Penyuluh Perikanan

Penyuluh Perikanan
Pulau Tinggi

Rabu, 06 Desember 2017

Penanganan Rajungan (Portunus pelagicus) Skala Mini Plant

Penanganan Rajungan (Portunus pelagicus) Skala Mini Plant


Rajungan (Portunus pelagicus) termasuk hewan dasar laut yang dapat berenang ke permukaan pada malam hari untuk mencri makan. Rajungan hidup di daerah pantai berpasir lumpur dan diperairan depan hutan mangrove. Rajungan juga disebut blue swimming crab, dagingnya terbungkus oleh suatu lapisan kulit keras (cangkang/ karapas). Daging rajungan mempunyai nilai gizi rata-rata per 100 gram daging rajungan mengandung karbohidrat 14,1 gram, kalsium 210 mg, fosfor 1,1 mg, zat besi 200 SI, dan vitamin A dan B1 sebesar 0,05 mg/ 100 gram. Keunggulan daging rajungan adalah kandungan proteinnya yang tinggi sekitar 16-17 gr/100 gr daging.

Rajungan merupakan salah satu jenis organisme laut yang banyak terdapat di perairan Indonesia. Rajungan merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomis yang penting, adanya permintaan pasar yang tinggi diharapkan dapat memperkuat ekonomi masyarakat, khususnya para pelaku usaha dalam bidang perikanan khususnya skala home-industry. Keadaaan tersebut bisa berhasil jika pada proses penanganannya kualitas atau mutu kesegaran rajungan bisa dijaga, khususnya dalam penanganan rajungan selama panen, transportasi, dan pengolahan dalam industri skala rumah tangga. Ciri-ciri rajungan segar dan tidak segar disajikan dalam tabel berikut ;

Keadaan
Kondisi Segar
Kondisi Tidak Segar
Terlihat
Cerah dan cemerlang, warna belum berubah sesuai warna aslinya
Terdapat banyak warna merah jambu, terutama di sekitar kepala dan kaki, serta terdpt bnyk bintik hitam di kakinya
Mata
Mengkilap, hitam, dan bulat serta tidak terlalu menonjol keluar
Pudar dan kelabu gelap serta mononjol keluar, bola mata melekat pada tangkai mata
Kulit
Tetap melekat kuat pada daging dan tidak berlendir
Mudah terkelupas
Ruas tubuh/ kaki
Tetap terhubung kuat dan kompak serta tidak mudah terlepas
Kendur dan mudah dilepas dari kulitnya dan terasa lengket bila ditekan
Daging
Masih terasa padat dan lentur serta melekat kuat pada kulitnya
Kendur dan mudah dilepas dari kulitnya dan terasa lengket bila ditekan
Aroma
Segar dan tidak tercampur bau lainnya
Menyengat dan busuk

Sistem pedagangan rajungan segar mulai dikembangkan dalam bantuk serpihan daging untuk konsumsi langsung maupun bahan baku produk pengalengan. Proses penanganan bahan baku pada industri skala rumah tangga umumnya masih belum bisa menerapkan prinsip HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Pemahaman tentang teknik penanganan rajungan selama proses panen, transportasi, dan pengolahan oleh para pelaku usaha di skala rumah tangga diharapkan dapat menerapkan penanganan yangs sesuai dengan standar GMP dan SSOP.

Tahapan Penanganan Rajungan Sesuai SOP
Penanganan Bahan Baku
Prosedur peneriman rajungan mentah dan pencucian rajungan sebagai berikut ;
   a.    Rajungan mentah dari nelayan diterima di cooking station
  b.    Rajungan mentah disortasi, ditimbang, dan dicatat (rajungan yang tidak sesuai standar mutu, akan terjadi reject/ penolakan)
  c.     Sortasi, pemberian perlakuan dengan mengelompokan rajungan berdasarkan ukuran, jenis, dan kualitas untuk mempermudah proses penjualan
  d.    Rajungan mentah yang sudah disortasi dicuci (disiram) menggunakan air bersih yang memenuhi syarat mutu untuk menghilangkan dari kotoran, tanah, dan dari sumber kontaminan dan bakteri. Pada waktu penirisan rajungan yang telah dicuci tidak boleh kontak langsung dengan lantai dan selama proses penanganan harus memperhatikan sistem rantai dingin.


Penanganan Saat Pengukusan
  a.    Pengukusan, pemberian perlakuan pemanasan yang bertujuan untuk menghambat aktifitas atau membunuh bakteri pembusuk maupun aktifitas enzim
   b.    Pekerja menggunakan perangkat seragam, yaitu baju seragam proses, masker, penutup kepala, apron, dan sepatu boot
  c.     Dandang pemasakan, perlengkapan masak, dan ruangan produksi harus dalam kondisi bersih
  d.    Proses pengukusan menggunakan air yang memenuhi persayaratan air minum, waktu pemasakan sesuai dengan kapasitas rajungan, cara pengukusan yang baik, ketinggian air sesuai standar
Urutan cara kerja perebusan rajungan sebagai berikut :
   a.    Dandang kukus yang dilengkapi sarangan, diisi air dengan ketinggian 8-10 cm dan letakan diatas tungku sampai air mendididh
   b.    Setelah mendidih masukan rajungan ke dalam dandang dan dikukus selama 25 menit
  c.     Setelah rajungan matang, angkat dari dandang dan dilakukan proses cooling di meja dengan menggunakan kipas angin
   
Penanganan Pengupasan
   a.    Pengupasan, pemberian perlakuan memisahkan daging dari kulitnya dan mengelompokan sesuai jenisnya, cold chain system tidak boleh dilupakan selama proses pengupasan
   b.    Rajungan yang telah dinding diletakan diatas nampan dengan diberi es curah dibawahnya
   c.     Pengupasan menggunakan pisau stainless steel
  d.    Daging yang sudah dikupas dipisahkan menurut jenisnya dan ditempatkan dalam wadah (toples plastik) yang bagian abwah diberi es
   e.    Daging yang lunak (reject) dipisahkan ke bagian penimbangan
f.      Semua hasil kupasan daging diserahkan ke bagian penimbangan untuk ditimbang dan dicatat, setalah proses picking selesai ruangan dan sarana kerja dibersihkan kembali 

Penyortiran Daging
Klasifikasi daging rajungan sebagai berikut :
  1.    Jumbo lump, daging dari 2 ruas dada terakhir, dekat dengan abdomen
  2.    All lump, daging dari ruas-ruas dada kiri-kanan
  3.    Backfin, bagian dari jumbo lump dan all lump yang tidak terkopek secara utuh 
  4.    Claw, daging dari 2 kaki capit
  5.    Special, daging dari kaki jalan dan kaki renang

Pengemasan dan Penyimpanan
  a.    Pengemasan, pemberian perlakuan menempatkan daging yang telah dikupas ke dalam sebuah tempat untuk melindungi dari kotoran, bakteri, maupun kerusakan fisik
  b.    Semua daging rajungan dikemas dalam wadah plastik harus tetap dalam kondisi dingin dengan cara diberi es curah
   c.     Penyimpanan dingin, pemberian perlakuan penyimpanan daging yang telah dikemas pada suhu rendah untuk menghambat terjadinya kemunduran mutu akibat aktifitas enzim maupun bakteri.     
  d.    Penyimpanan bisa menggunakan stryrofoam atau cool box dengan menambahkan es curah untuk mempertahankan csistem rantai dingin.

Sumber : latif Sahubawa, Teknik Penanganan Hasil Perikanan. UGM Press (2016) 

Minggu, 03 Desember 2017

Manajeman Bisnis Perikanan

Manajeman Bisnis Perikanan

Usaha perikanan hendaknya dikelola secara profesional, bukan hanya sebuah usaha sampingan sebatas pemenuhan kebutuhan hidup atau tidak mengacu pada pencapaian target keuntungan (profit oriented). Untuk mencapai target keuntungan, usaha perikanan dijalankan seperti halnya sebuah perusahaan dengan kemampuan manajemen yang baik.
Fungsi Manajemen
Secara umum manajemen adalah cara mengatur satu atau beberapa faktor yang menunjang usaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam bisnis perikanan, manajemen sangat diperlukan supaya dapat berjalan lancar dan mendapat hasil yang sesuai harapan. Dalam bisnis perikanan, fungsi-fungsi itu mempunyai wujud yang berbeda, tergantung dari faktor yang mempengaruhi dan jenis komoditas yang diusahakan. Adapun fungsi-fungsi manajemen yang terdapat dalam bisnis perikanan, antara lain sebagai berikut :
1.    Perencanaan
Fungsi ini merupakan tindakan untuk menetukan sasaran dan arah yang dipilih. Didalam perencanaan dituntut adanya kemampuan untuk meramalkan, mewujudkan, dan melihat ke depan dengan dilandasi oleh tujuan-tujuan tertentu.
2.    Pegorganisasian
Fungsi ini merupakan tindakan mengatur dan membagi-bagi bidang pekerjaan antara kelompok yang ada. Setelah terbentuk kelompok yang diperlukan, fungsi pengorganisasian akan menetapkan dan memperinci hubungan yang diperlukann. 
3.    Penggerakan
Merupakan tindakan untuk merangsang anggota kelompok agar melaksanakan tugas yang telah dibebankan dengan baik dan antusias.
4.    Pengawasan  
Fungsi ini merupakan tindakan untuk mengawasi aktivitas yang terkait agar dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.


Agar manajemen berjalan dapat mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya, diperlukan saran-saran pendukung seperti man (tenaga kerja manusia), money (uang yang diperlukan dalam usaha), methods (cara untuk mencapai tujuan), material (bahan yang diperlukan), dan market (pasar, sebagai tempat untuk menjual hasil produksi). Dari uraian diatas dapat ditarik suatu pengertian bahwa manajemen merupakan suatu proses yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai tujuan melalui pemanfaatan sarana dan sumber-sumber daya. 

Aspek-Aspek Yang Memerlukan Manajemen
1.    Aspek produksi
Manajemen produksi mencakup perencanaan produksi dan pengendalian proses produksi. Selama proses produksi berlangsung, kegiatan manajemen diperlukan dalam pengambil keputusan untuk menentukan persiapan dan proses produksi, sehingga pengusaha dapat berproduksi lebih efesien.
2.    Aspek pemasaran
Manajemen pemasaran mencakup kegiatan untuk mendistribusikan hasil produksi ke tangan konsumen. Sebuah perusahaan akan menentukan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran pemasaran, melihat ada tidaknya persaingan, dan menentukan strategi pemasaran yang harus dijalankan.
3.    Aspek keuangan
Manajemen keuangan meliputi kegiatan mengelola keuangan dalam suatu usaha. didalamnya sudah termasuk cara mendapatkan dan mengalokasikan dana untuk suatu rangkaian usaha atau bisnis.
                                                                                                  

Sumber : Agribisnis Perikanan, Penerbit Penebar Swadaya, 2010.

Memilih dan Melengkapi Akuarium

Memilih dan Melengkapi Akuarium

Sudah menjadi kodrat sebagai manusia adalah berinteraksi dengan dunia di sekitar kita, hal paling sederhana yaitu memelihara ikan dalam akuarium. Mengelola akuarium menawarkan kepada kita sesuatu untuk dilakukan, sesuatu untuk dipandang, dan sesuatu untuk dirawat. Bagi bebrapa orang tertentu mengelola akuarium memiliki fungsi kesehatan, hal ini dapat menurunkan tekanan darah dan menimbulkan perasaan tenang dna merasa sehat (sugesti). Setiap orang yang hobiis akuarium dituntut untuk mampu mengkreasikan lingkungan dalan akuarium yang serupa dengan kondisi alamiah ikan, akuarium harus memiliki keseimbangan antara ikan-ikan didalamnya, tanaman, dan juga invertebrata air tawar.   
Memilih Akuarium
Sebagian besar akuarium dibuat dari kaca dengan tepian dari plastik atau bahan lain untuk memberikan sentuhan terakhir sekaligus melindungi dari tepian kaca. Penting bagi anda dalam membeli akuarium, perhatikan ada tidaknya retakan, lubang, atau cacat dan bahwa semua lapisan dalam kondisi rata dan seimbang. Apabila masih ada sisa-sisa lem silicon yang tidak rapi, bisa dibersihkan dengan silet/ cutter. Ketika mengetest ada tidaknya kebocoran, pastikan bahwa akuarium berada pada tempat yang permukaannya kukuh dan rata.
  
Melengkapi Akuarium
Akuarium yang anda miliki perlu dipercantik dengan dekorasi atau asesoris yang mendukung untuk kehidupan ikan yang dipelihara, hal ini akan menambah nilai estetika dari sebuah akuarium serta mencerminkan jiwa kreasi atau seni dari sang pemilik. Adapun perlengkapan yang perlu ditambahkan dalam sebuah akuarium adalah sebagai berikut :

Background (latar belakang), memiliki tujuan untuk memberikan keamana bagi ikan. Ada berbagai desain gambar menarik yang bisa anda dipilih seperti gambar terumbu karang, tanaman air, batu-batuan sungai, dan lain-lain. Background biasanya direkatkan dibagian luar belakang akuarium, beberapa jenis background sudah dilengkapi perekat.

Gravel (kerikil, pasir), anda dapat memilih berdasarkan komposisi, tekstur, ukuran butiran, dan warnanya. Kerikil alam biasanya dipilih orang untuk menciptakan suasana semirip mungkin dengan kondisi aslinya. Ada juga yang memilih gravel sintetis dengan berbagai macam warna tergantung kesukaan sang pemilik akuarium. Jumlah gravel yang anda butuhkan tergantung pada ukuran akuarium dan seberapa dalam anda menginginkan gravel tersebut dalam akuarium. Jika terdapat tanaman air anda perlu menempatkan gravel sedikit lebih banyak 2 inchi, sehingga akar tanaman mempunyai cukup ruang untuk tumbuh dna berkembang. Sebelum memasukan gravel ke dalam akuarium, anda terlebih dahulu mencucinya hingga bersih dari kotoran dan bahan lain yang menempel.



Pompa Udara, diperlukan untuk untuk memberikan udara dalam akuarium, udara juga mampu menghasilkan arus yang menggerakan air dari bagian dasar ke bagian atas dan memungkinkan pergantian gas saat udara dan air bercampur, singkatnya kadar oksigen terlarut dalam air akan meningkat dan kadara karbondioksida akan menurun. Anda harus memilih pompa udara berdasarkan jumlah suplai udara yang dibutuhkan.

Dekorasi Akuarium, menambahkan dekorasi akuarium seperti tanaman plastik, driftwood, dan asesoris lainnya harus disesuaikan dengan susunan dan penataan akuarium, namun tujuan utamanya tidak hilang yaitu menambah kecantikan akuarium anda tanpa mengganggu ikan peliharaan.  


Filtarsi, ada 2 jenis filtrasi yang banyak digunakan sekarang ini, satu filter mengalirkan air dari akuarium melalui tube penyedot, air mengelir melalui material filter dan dipompa kembali ke dalam akuarium melalui saluran pengeluaran. Filter jenis kedua disebut model overflow, fiter ini mengalirkan air melalui tube, kemudian mendorongnya melalui material filter, air akan kembali kedalam akuarium dengan memancar ke bawah seperti air terjun.



Pemanas, jika anda memang harus meletakan pemanas (heater) dalam akuarium (tetapi jangan langsung memanaskannya) dan biarkan selama 60 menit untuk mencapai temperatur yang sama dengan temperatur air. Ada 2 jenis pemanas yang paling mendasar, jenis pertama diletakan dibawah permukaan air dan sebagian lagi diatas, direkatkan disisi akuarium. Kedua jenis pemanas dapat bekerja dengan baik, tetapi jenis pertama dapat tersembunyi dengan lebih baik.  


Sumber :
Freshwater Aquarium Set-up and Care, Published By T.F.H  Publications, 2009.


Rabu, 22 November 2017

Galery Photo Kegiatan Audit Bantuan Sapras DJPB-KKP

Penyuluh perikanan Kabupaten Bangka Selatan mendampingi Irjen - KKP da Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Kep. Bangka Belitung dalam rangka audit bantuan sarana dan Prasarana DJPB Tahun 2016 di Dusun Pulau Tinggi Desa Penutuk Kecamatan Lepar Pongok









Sekilas Mengenai Wilayah Kerja Penyuluh Perikanan


Sekilas Mengenai Wilayah Kerja Penyuluh Perikanan

            Pendahuluan
Penyuluhan perikanan merupakan proses pembelajaran dalam rangka peningkatan kapasitas kemampuan sasaran penyuluhan perikanan yakni pelaku utama dan pelaku usaha, untuk mengorganisasikan dirinya dalam mengembangkan bisnis perikanan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya dengan tetap memperhatikan pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Penyuluhan perikanan dilaksanakan oleh petugas atau individu yang memiliki kompetensi dalam bidang penyuluhan perikanan. Menurut Undang-Undang RI Nomor 16 Tahun 2006 Tentang Sistem Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan, bahwa yang dimaksud penyuluh adalah perorangan warga negara Indonesia yang melakukan kegiatan penyuluhan. Penyuluh perikanan bisa dibedakan berdasarkan statusnya, yaitu penyuluh perikanan PNS, penyuluh perikanan swadaya, penyuluh perikanan swasta, dan penyuluh perikanan bantu (Peraturan Pemerintah RI Nomor 62 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Pelatiahn dan Penyuluhan Perikanan), namun begitu kesemuanya memiliki satu kesamaan yaitu mempunyai wilayah kerja. Wilayah diartikan sebagai suatu kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan faktor administratif dan aspek fungsional. Pengertian wilayah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah daerah yang menjadi kekuasaan dalam menjalankan tugas.
Keberhasilan penyuluhan tidak semata-mata bergantung pada bagaimana penyuluh tersebut berhasil menyampaikan pesan atau memperkenalkan inovasi teknologi rekomendasi yang akan diadopsi oleh pelaku utama, tetapi jauh lebih penting dari itu adalah penyuluh perikanan yang berperan dalam memberikan bimbingan dan pembinaan kepada pelaku utama dan pelaku usaha, dapat mengubah pengetahuan, ketrampilan dan sikap pelaku utama sebagai subjek penyuluhan dengan mengutamakan proses. Karena melalui proses tersebut pelaku utama dibentuk dalam ruang dan waktu,
Pendekatan wilayah sering digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam proses perencanaan atau penyusunan suatu program kerja dan kebijakan tertentu, contohnya Minapolitan yang merupakan konsepsi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efesiensi, berkualitas dan percepatan.
Penyuluh perikanan seharusnya menganggap wilayah kerja sebagai suatu asset  yang harus ditumbuhkembangkan. Wilayah kerja bukan hanya semata-mata sebagai isi dari dokumen SK penunjukan wilayah kerja, namun lebih dari itu sebagai suatu amanat yang diemban untuk bisa bekerja dan berkarya demi pembangunan wilayah tersebut. Peran suatu wilayah kerja jangan dilihat dari satu sisi saja misalnya sebagai benda mati (topografi, geografis, batas wilayah, jumlah dusun dan aspek kependudukan), namun lebih dimaknai secara luas dan kompleks.
Penyuluh perikanan dengan wilayah kerja Pulau Kecil
Peran suatu wilayah kerja merupakan aspek dinamis dari kedudukan atau status peyelenggaraan penyuluhan perikanan. Adapun fungsi suatu wilayah kerja bagi penyelenggaraan penyuluhan perikanan adalah sebagai berikut :
1.    Wilayah kerja sebagai lokasi satuan administrasi pangkalan (Satminkal) penyuluhan perikanan.
Wilayah kerja berperan sebagai lokasi pusat kegiatan penyelenggaraan penyuluhan, dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 27 Tahun 2013 Tentang Pemanfaatan Sarana dan Prasarana Penyuluhan Perikanan pada Pasal 6 menyebutkan bahwa standar minimal prasarana penyuluhan perikanan di tingkat kecamatan selain gedung perkantoran, berupa prasarana unit percontohan penyuluhan perikanan pada kawasan potensial perikanan. Hal ini menunjukan bahwa kawasan atau wilayah merupakan suatu dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan perikanan, disamping itu wilayah juga sebagai lokasi kunjungan lapangan penyuluh perikanan yang bersifat rutin kepada kelompok pelaku utama binaannya.
 
Penyuluh perikanan memberikan konsultasi kepada pelaku utama di Balai Penyuluhan Kecamatan
2.    Wilayah kerja sebagai kesatuan koordinasi dan komunikasi. 
Profesi penyuluh perikanan tidak hanya menyelenggarakan kegiatan penyuluhan perikanan yang bersifat teknis, namun adanya melaksanakan fungsi koordinasi dan komunikasi dengan Pemerintah Desa dan Kecamatan di wilayah kerjanya. Hal ini agar tercapainya penyelenggaraan penyuluhan perikanan yang parsitipatif dengan melibatkan segenap pihak-pihak yang berkepentingan, sehingga efesiensi dan efektifitas kegiatan bisa berjalan dengan baik.
Disamping itu juga dengan adanya sinergitas dan sinkronisasi dari berbagai instansi/ lembaga akan sangat membantu pihak Pemerintah Desa dalam melaksanakan program - program pembangunan di desanya, misalnya pengelolaan dana desa, pembangunan sarana dan prasarana serta kegiatan non-fisik yang masuk ke desa tersebut.


Penyuluh perikanan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Desa

3.    Wilayah kerja sebagai pusat interaksi sosial 
Desa merupakan wilayah yang memiliki struktur dan karakteristik potensi yang beragam, yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Seorang penyuluh perikanan dituntut harus mampu berinteraksi sosial dengan penduduk di wilayah tersebut, hal ini sangat berguna untuk membangun dan memupuk rasa solidaritas, kekeluargaan dan keakraban dengan masyarakat sekitar.
Terkadang penyuluh perikanan perlu terlibat dalam kegiatan yang bersifat sosial seperti pengajian, gotong royong, musyawarah desa, dan lain-lain. Secara tidak langsung dengan kita membaur dalam kegiatan sosial, maka masyarakat akan menganggap keberadaan kita dan mengangkat citra baik sebagai penyuluh perikanan.

Penyuluh perikanan mengikuti kegiatan sosial
4.    Wilayah kerja sebagai sentra produksi
Potensi-potensi yang ada dalam suatu wilayah akan dimanfaatkan dan dikelola oleh masyarakat sekitar untuk kesejahteraan taraf hidupnya. Salah satu tugas penyuluh perikanan adalah menyebarluaskan akses teknologi yang telah direkomendasi oleh KKP, melalui difusi teknologi ini bertujuan untuk membangunkan dan meningkatkan potensi wilayah yang produktif dalam menghasilkan suatu komoditi unggulan spesifik lokasi.
Penyuluh perikanan mendampingi pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengembangkan wilayah sebagai sentra produksi, yang akan menaikan pendapatan masyarakat dan Pemerintah setempat. Wilayah sebagai sentra produksi akan memiliki kelebihan diantaranya adalah sebagai pusat data dan informasi, mendatangkan investor, menumbuhkan tenaga kerja, dan bisa sebagai calon lokasi suatu kegiatan atau program dari Pemerintah.

Penyuluh Perikanan mendampingi usaha kelompok
5.    Wilayah kerja sebagai indikator kinerja penyuluhan perikanan 
Indikator keberhasilan penyuluhan perikanan bukan hanya tergantung pada unsur-unsur yang terkait kelembagaan kelompok pelaku utama (penumbuhan dan pengembangan kelompok, kenaikan kelas kelompok, penumbuhan koperasi sektor KP, penumbuhan UMK, dan lain-lain), wilayah kerja juga bisa dijadikan sebagai salah satu indikator kinerja penyuluh perikanan.

 Ketika seorang penyuluh perikanan mampu membangun sektor perekonomian (baik lingkup kecil atau luas) di wilayah kerjanya, maka hal tersebut akan dianggap sebagai suatu prestasi kerja yang luar biasa. Suatu lembaga atau instansi saja belum tentu mampu membangun perekonomian yang lebih baik bagi suatu wilayah walaupun dengan embel-embel bantuan sosial atau program-program kegiatan fisik yang dilaksanakan di wilayah tersebut, justru tak jarang meninggalkan kesenjangan sosial dan konflik di masyarakat.

Penyuluh perikanan melaksanakan pertemuan kelompok di wilayah kerja

Rabu, 12 Juli 2017

Mengenal Sistem Resirkulasi Dalam Budidaya Ikan

Mengenal Sistem Resirkulasi Dalam Budidaya Ikan


Pengembangan industri akuakultur untuk meningkatkan produksi dibatasi oleh beberapa faktor diantaranya adalah keterbatasan air, lahan dan polusi terhadap lingkungan. Air sebagai media pemeliharaan ikan harus selalu tersedia baik secara kuantitas dan kualitas yang layak untuk proses kegiatan budidaya ikan. Intensifikasi budidaya melalui padat tebar dan laju pemberian pakan yang tinggi dapat menimbulkan masalah kualitas air, walaupun ikan mengkonsumsi sebagian besar pakan yang diberikan tetapi prosentase terbesar diekskresikan menjadi bahan buangan metabolik (nitrogen). Usaha yang dapat dilakukan untuk menanggulangi permasalahan diatas adalah mengaplikasikan sistem resirkulasi akuakultur.

Sistem resirkulasi pada prinsipnya adalah penggunaan kembali air yang telah dikeluarkan dari kegiatan budidaya ikan, fokus utama pada sistem resirkulasi adalah pemindahan amonia zat hasil proses metabolisme ikan. Sistem resirkulasi adlah alternatif yang dapat digunakan pada budidaya ikan secara intensif dengan media filter yang berbeda yaitu zeolit, kijing taiwan (Anodonta woodiana) dan selada (Lactuca sativa). Contoh budidaya ikan yang menggunakan sistem resirkulasi yang populer adalah akuaponik. Akuaponik adalah sistem teknologi budidaya yang menggabungkan antara budidaya ikan dengan tanaman sayuran dalam satu wadah, inti dasar dari sistem teknologi ini adalah penyediaan air yang optimum untuk masing-masing komoditas dengan memanfaatkan sistem resirkulasi. Konsep sistem resirkulasi pada akuaponik adalah memanfaatkan kembali air yang telah digunakan dalam budidaya ikan dialirkan dengan pompa air melalui pipa paralon ke filter biologi (tanaman sayuran) dan fisika (batu arang) yang juga berfungsi sebagai wadah tanaman, kemudian air tersebut dialirkan kembali ke dalam kolam secara gravitasi. Akuarium bisa juga sebagai model contoh paling sederhana dalam penerapan sistem resirkulasi, dimana air akan digunakan secara kontinue dan rutin untuk budidaya ikan. Penambahan air akan dilakukan jika ketersediaan volumenya berkurang karena proses penguapan atau terjadi kebocoran, sedangkan pengurangan sejumlah volume air akan dilakukan jika kondisi kualitas air sudah terlalu jenuh atau berdampak buruk bagi kesehatan ikan budidaya.
 


Gambar Kolam akuaponik

Sistem resirkulasi mengkondisikan kotoran ikan, sisa pakan, dan senyawa serta gas hasil efek samping dari kotoran ikan dijebak dalam tangki pengendapan dan filtrasi. Setelah melalui tahapan tersebut diharapkan air yang kembali ke dalam kolam memiliki kandungan kotoran dan senyawa berbahaya yang sudah direduksi atau berkurang, sehingga bakteri pathogen tidak berkembang, kesehatan dan daya tahan ikan terjaga, nafsu makan ikan tidak menurun, dan dampaknya pertumbuhan ikan tidak terhambat dan tingkat kematian dapat diminimalisir.
Tujuan penerapan budidaya ikan sistem resirkulasi adalah sebagai berikut :
1.    Menghemat dalam penggunaan air dan lahan
2.    Tidak merubah kontur asli tanah
3.    Kestabilan sistem dari gangguan cuaca dan lingkungan  (hama dan penyakit)
4.    Menaikan efesiensi dan produktifitas dengan sistem padat tebar tinggi
5.    Pengendalian budidaya sepenuhnya pada pembudidaya, bukan kepada lingkungan
6.    Sistem resirkulasi dapat diintegrasikan dengan budiaya lain seperti budidaya cacing sutra, pembuatan pupuk organik, pertanian (akuaponik), sehingga disebut pertanian yang terintegrasi (integrated farming system).
Sistem resirkulasi memiliki batasan dan syarat yang harus dipenuhi sebagai berikut :
1.    Harus adanya sumber listrik yang cukup
2.    Memperhitungkan investasi yang dikeluarkan dan overhead terhadap harga jual komoditi
3.    Memahami sistem budidaya ikan dan cara kerja masing-masing model alat agar tidak salah dalam membuat konfigurasi alat filtrasi
4.    Sistem ini tetap masih membutuhkan sumber air


Gambar penerapan sistem resirkulasi secara sederhana

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Putra dkk (2011), menyatakan bahwa pemeliharaan ikan nila (Oreochromis niloticus) pada sistem resirkulasi berdampak positif yaitu meningkatkan laju pertumbuhan harian dan kelangsungan hidup ikan budidaya. Oleh karena itu penerapan budidaya ikan menggunakan sistem resirkulasi sangat direkomendasikan untuk pelaku usaha (pembudidaya), hal ini mengingat keterbatasan lahan dan ketersediaan air untuk kegiatan budidaya ikan dalam mendukung peningkatan produksi perikanan budidaya.

Sumber :
    1)     bp.blogspot.com
    2)     ilmuikan.com
   3)     Lele-ras-system.blogspot.com
   4)     Putra, Iskandar, dkk. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Nila Oreochromis niloticus Dalam Sistem Resirkulasi. Jurnal        Perikanan dan Kelautan 16, 1 (2011) : 56-63.  

   5)     Nugroho, Estu dan Sutrisno. 2010. Budidaya Ikan dan Sayuran dengan Sistem Akuaponik. Penebar Swadaya, Jakarta.