pertanian Kec. Lepar Pongok, bahwa nelayan di Desa Tanjung Sangkar, adapun hasil identifikasi adalah sebagai berikut :
      1)    Masih ada nelayan yang belum tergabung ke dalam kelompok nelayan (KUB).
      2)    Nelayan Desa Tanjung Sangkar masih banyak yang belum memiliki kartu nelayan.       
     3)    Dari hasil wawancara 80% warga Desa Tanjung Sangkar berprofesi sebagai nelayan sambilan, dimana pada saat musim tertentu mereka akan melakukan aktifitas penangkapan ikan di laut dan di musim lain bermata pencaharian sebagai pekebun (lada, kelapa sawit dan karet).
      4)    Nelayan Desa Tanjung Sangkar merupakan nelayan kecil, dengan rata-rata kepemilikan kapal perikanan mesin 22 PK bawah 5 GT, adapun alat tangkap yang digunakan meliputi bagan, pancing, dan gill net.
      5)    Tidak semua nelayan memiliki kapal perikanan, bagi yang tidak memiliki kapal akan ikut dengan nelayan lain yang mempunyai kapal.
 


Tahapan Penumbuhan  
Bertempat di rumah Bapak Yopi (selaku Ketua LPM) Desa Tanjung Sangkar Kecamatan Lepar Pongok pada hari Jumat Tanggal 24 Maret 2017 pukul 09.15 sampai 11.30 WIB telah diselenggarakan penyuluhan melalui pertemuan kelompok. Pertemuan tersebut dihadiri oleh nelayan kecil sebanyak 10 orang, Koordinator Penyuluh Pertanian, Kepala Desa dan Babinsa, Koordinator penyuluh perikanan Kabupaten Bangka Selatan (Herman Setiawan, S.Pi), pada pertemuan tersebut disampaikan beberapa materi penyuluhan seperti :

    1.   Penumbuhan & pengembangan kelompok nelayan
Kelompok dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan dan tujuan, dimana dalam proses fasilitasinya oleh penyuluh perikanan diawali dengan identifikasi terhadap profesi & kepemilikan modal usaha, kemudian melakukan pertemuan untuk melakukan pembentukan kelompok yang akan disepakati nama dan pengurus kelompok tersebut.
Pertemuan yang berlangsung santai dan tertib tersebut menyepakati nama KUB adalah Camar Laut dan dibentuk susunan kepengurusann sebagai berikut ;
Ketua               : Bastiar
Wakil Ketua      : Martin
Bendahara        : M. Obe
Sekretaris        : Yandi
Anggota           : Yofie Wijaya, Sahiran, Suhardi, Hengki Anggoma, Pardi, Julai dan Mulandari.



  

  2.   Pembuatan kartu nelayan
Wajib bagi seorang nelayan memilik kartu nelayan, oleh karena itu pada pertemuan tersebut sekaligus sebagai pendaftaran dan kelengkapan untuk pengajuan pembuatan kartu nelayan. Adapun penerbitan Kartu Nelayan merupakan wujud penghargaan pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan terhadap profesi nelayan. Kepemilikan Kartu Nelayan, diharapkan menjadi materi kongkret proses pemberdayaan nelayan sebagai mitra pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya perikanan dan upaya peningkatan pendapatan secara berkelanjutan, efektif dan tepat sasaran. Adapun realisasi kegunaan Kartu Nelayan yang sudah dilaksanakan diberbagai daerah di Indonesia diantaranya :
v  Bukti identitas profesi nelayan diwilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 
v  Database Daerah dan Nasional perkembangan kapasitas nelayan guna pengendalian sumberdaya ikan dan penyediaan lapangan kerja nelayan secara rasional berkelanjutan.
v  Referensi data bukti identitas tepat sasaran kepada nelayan dalam pembelian BBM bersubsidi.
v  Salah satu syarat bagi nelayan agar tepat sasaran penerima program-program perikanan tangkap oleh Pemerintah.
v  Salah syarat agar tepat sasaran Penerima SeHAT (Sertifikat Hak Atas Tanah nelayan).
v  Pelaporan keselamatan kerja nelayan dan informasi cuaca melalui SMS Gateway.
v  Salah satu syarat bagi nelayan agar tepat sasaran mendapat program bimbingan teknis perikanan tangkap.
v  Salah satu syarat agar tepat sasaran bagi nelayan yg mendapatkan Asuransi Jamsostek nelayan.

  3.   Penjelasan perangkat kelembagaan kelompok
v   Stempel kelompok
Sebagai tanda legalitas dalam hal surat-menyurat maupun dokumen administrasi lainnya, stempel wajib dimiliki oleh kelompok, stempel juga membedakan kelompok yang satu dengan yang lain.
v   Plang nama kelompok
Keberadaan plang nama kelompok sebagai bentuk pengukuhan akan suatu lembaga, selain sebagai pengenal sekretariat, plang nama memiliki peran yang strategis dalam menumbuhkan image yang positif bagi instansi pembina maupun bagi anggota kelompok itu sendiri.
v   Struktur Organisasi
Keberadaan struktur organisasi kelompok akan memastikan peran dan fungsi masing-masing pengurus dan anggota kelompok, serta sebagai dasar menjalankan fungsi koordnasi di kelompok dalam menjalankan fungsi keorganisasian kelompok.  
v   Buku administrasi kelompok perikanan

Kelompok merupakan salah satu unit terkecil dari suatu kelembagaan, dimana terdapat prosedur sistem administasi yang baik dan tertib. Untuk menjadikan kelompok perikanan yang mandiri secara manajerial, penyuluh perikanan memfasilitasi pembuatan paket buku administrasi kelembagaan kelompok pelaku utama perikanan, yang nantinya dijadikan sebagai perangkat kelembagaan kelompok dalam menjalankan keorganisasian kelompoknya. Buku administrasi tersebut berisi antara lain buku data anggota kelompok, buku tamu, buku kas, buku inventarisir barang, buku notulen rapat pertemuan dan buku agenda surat keluar-masuk.