Penyuluh Perikanan

Penyuluh Perikanan
Pulau Tinggi

Selasa, 15 Mei 2018

Pendampingan dan fasilitasi pendaftaran KUSUKA serta sampling data produksi RTP Periode 2 Bulan April 2018 di Kecamatan Kepulauan Pongok Kab. Bangka Selatan

Pendampingan dan fasilitasi pendaftaran KUSUKA serta sampling data produksi RTP 
Periode 2 Bulan April 2018 di Kecamatan Kepulauan Pongok Kab. Bangka Selatan












Pendampingan dan fasilitasi pendaftaran KUSUKA dan sampling data produksi RTP Periode 1 Bulan April 2018

Pendampingan dan fasilitasi pendaftaran KUSUKA serta sampling data produksi RTP 
Periode 1 Bulan April 2018 di Kecamatan Kepulauan Pongok Kab. Bangka Selatan












BUDIDAYA KEPITING BAKAU


BUDIDAYA KEPITING BAKAU

Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan pantai yang mempunyai nilai ekonomis penting. Pada mulanya kepiting bakau hanya dianggap hama oleh petani tambak, karena sering membuat kebocoran pada pematang tambak,  tetapi setelah mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi, maka keberadaannya banyak diburu dan ditangkap oleh nelayan untuk penghasilan tambahan dan bahkan telah mulai dibudidayakan secara tradisional ditambak. Mengingat permintaan pasar ekspor akan kepiting bakau yang semakin meningkat dari tahun ke tahun maka usaha ekstensifikasi budidaya  kepiting bakau mulai dirintis di beberapa daerah. Sebagai komoditas ekspor kepiting memiliki harga jual cukup tinggi baik di pasaran dalam negeri maupun luar negeri. Namun tergantung pada kualitas kepiting (ukuran tingkat kegemukan).
Penggemukan kepiting dapat dilakukan terhadap kepiting bakau jantan dan betina dewasa tetapi dalam keadaan kosong/ kurus, untuk dapat menghasilkan kepiting yang gemuk diperlukan waktu yang cukup pendek yaitu 10 – 20 hari. Harga jual kepiting gemuk menjadi lebih tinggi dengan demikian dapat meningkatkan nilai tambah bagi pembudidaya.

1. Teknik Budidaya Pembesaran
Faktor teknik yang perlu diperhatikan untuk menunjang keberhasilan budidaya pembesaran kepiting antara lain :
 a.     Pemilihan lokasi
Pemilihan lokasi budidaya harus tepat secara teknis operasional dengan mempertimbangkan beberapa aspek sebagai berikut :
   1.   Mutu air cukup baik
         - Salinitas 15 – 30 ppt
                     - pH air 7 – 8
         - Suhu 25 – 30 oC
      - Kandungan DO (oksigen terlarut) > 3 ppm
 2.   Mudah diawasi
   3.   Substrat  dasar tambak adalah Lumpur berpasir
4.   Untuk system keramba harus terhindar dari pengaruh banjir dan mudah terjangkau      oleh pasang surut
   5.   Merupakan wilayah penangkapan kepiting

b.   Tempat Pemeliharaan
Tempat pemeliharaan kepiting bisa berupa kurungan bambu/ waring maupun bak beton. Untuk tempat pemeliharaan kepiting yang berasal dari kurungan bambu (keramba) disarankan berukuran 1,5 x 1 x 1 mtr atau 2 x 1 x 1 mtr, hal ini bertujuan untuk mempermudah pengelolaannya terutama pada waktu mengangkat keramba diwaktu panen.





c.   Pemilihan Benih
Kesehatan benih merupakan satu diantara factor yang menunjang keberhasilan dalam usaha penggemukan kepiting, oleh sebab itu pemilihan dan pengelolaan benih harus benar dan tepat. Kesehatan benih juga bisa dilihat dari kelengkapan kaki-kakinya. Hilangnya capit akan berpengaruh pada kemampuan untuk memegang makanan yang dimakan serta kemampuan sensorisnya. Walaupun pada akhirnya setelah ganti kulit maka kaki yang baru akan tumbuh tetapi hal ini memerlukan waktu, belum lagi adanya sifat kanibalisme kepiting sehingga kepiting yang tidak bisa jalan karena sedang ganti kulit sering menjadi mangsa kepiting lainnya. Untuk itu maka harus dipilih benih yang mempunyai kaki masih lengkap. Benih kepiting yang kurang sehat warna karapas akan kemerah-merahan dan pudar serta pergerakannya lamban.



d.   Pengangkutan Benih
Walaupun kepiting bakau merupakan hewan yang tahan terhadap perubahan lingkungan namun cara pengangkutan yang salah bisa menyebabkan kematian dalam jumlah banyak atau mengurangi sintasan. Pengangkutan benih sebaiknya dilakukan sewaktu suhu udara rendah dan kurang sinar matahari. Tereksposesnya benih kepiting ke dalam sinar matahari bisa menimbulkan dehidrasi yang pada akhirnya cairan dalam tubuh kepiting akan keluar semuanya. Sehingga menyebabkan kematian. Tingginya kematian benih setelah sampai tempat tujuan biasanya disebabkan karena benih yang dibeli memang sudah lemah akibat sudah ditampung beberapa hari  oleh padagang pengumpul. Biasanya kematian kepiting terjadi setelah hari ke – 4 dalam penampungan tanpa air. Wadah yang dipakai dalam pengangkutan kepiting sebaiknya tidak menyebabkan panas dan letakkan kepiting dalam posisi hidup. Wadah sterefoam dengan panjang 1 mtr dan lebar 60 cm dapat menyimpan benih sebanyak 100 – 150 ekor untuk benih yang diikat. Lakukan penyiraman sebanyak 2 – 3 kali penyiraman dengan air berkadar garam 10 – 25 ppt, selama pengankutan 5 – 6 jam.


2. Penebaran Benih
Penebaran kepiting dilakukan pada pagi atau sore hari pada keramba. Benih kepiting yang  ditebar berukuran berat 200 – 300 gram per ekor untuk ukuran keramba 1.5 – 2 x 1 x 1 mtr, kepadatan tebarnya kurang lebih 15 – 25 kg atau sebanyak 60 – 70 ekor.




3. Pemeliharaan
Penempatan keramba dalam petak tambak disarankan diletakkan di dekat pintu masuk/keluar air. Posisi keramba sebaiknya menggantung berjarak 15 cm dari dasar perairan yang tujuannya agar sisa pakan yang tidak termakan jatuh ke dasar perairan tidak mengendap di dalam karamba. Diusahakan seminggu 2 kali keramba dipindah dari posisi semula hal ini bertujuan agar terjadi sirkulasi/penggantian air. Kegiatan dalam pemeliharaan setelah penebaran dilakukan :
- Pemberian pakan rucah lebih diutamakan dalam bentuk segar sebanyak 5 – 10% dari berat badan dan diberikan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore/malam hari
- Penggantian air dilakukan bila terjadi penurunan kualitas air.
- Sampling dilakukan setiap 5 hari untuk mengetahui perkembangan pertumbuhan dan kesehatan kepiting . Dengan pengelolaan pakan yang cermat, cocok dan tepat jumlah maka dalam tempo 10 hari pertumbuhan kepiting bisa diketahui. 
  
 



4. Pemanenan
Pemeliharaan/penggemukan kepiting di keramba dapat dilakukan selama 15 hari, tergantung pada ukuran benih dan laju pertumbuhan. Laju pertumbuhan oleh jenis pakan yang diberikan dan kualitas air tambak. Untuk memanen kepiting digunakan alat berupa seser baik untuk tujuan pemanenan total maupun selektif. Pelaksanaan panen harus dilakukan oleh tanaga terampil untuk menangkap dan kemudian mengikatnya. Selain itu tempat dan waktu penyimpanan sebelum di distribusikan kepada konsumen menentukan kesegaran dan laju dehidrasi karena kehilangan berat sekitar 3 – 4 % dapat menyebabkan kematian.


Diolah dari berbagai sumber.


Sabtu, 05 Mei 2018

Penilaian Mutu Organoleptik Ikan Mujahir (Tilapia mossambica) Segar Dengan Ukuran Yang Berbeda Selama Penyimpanan Dingin


Penilaian Mutu Organoleptik Ikan Mujahir (Tilapia mossambica) Segar Dengan Ukuran Yang Berbeda Selama Penyimpanan Dingin  



Ikan segar adalah ikan yang masih mempunyai sifat yang sama seperti ikan hidup baik berupa bau dan tekstur. Penggunaan suhu rendah 00C pada ikan basah atau segar dapat memperpanjang proses rigormortis, dapat menekan kegiatan bakteri, kimiawi dan perubahan organoleptik. Dengan demikian penyimpanan pada suhu rendah dan waktu pengolahan cepat menentukan kecepatan penurunan mutu ikan segar setelah ikan mati.

Uji organopleptik merupakan pengujian terhadap bahan makanan berdasarkan kesukaan dan kemauan untuk mempergunakan suatu produk. Uji organoleptik atau  uji indra sensori sendiri merupakan cara pengujian dengan menggunakan panca indera manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap produk. Pengujian organoleptik dapat memberikan indikasi kebusukan, kemunduran mutu dan kerusakana lainnya dar suatu produk. Adapun tujuan uji organoleptik adalah untuk :
     1)    Pengembangan produk dan perluasan pasar
     2)    Pengawasan mutu (bahan mentah, produk dan komoditas)
     3)    Perbaikan produk
     4)    Membandingkan produk sendiri dengan produk pesaing
     5)    Evaluasi penggunaan bahan, formulasi dan peralatan baru

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurmeilita Taher di Laboratorium Penanganan dan Pengolahan Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNSRAT menunjukan bahwa penilaian mutu organoleptik ikan mujahir (Tilapia mossambica) segar untuk ukuran 500 gr dan 250 gr tidak menunjukan perbedaan yang nyata. Pada penyimpanan hingga hari ke-2 ikan masih dikategorikan segar, sedangkan pada penyimpanan hari ke-4 ikan sudah dikategorikan ditolak.

Pengujian Organoleptik
Nilai organoleptik dari ikan mujahir (Tilapia mossambica) didapat dari hasil penilaian terhadap mata, insang, tekstur dan bau.
     1)    Mata
Dari hasil penilaian organoleptik terhadap mata dari ikan mujahir dapat diperoleh nilai rata-rata untuk ukuran ikan 250 gr dan 500 gr pada penyimpanan 0 hari adalah nilai 9. Hal ini menunjukan kan termasuk dalam kategori ikan segar, karena secara organoleptik bola mata masih menonjol, pupil berwarna hitam cerah mengkilap dan kornea selaput mata masih jernih. Pada penyimpanan hari ke-2, menunjukan ikan dengan boot 250 gr memiliki nilai rata-rata 6,95 sedangkan menunjukan ikan dengan boot 500 gr memiliki nilai rata-rata 6,90. Secara organoleptik menunjukan perubahan yaitu bola mata agak cekung, warna pupil mata berubah warna keabu-abuan, dan kornea mata menjadi agak keruh. Pada penyimpanan hari ke-4 menunjukan ikan dengan boot 250 gr memiliki nilai rata-rata 1,20 sedangkan menunjukan ikan dengan boot 500 gr memiliki nilai rata-rata 1,25. Secara organoleptik menunjukan perubahan yang sangat nyata yaitu bola mata cekung dan bagian hitamnya tenggelam, pupul tampak putih susu, dan kornea mata sudah menjadi keruh.   
Dari hasil analisis organoleptik mata, dapat disimpulkan semakin lama penyimpanan maka nilai rata-rata organoleptik semakin menurun. 

     2)    Insang
Dari hasil penilaian organoleptik terhadap insang dari ikan mujahir dapat diperoleh nilai rata-rata untuk ukuran ikan 250 gr dan 500 gr pada penyimpanan 0 hari adalah nilai 9, menunjukan bahwa ikan tersebut masih segar karena insang masih berwarna merah cemerlang, bersih tanpa lendir yang berasal dari bakteri, dan bau masih segar spesifik dengan jenisnya. Pada penyimpanan hari ke-2, menunjukan ikan dengan boot 250 gr memiliki nilai rata-rata 6,60 sedangkan menunjukan ikan dengan boot 500 gr memiliki nilai rata-rata 6,70. Secara organoleptik insang mulai timbul kepudaran warna menjadi merah agak kusam yaitu dari merah muda menjadi merah cokelat, tampak lendir, dan bau mulai menusuk dimana bau asam lebih nyata. Pada penyimpanan hari ke-4 menunjukan ikan dengan boot 250 gr memiliki nilai rata-rata 1,45 sedangkan menunjukan ikan dengan boot 500 gr memiliki nilai rata-rata 1,80. Secara organoleptik insang menunjukan perubahan warna menjadi merah cokelat sampai cokelat/ kelabu, tertutup dengan lendir tebal, dan bau busuk. Secara organoleptik ikan tersebut tidak dapat dikonsumsi lagi.
Dari hasil analisis organoleptik insang, dapat disimpulkan semakin lama penyimpanan maka nilai rata-rata organoleptik semakin menurun, hal ini dikarenakan perubahana warna insang akibat adanya aktifitas peningkatan jumlah mikroba/ bakteri pada insang.

     3)    Tekstur
Dari hasil penilaian organoleptik terhadap tekstur dari ikan mujahir dapat diperoleh nilai rata-rata untuk ukuran ikan 250 gr dan 500 gr pada penyimpanan 0 hari adalah nilai 9, menunjukan bahwa ikan tersebut masih segar karena memiliki tekstur yang masih padat dan kenyal, sulit menyobek daging dan tulang belakang. Pada penyimpanan hari ke-2, menunjukan ikan dengan boot 250 gr memiliki nilai rata-rata 7,65 sedangkan menunjukan ikan dengan boot 500 gr memiliki nilai rata-rata 7,60. Secara organoleptik daging agak lunak, sisik mulai mudah lepas, tetapi bila ditekan belum ada bekas jari. Pada penyimpanan hari ke-4 menunjukan ikan dengan boot 250 gr memiliki nilai rata-rata 2,45 sedangkan menunjukan ikan dengan boot 500 gr memiliki nilai rata-rata 2,35. Secara organoleptik tekstur sangat lunak, bekas jari tidak mau hilang, sisik banyak yang lepas, dan daging mudah sobek dari tulang belakang.
Perubahan tekstur dimana daging menjadi lebih lunak terjadi apabila ikan sudah mulai mengalami kemunduran kualitas, hal ini disebabkan oleh mulai terjadinya perombakan pada jaringan otot daging oleh proses enzimatis.




     4)    Bau
Dari hasil penilaian organoleptik terhadap bau dari ikan mujahir dapat diperoleh nilai rata-rata untuk ukuran ikan 250 gr dan 500 gr pada penyimpanan 0 hari adalah nilai 9, menunjukan bahwa ikan tersebut masih segar karena memiliki bau yang khas ikan segar. Pada penyimpanan hari ke-2, menunjukan ikan dengan boot 250 gr memiliki nilai rata-rata 7,4 sedangkan menunjukan ikan dengan boot 500 gr memiliki nilai rata-rata 7,45. Secara organoleptik bau ikan segar mulai menghilang, namun belum ada bau asam. Pada penyimpanan hari ke-4 menunjukan ikan dengan boot 250 gr memiliki nilai rata-rata 1,3 sedangkan menunjukan ikan dengan boot 500 gr memiliki nilai rata-rata 1,5. Secara organoleptik sudah mulai tercium bau busuk dan amoniak yang menyengat.
Pembusukan pada ikan bersifat ketengikan oksidatif, perubahan ini terjadi akibat oksidasi lemak sehingga menimbulkan bau tengik.

      

Sumber :
   1.     Hasil Penelitian Nurmeilita Taher (Staf Pengajar FPIK-Unsrat, Manado) dalam Jurnal Perikanan dan Kelautan Volume VI Nomor 1, April 2010.
   2.     Soekarto, S. 1985. Penilaian Organoleptik  untuk Industri Pangan dan Hasil Pertanian.
   3.     https://Rifki1116058.wordpress.com

Minggu, 15 April 2018

Teknik Produksi Induk Betina Ikan Nila


Teknik Produksi Induk Betina Ikan Nila



Didalam budidaya ikan nila banyak dikembangkan berbagai teknologi dalam rangka peningkatan mutu induk ikan nila (Oreochromis niloticus), hal ini disebabkan pada saat ini telah banyak terjadi penurunan kualitas induk ikan nila, oleh karena itu kebutuhan induk bermutu sangat diharapkan dalam rangka memperoleh benih yang berkualitas.

Dalam rangka upaya untuk menghasilkan populasi induk betina sebagai pasangan induk ikan nila GESIT, maka dilakukan rekayasa teknologi untuk memperoleh induk jantan fungsional XX. Induk jantan fungsional XX ini apabila dikawinkan dengan induk betina normal (XX), maka akan memperoleh keturunan betina semua. Dengan demikian upaya pemenuhan kebutuhan induk betina akan lebih cepat.


Tahapan pertama kali yang harus dilakukan adalah membuat induk jantan fungsional XX melalui pemberian pakan yang mengandung hormon 17α methiltestosteron selama masa diferensiasi kelamin pada ikan nila. Waktu diferensiasi pada ikan nila terjadi pada saat larva umur 6-7 hari setelah menetas sampai sekitar umur 27-28 hari. Selanjutnya larva hasil sex reversal dipelihara sampai induk untuk dapat dilakukan verifikasi, verifikasi untuk mendapatkan induk jantan XX ini dilakukan dengan uji keturunan (progeny test).

  
Prosedur Kerja, tahapan pekerjaan yang dilakuakn adalah sebagai berikut :
1)    Pematangan induk
Waktu pematangan dilakukan 2 minggu, dengan pemberian pakan 3% per berat biomassa per hari
2)    Pemijahan
Pemijahan dilakukan dengan perbandingan jantan dan betina 1:3 pada bak ukuran 2x1 m2
3)    Penetasan telur
Penetasan telur dilakukan di akuarium dengan menggunakan saringan 
4)    Pendederan
Penebaran larva dalam happa dengan padat tebar 200 ekor/m2 dengan pemberian pakan 20% per berat biomassa per hari, pendederan II adalah 100 ekor/m2 dengan pemberian pakan 10% per berat biomassa per hari
5)    Pengamatan gonad
Melalui pengambilan jaringan gonad ikan sampel, pewarnaan menggunakan larutan aceto-carmine dan pengamatan dibawah mikroskop dengan pembesaran 100 kali.

Hasil Penelitian
Progeny test dilakukan dengan mengawinkan satu per satu induk nila jantan fungsional XX dengan 3 ekor betina normal. Keturunan induk jantan XX kemudian dipelihara sampai ukuran 5-8 cm dan selanjutnya dilakukan pengamatan gonad. Dari 38 ekor induk jantan hasil sex reversal, ternyata hanya menghasilkan 2 ekor induk betina XX. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas hormon ini, diantaranya jenis hormon, dosis hormon, waktu diferensiasi kelamin, metode pemberian hormon dan suhu.

Sumber :
Hasil Penelitian T. Yuniarti, Sofi Hanif, Teguh Prayoga dan Suroso (2006) di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukamandi.

Optimalisasi dan Konservasi Sumber Daya Perikanan


Optimalisasi dan Konservasi Sumber Daya Perikanan


Potensi perikanan yang cukup besar menjadikan Indonesia dijuluki sebagai negara yang kaya degan keanekaragaman (biodiversity) jenis hayati laut. Bagi Indonesia potensi ini sangata strategis didalam pembangunan. Perikanan laut adalah salah satu jenis sumber daya yang sangat penting untuk menunjang kehidupan bangsa. Sumber daya perikanan laut bersifat milik bersama atau milik umum (common property), kelemahan dari sifat milik umum ialah tidak ada batasan mengenai banyaknya upaya penangkapan ikan, selama memberikan keuntungan secara ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, tidak saja sumberdaya laut yang terkuras (biological inefficiency), tetapi juga tingkat eksploitasi perikanan akan menjadi tidak efesien lagi dari segi ekonomi (economically inefficiency). 
Oleh karena itu pendekatan pembangunan berkelanjutan dipilih dalam mengelola sumberdaya perikanan. Dengan demikian , pengelolaan sumber daya perikanan yang optimal secara biologi maupun ekonomi menjadi penting untuk menunjang tujuan pembangunan nasional. 


Konsep Bioekonomi
Salah satu konsep yang dikembangkan dalam mengelola sumberdaya perikanan adalah pemilikan tunggal (single owner), sebagai suatu untuk mendekati eksploitasi yang optimum. Maksudnya adalah bagaimana optimalisasi itu sendiri seiring dengan konservasi atau pelestarian.
Konsep kepemilikan tunggal adalah pengelolaan yang dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat atau lembaga pemerintah. Pemilik tunggal bebas memilih kebijakan yang menyangkut pengelolaan sumberdaya perikanan di wilayahnya. Aspek biologi dalam model tersebut adalah pertumbuhan cadangan sumber daya perikanan di wilayah perairan tertentu. Dengan mengetahui pertumbuhan cadangan sumber daya perikanan di suatu perairan, maka pemilik tunggal dapat menduga besarnya modal sumber daya yang dimiliki.


Hasil Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh Luki Adrianto (1993), merupakan peneliti pada PPLMLP-IPB pada Program Pengelolaan Wilayah Pesisir, konsep boekonomi ditrapkan dalam pemanfaatan kakap merah (Lutjanus sp) di Perairan Sekitar Juwana, Kabupaten Pati. Dari penelitian tersebut keluar variabel kendali hasil tangkap optimal pada discount rate 15% sebesar 1.741.927.852 kg/tahun dan upaya penangkapan optimal 400 unit kapal rawai dasar. Variabel hasil tangkap optimal tersebut digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan pengelolaan sumberdaya perikanan kakap merah. Hal ini disebabkan karena variabel kendali hasil tangkap lebih dekat dengan faktor cadangan sumber daya daripada variabel upaya penangkapan. 

Penerapan Konsep Bioekonomi
Pemilik tunggal mendapat hak untuk mengelola sumberdaya perikanan kakap merah, dapat diwakili oleh Pemerintah Daerah (Dinas yang mengangai Kelautan dan Perikanan). Hal ini mengisyaratkan adanya regulasi yang harus diterapkan agar jumlah optimum hasil tangkapan dan upaya penangkapan tetap terjaga, sehingga tidak menganggu kelestarian sumber daya kakap merah.
Kenyataannya konsep ini sulit diterapkan, kecuali kalau pihak Pemrintah Daerah bener-bener concern terhadap pelestarian sumberdaya perikanan. Lemahnya pengawasan dan kekuatan hukum yang berlaku dalam bidang perikanan merupakan kendala utama dalam penerpan konsep pemilik tunggal (single owner) diatas. Terlepas dari itu, konsep ini memiliki kelebihan dimana aspek kelestarian sumber daya perikanan dan optimalisasi keuntungan ekonomi dari pemanfaatan sumber daya perikanan diperhatikan.
 
Sumber : Review Artikel “Optimalisasi dan Konservasi Sumber Daya Perikanan” diambil dari Buku “Pengelolaan Perikanan Indonesia : Catatan Mengenai Potensi, Permasalahan dan Prospeknya”, M. Ghufran H. Kordi, Penerbit Pustaka Baru Press : 2015, Hal. 282 – 286.