Penyuluh Perikanan

Penyuluh Perikanan
Pulau Tinggi

Minggu, 18 Februari 2018

Pentingnya Es Dalam Pengawetan Produk Hasil Perikanan

Pentingnya Es Dalam Pengawetan Produk Hasil Perikanan
  


Produk perikanan salah satu produk hewani yang memiliki banyak kelebihan bila dibandingkan dengan produk hewani lainnya, diantaranya adalah kandungan protein yang cukup tinggi, daging yang mudah dicerna, kandungan mineral lainnya. Namun demikian produk perikanan juga termasuk dalam satu produk pangan yang memiliki sifat mudah mengalami pembusukan (ferisable food). Untuk mengurangi kecepatan terjadinya proses pembusukan terhadap produk hasil perikanan perlu dilakukan sebuah langkah pengawetan yang salah satunya dilakukan dalam bentuk proses pendinganinan dengan menggunakan es sesaat setelah ikan ditangkap.


Karakteristik Es
Es mempunyai daya pendinginan yang sangat besar. Tiap 1 kg es yang meleleh pada 00C dapat menyerap panas sebanyak 80 kkal untuk melelehkan menjadi air 00C dan es mempunyai titik cair pada 00C. Pendinginan ikan hingga 00C dengan es dapat memperpanjang kesegaran ikan antara 12-18 hari. Proses pendinginan terjadi apabila es bersinggungan langsung dengan ikan dimana pada saat yang bersamaan ikan memindahkan panas kepada es, dan es menerima atau menyerap panas tersebut untuk digunakan dalam pencairannya. Proses pemindahan panas akan terhenti apabila ikan telah mencapai suhu es yaitu 00C, jika es telah habis dan air lelehan es itu telah sama suhunya dengan ikan. 

Penentuan Jumlah Kebutuhan Es Dalam Proses Pendingan Ikan
Apabila tidak ada faktor-faktor lain yang memengaruhi maka panas yang perlu diambil dari ikan setara dengan panas yang diserap oleh es untuk meleleh. Jumlah panas yang terlibat didalam proses pemanasan atau pendinginan dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Q = B x PJ x Dt
Keterangan :
Q    : Jumlah panas yang ditambahkan atau diambil (kkal)
B    : Berat benda yang dipanaskan atau didinginkan (kg)
PJ   : Panas jenis (kkal/kg/00C)
-      PJ ikan berkisar 0,6 – 0,8 kkal/kg/00C sesuai dengan kandungan airnya
-      Jika kandungan air tidak diketahui sebaiknya diambil nilai tertinggi 0,8
Dt   : Selisih antara suhu awal dengan suhu akhir (00C)
L    : panas laten, yang diperlukan untuk membentukan atau melelehkan (kkal/kg)

Contoh :
Jika air seberat 1 ton dengan suhu awal 220C akan didinginkan menjadi 00C, diketahui panas jenis ikan 0,8. Berapa jumlah es yang diperlukan ?

Jawab.
Panas yang dikeluarkan dari ikan untuk mendinginkan dari 220C menjadi 00C.
Q = 1.000 x 0,8 x (22-0)
    = 17.600 kkal
Berat es yang diperlukan
Q  = B x L
 17.600 = B x 80
B   = 17.600 : 80
     = 220 kg

Kesimpulan : Untuk mendinginkan ikan seberat 1 ton dari suhu awal 220C menjadi 00C, maka diperlukan es sebanyak 220 kg.


 Sumber :
    1)     Adawyah R. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Jakarta

    2)     Bahan Tayang Direktorat Pengolahan Hasil, Ditjen P2HP. Penerapan GMP/ SSOP di UPI skala UMKM.

Rabu, 14 Februari 2018

Muhammad Zhafran Sidqi On Gallery

Muhammad Zhafran Sidqi

Father and son

Woow ...... ha..ha..h...

Kid-Rock

On The Plane

Waiting Room

Wonderfull Indonesia

Zoo .....

Tourism

Mengenal Sistem Traceability

Mengenal Sistem Traceability 

  
Sistem perdagangan pangan dunia telah menunjukan adanya dinamika perubahan gaya hidup manusia dalam mengonsumsi pangan diberbagai negara. Perubahan ini memungkinkan transportasi bahan pangan dalam jumlah yang sangat besar ke bagian dunia manapun dan memungkinkan timbulnya penyebaran penyakit karena mengonsumsi bahan pangan yang tercemar atau terkontaminasi (foodborne disease), baik pada produk pangan segar, segar beku, maupun olahan.
Salah satu konsep dan instrumentasi mutu dan keamanan pangan yang disarankan untuk mendukung dan penjamin mutu makanan adalah pemberian informasi lengkap mengenai posisi suatu produk dan jalur distribusi yang ditempuh sehingga memudahkan upaya pelacakan suatu produk. Konsep ini disebut Traceability system, menunjukan bahwa perhatian utama traceability dilandaskan pada kebutuhan untuk menarik produk pangan dari pasar, terutama terhadap produk yang diduga memiliki potensi bahaya terhadap kesehatan manusia.
  
The International Organization for Standarization (ISO) menyebutkan bahwa setiap organisasi atau industri harus membuat dan melaksanakan sistem traceability yang dapat mengidentifikasi unit produk dan kode batch produk yang menghubungkan rekaman bahan baku, proses, dan distribusi.

Manfaat penerapan sistem traceability
Perekaman data dan informasi pada setiap tahapan kegiatan penangkapan, pengolahan, distribusi, dan transportasi, termasuk penggunaan berbagai peralatan dan bahan selama kegiatan penangkapan, pengolahan, pengangkutan, perkapalan, serta pembongkaran di pelabuhan perikanan, dengan tujuan untuk mempermudah ddan memperjelas informasi kepada berbagai pihak terkait (otoritas, industri, masyarakat konsumen dan pihak terkait lainnya) sehingga mempermudah dan mempercepat pengambilan keputusan secara profesional. Pada sisi lain juga sangat penting pada pihak produsen dan konsumen terkait dengan kesehatan dan keamanan pangan untuk konsumsi manusia.

Definisi traceability menurut Codex Alimentarius (CAC/GL-2006) adalah kemampuan untuk mengikuti pergerakan dari makanan selama tahap proses produksi dan distribusi. ISO mendefinisikan traceability sebagai kemampuan untuk menelusur sejarah, aplikasi, atau lokasi dari suatu bahan serta catatan yang dapat menghubungkan produk dengan asal bahan dan sejarah proses serta distribusi produk. General Food Law Regulation 178 Uni Eropa pada Artikel 3 No. 15 mendefinisikan traceability sebagai kemampuan menelusuri makanan atau pakan atau bahan baku produksi makanan atau pakan pada setiap proses produksi dan distribusi. Uni Eropa General Food Law Regulation telah diberlakukan sejak 1 Januari 2005, regulasi ini mencakup elemen penting seperti aturan traceability dan penarikan produk berbahaya (Recall Procedures) yang terdapat di pasaran.

Tahapan Sistem Traceability
Penerapan sistem traceability dalam industri pengolahan dapat dijelaskan melalui beberapa tahapan yaitu analisis sistem, asesmen traceability, prosedur penarikan produk, serta dokumentasi dan perekaman data.
  1)    Analisis Sistem
Yaitu melakukan analisis prosedur yang ada dalam industri pengolahan ikan untuk menetapkan elemen apa yang telah ada dan memastikan langkah kunci dalam pengembangan sistem yang telah teridentifikasi.
  2)    Asesmen Traceability
Merupakan sebuah kegiatan penentuan kemampuan suatu prosedur dan perekaman yang mendukung penerapan sistem traceability di unit pengolahan.
Asesmen traceability di unit pengolahan dilakukan dengan menggunakan Traceability Decision Tree yang diawali dengan menjawab pertanyaan pada masing-masing proses produksi secara berurutan.
  3)    Prosedur Penarikan Produk
Akan terlihat manfaatnya pada saat suatu produk diketahui mengandung bahaya oleh pihak bersangkutan (penual dan pembeli), jika demikian produk akan ditarik dari peredaran maupun tahapan proses produksinya.
  4)    Dokumentasi Dan Perekaman Data
Setelah semua tahapan penerapan sistem traceability dilakukan, langkah selanjutnya adalah mendokumentasikan serangkaian kegiatan yang telah dilakukan sebagai arsip apabila kelak dibutuhkan. Rekaman mutu mewakili bukti bahwa prosedur mutu telah diterapkan pada produk dan jasa yang ditentukan. Rekaman harus aman dan sah, mudah diidentifikasi, dan mudah ditemukan.


Sumber : Latif Sahubawa, Teknik Penanganan Hasil Perikanan. UGM Press (2016). Artikel : Penanganan dan Peningkatan Mutu Produk Perikanan dengan Sistem Traceability, Hal. 131-146.

Minggu, 11 Februari 2018

Analisa Pertumbuhan Ikan Nila (Oreachromis niloticus) yang Dipelihara Pada Keramba Jaring Apung Dengan Kepadatan yang Berbeda

Analisa Pertumbuhan Ikan Nila (Oreachromis niloticus) yang Dipelihara Pada
Keramba Jaring Apung  Dengan Kepadatan yang Berbeda 

 
 Ikan Nila (Oreachromis niloticus) adalah termasuk salah satu jenis ikan air tawar yang sangat potensial dibudidayakan secara intensif di Keramba Jaring Apung (KJA). Ikan nila memiliki sifat biologis yang menguntungkan diantaranya pertumbuhan cepat, pemakan segala bahan makanan (omnivora), daya adaptasi yang luas, toleransi yang tinggi terhadap keadaan lingkungan, dan lebih tahan terhadap serangan penyakit. Keramba jaring apung berfungsi sebagai wadah untuk pemeliharaan ikan agar tidak lepas dan melindungi ikan dari serangan predator dan segala gangguan lainya. Metode pemeliharaan ikan pada keramba jaring apung merupakan teknik akuakultur yang paling produktif, oleh karena itu banyak spesies ikan-ikan ekonomis yang dibudidayakan oleh masyarakat.


Pertumbuhan ikan nila sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya kepadatan. Pengaturan padata penebaran dilakukan untuk meminimalisir kompetisi atau individu ikan salah satunya kompetisi ruang gerak. Disamping pertumbuhan yang lebih baik, padat penebaran yang tepat juga dapat menurunkan angka mortalitas, sehingga diharapkan angka kelulusanhidupnya akan tinggi.
Padat penebaran akan menentukan tingkat intensitas pemeliharaan. Semakin tinggi padat penebaran berarti semakin banyak jumlah/ biomassa ikan per satuan luas maka akan semakin tinggi pula tingkat pemeliharaannya. Pada padat penebaran yang tinggi akan berdampak terhadap besarnya kebutuhan oksigen dan pakan serta buangan metabolisme seperti feses, amoniak, dan karbodioksida yang banyak.
Padat penebaran sangatlah tergantung pada jenis ikan, ukuran tebar, lama pemeliharaan, ukuran panen, dan tujuan pembesaran. Sehingga padat tebar ikan dalam tiap petak keramba jaring apung menjadi berbeda-beda. Padat penebaran produksi ikan konsumsi berbeda dengan produksi calon induk. Secara umum padat tebar ikan untuk pembesaran ikan konsumsi lebih tinggi dibandingkan pemeliharaan calon induk atau induk ikan.

 Penelitian dilakukan oleh Erma Yunita Islami, Fajar Basuki dan Tita Elfitasari yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepadatan yang berbeda dan untuk mengetahui kepadatan yang paling baik terhadap pertumbuhan, kelulusanhidup, dan efesiensi pemanfaatan pakan (EEP) pada ikan nila larasati (Oreochromis niloticus) yang dipelihara di KJA Wadaslintang.



Penelitian menggunakan metode eksperimental yang dilakukan di lapangan, rancangan percobaan yang dilakukan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan, sbb :
A = ikan nila dipelihara pada KJA dengan kepadatan 50 ekor/ m3
B = ikan nila dipelihara pada KJA dengan kepadatan 75 ekor/ m3
C = ikan nila dipelihara pada KJA dengan kepadatan 100 ekor/ m3
1.     Bobot Individu Mutlak
Menurut Effendi (1979) pertumbuhan bobot individu mutlak dapat dihitung dengan rumus :
W = Wt – Wo
W    = Pertumbuhan bobot individu mutlak (gr)
Wt   = Bobot ikan akhir (gr)
Wo  = Bobo ikan awal (gr)
Pengamatan pertumbuhan bobot mutlak menunjukan bahwa ikan nila yang dipelihara pada KJA dengan kepadatan 50 ekor/ m3 memiliki pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 356,07±2,65, diikuti kepadatan 75 ekor/ m3 sebesar 297,45±5,13 dan kepadatan 100 ekor/ m3 sebesar 196,67±20,27.
2.     Laju Pertumbuhan Relatif
Menurut Effendi (1979) Laju Pertumbuhan Relatif dapat dihitung dengan rumus :
RGR = Wt – Wo x 100%
            Wo x t
RGR  = Relative Growth Rate (%)
Wo   = Bobo ikan awal (gr)
Wt    = Bobot ikan akhir (gr)
T       = Waktu (hari)
Berdasarkan pengamatan nilai laju pertumbuhan relatif (RGR) tertinggi pada ikan nila dengan kepadatan sebesar 5,73±0,02, diikuti kepadatan 100 ekor/ m3 sebesar 5,32±0,05 dan kepadatan 75 ekor/ m3 sebesar 4,48±0,43.
 Efesiensi Pemanfaatan Pakan
Menurut Tacon (1987) Efesiensi Pemanfaatan Pakan dapat dihitung dengan rumus :
EPP = Wt – Wo  x 100 %
                 F
EFP  = Efesiensi Pemanfaatan Pakan (%)
Wo   = Bobot ikan awal (gr)
Wt    = Bobot ikan akhir (gr)
T       = Waktu (hari)
Pengamatan Efesiensi Pemanfaatan Pakan menunjukan bahwa ikan nila yang dipelihara pada KJA dengan kepadatan 50 ekor/ m3 memiliki pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 48,68±0,22, diikuti kepadatan 75 ekor/ m3 sebesar 35,32±0,38 dan kepadatan 100 ekor/ m3 sebesar 18,18±0,26.
3.     Kelulusanhidup
Menurut Effendi (1979) Kelulusanhidup dapat dihitung dengan rumus :
SR = No x100%
        Nt
SR   = Kelulusanhidup (100%)
No  = Jumlah ikan pada awal (ekor)
Nt   = Jumlah ikan pada akhir (ekor)
Pengamatan kelulusanhidup menunjukan bahwa ikan nila yang dipelihara pada KJA dengan kepadatan 50 ekor/ m3 memiliki pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 98,62±0,61, diikuti kepadatan 75 ekor/ m3 sebesar 96,62±0,80 dan kepadatan 100 ekor/ m3 sebesar 97,67±0,38.


Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa perbedaan kepadatan memberikan pengaruh nyata pada laju pertumbuhan relatif (RGR )dan efesiensi pemanfaatan pakan (EPP), tetapi tidak berpengaruh pada kelulusanhidup.  Kepadatan yang direkomendasikan untuk pembesaran ikan nila dalam KJA adalah 50 ekor/ m3 karena memberikan hasil nilai terbaik.
Sumber :
Artikel “Analisa Pertumbuhan Ikan Nila Larasati (Oreochromis niloicus) yang Dipelihara pada KJA Wadaslintang Dengan Kepadatan Berbeda oleh Erma Yunita Islami, Fajar Basuki dan Tita Elfitasari.

Journal of Acuaculture Management and Technology, Volume 2 Nomor 4 Tahun 2013. Halaman 115-121.

Rabu, 24 Januari 2018

Pemupukan Kolam/ Tambak Ikan dan Udang

Pemupukan Kolam/ Tambak Ikan dan Udang

Pemupukan kolam/ tambak merupakan faktor penting untuk memperoleh keberhasilan dalam pembesaran ikan.  Tanpa pemupukan maka keberadaan plankton tidak bisa dipertahankan atau ditingkatkan lebih banyak lagi.  Unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh plankton untuk berkembang dalam kolam/ tambak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu unsur mutlak dan unsur tidak mutlak. Unsur mutlak adalah unsur yang harus tersedia untuk pertumbuhan pakan alami antara lain Carbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O2), Nitrogen (N2), Fosfor (P), Sulfur (S), Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg). Bila tidak tersedia, harus diberi masukan dengan cara pemupukan. 
Unsur tidak mutlak adalah unsur-unsur yang sudah cukup terbawa oleh aliran air yang masuk ke dalam kolam/ tambak, antara lain Kalium (K), Natrium (Na), Klor (Cl), Aluminium (Al) dan Silikon (Si).   
Pemberian pupuk pada tanah dasar kolam/ tambak akan memberikan pengaruh terhadap komposisi jenis pakan alami dan tingkat produktifitasnya. Tanah dan air merupakan media untuk pertumbuhan pakan alami di kolam/ tambak budidaya. Produktifitasnya ditentukan oleh kelengkapan unsur-unsur hara sebagai pembentuk komponen bahan esensial dalam pertumbuhan pakan alami tersebut. Pemupukan diperlukan untuk memberikan asupan agar unsur-unsur yang dibutuhkan tersebut menjadi lengkap. 
Pemupukan kolam pada prinsipnya adalah untuk menyuburkan air, dengan terbentuknya pakan alami dan pupuk dapat menjaga kesetimbangan air agar fluktuasi komponen perairan tidak besar. Kesuburan perairan ditandai dengan air yang telah berwarna hijau cerah, kegiatan pemupukan bertujuan antara lain :
1. Penumbuhan phytoplankton dan zooplankton
2. Menciptakan suhu, pH yang konstan dengan indikasi perubahan warna air hijau cerah
3. Menciptakan keseimbangan ekosistem bio aquatic yang berfungsi sebagai penyediaan pakan alami untuk starter maupun bakteri decomposer.

Maksud pemupukan adalah untuk mencapai kondisi media yang baik agar pakan alami dapat tumbuh secara optimal, jadi tujuan pemupukan itu adalah untuk menyediakan unsur-unsur hara, memperbaiki struktur tanah, derajat keasaman dan lain-lain.  Keberhasilan suatu pemupukan sangat ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya adalah jenis dan jumlah atau dosis pupuk serta cara pemupukannya. Penentuan dosis pupuk secara tepat pada praktiknya adalah sangat sulit karena setiap tempat mempunyai tingkat kesuburan tanah dan air yang berbeda.

Dalam kegiatan pembesaran ikan, secara umum pupuk yang sering digunakan dapat dibedakan menjadi dua yakni pupuk anorganik dan organik. Pupuk anorganik merupakan pupuk buatan pabrik dimana komposisi dan jumlah unsur-unsur penyusunnya tertentu. Beberapa keuntungan pupuk anorganik adalah menyediakan unsur dalam jumlah dan perbandingan yang diinginkan, mudah larut dan dapat langsung dimanfaatkan oleh organisme-organisme yang berklorofil setelah ditebarkan di air. Jenis pupuk anorganik dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Beberapa Jenis pupuk an-organik
Jenis pupuk an-organik
Komposisinya
Reaksi pada air
1. Pupuk Nitrogen



a.     Pupuk Nitrat
Kalsium nitrat Ca(NO3)2
Kadar N 15,5%
Basa
b.     Pupuk Amoniak
Amonium sulfat (NH4)2
Kadar N 21%
Asam
c.     Amoniak cairan
NH3
Kada N 46%
Basa
2. Pupuk Fosfat



a.     Triple super phosphate (TSP)
Super fosfat Ca(PO4)2
Kadar P2O5 36-43%
-
b.     Fosfat api
Phenania fosfat
Ca Na PO4
-
-
3. Pupuk Kalium



a.     Kalium sulfat
-
Kadar K2SO4 44-45%
-
b.     Kainit
-
Kadar KCL 20-30%
-
c.     Kalium magnesium sulfat
Kalium klorida (KCL)
Magnesium sulfat (MgSO4)
Kadar K 10%
kadar Mg 5%
-
4. Pupuk Campuran



a.     Pupuk NP
Fosfat amonium nitrat
NP 20+20 (kadar N 20% kadar P2O5 20%
Asam
b.     Pupuk PK
P2O, K2O
PK 25+25
Basa
c.     Pupuk NPK
-
NPK 17+17+17
Asam
5. Pupuk Kalsium



a.     Kalsium oksida (kapur akar)
CaO
-
Basa
b.     Kalsium hidroksida (kapur mati)
Ca(OH)2
-
Basa
c.     Kalsium karbonat (batu kapur)
CaCO3
-
Basa
d.     Kalsium silikat
Ca Si O3
-
Basa

Dari tabel tersebut di atas dapat dijelaskan, sebagai contoh untuk pupuk Amoniak cair (pupuk tunggal) dimana komposisi kadar N nya 46%, berarti apabila dalam satu kuintal amoniak cair (Urea), mengandung unsur hara Nitrogen 46 kg.  Pupuk NPK 17 – 17 – 17 artinya 1 kuintal pupuk NPK mengandung unsur hara nitrogen 17 kg, fosfor 17 kg, dan Kalium 17 kg. 
Fungsi unsur hara yang terkandung dalam pupuk anorganik adalah sebagai berikut :
Pupuk Urea yang mengandung unsur hara N (Nitrogen), berfungsi membentuk hijau daun dan memperlancar proses fotosintesis fitoplankton yang ada dalam kolam/ tambak,
Pupuk TSP mengandung unsur hara fosfor (P2O5), berfungsi :
1)    Merangsang tumbuhnya plankton,
2)    Menambah sumber protein pada plankton,
3)    Menambah daya tahan ikan terhadap serangan penyakit,
a)    Menjaga kondisi kolam/tambak agar tetap stabil kesuburannya. 
Pupuk ZA mengandung unsur hara Kalium (K2O), berfungsi :
1)    Membentuk karbohidrat, lemak, protein pada fitoplankton dari hasil fotosintesis,
2)    Menambah daya tahan ikan terhadap serangan penyakit,
3)    Menetralkan pH air. 
Dalam budidaya ikan di kolam/tambak, aplikasi dosis pupuk anorganik yang umum adalah :
1)    Urea  = 100 kg/ha/musim atau 10 gram/m2/musim.
2)    TSP = 150 kg/ha/musim atau 15 gram/m2/musim.
3)    ZA = 50 – 100 kg/ha/musim atau 5 – 10 gram/m2/musim.
Namun pada beberapa kegiatan budidaya ikan di kolam/tambak, aplikasi pupuk anorganik dikombinasikan dengan pupuk organik, sehingga dosisnya jadi lebih sedikit. 
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan nabati dan hewani atau dari sisa sampah buangan dari rumah tangga. Beberapa keuntungan penggunaan pupuk organik yakni memperbaiki struktur tanah, terutama untuk tanah berpasir, menaikkan daya serap tanah terhadap air, mengandung unsur hara yang lengkap (C, H, O, N, P, K, S, Na, Ca, Mg, Mn, Cu, Al, Si, Zn).
Berbagai pupuk organik yang biasa digunakan adalah pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, dan pupuk Bokashi.
Pupuk kandang merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari kotoran hewan seperti kotoran ayam, kerbau, kambing, kuda dan lain-lain. Kualitas pupuk kandang sangat ditentukan oleh jenis hewan dan jenis makanan hewan tersebut. Kedua komponen tersebut sangat menentukan komposisi penyusun pupuk kandang. 
Tabel 2. Unsur hara pada pupuk kandang
Hewan
H2O (%)
Pupuk kandang (kg/ ton)
N
P
K
Sapi perah
85
22
2,6
13,7
Sapi daging
85
26,2
4,5
13
Unggas
62
65,8
13,7
12,8
Babi
85
28,4
6,8
19,9
Domba
66
50,6
6,7
39,7
Kuda
66
32,8
4,3
24,2

Pupuk yang digunakan berasal dari pupuk kandang atau kotoran hewan. Pupuk kandang digolongkan dalam dua jenis yaitu pupuk yang bersifat panas dan pupuk bersifat dingin, pupuk kandang bersifat panas dinamakan demikian karena jenis pupuk ini lebih cepat terurai oleh jasad renik dan menimbulkan panas, seringkali penguraian tersebut tidak terjadi secara sempurna atau tidak terurai dengan baik yang merubah bahan organik sisa tersebut menjadi gas, dampaknya terhadap kondisi kolam adalah timbulnya panas berlebih yang dapat membunuh ikan. Pupuk kandang panas sebaiknya harus melalui dekomposisi secara baik yaitu melalui jalan penjemuran sampai kering. Kotoran kambing, domba dan kuda termasuk kedalam jenis pupuk panas. Pupuk yang kedua adalah pupuk dingin seperti kotoran babi, sapi, kotoran ayam dan kerbau. Jenis pupuk dingin mengalami penguraian secara lambat yang menghindarkannya dari panas berlebih, tetapi sebagaimana pupuk panas, pupuk dingin pun harus mengalami dekomposisi secara baik.

Akhir-akhir ini penggunaan pupuk kandang dari kotoran ayam pedaging dan petelur oleh Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan, dinyatakan dilarang digunakan.  Hal ini disebabkan karena kotoran ayam pedaging dan petelur mengandung bahan-bahan kimia beracun dari obat-obatan baik yang termakan maupun yang disemprot sebagai bahan desinfentan.  Bahan-bahan ini kemungkinan bisa termakan oleh ikan, yang pada gilirannya apabila dikonsumsi oleh manusia akan menyebabkan keracunan atau merusak sistem organ pada manusia.  Sebagai contoh bahan kimia beracun yang berbahaya bagi manusia ialah antibiotik yang apabila terdapat pada tubuh ikan dan termakan, dapat mengakibatkan kerusakan ginjal. 
Pupuk hijau merupakan pupuk organik yang berasal dari bahan-bahan nabati. Jenis pupuk hijau yang terpenting digolongkan sabagai berikut :
- Pupuk hijau Leguminosae artinya berasai dari tanaman Leguminosae. Pada akar dikotil tanaman Leguminosae terdapat bakteri yang dapat mengikat nitrogen dari udara. Bakteri ini disebut bakteri kulit akar. Contoh tanaman golongan ini yaitu Rhizobium radicicola & orok-orok (Crotalaris sp).
- Pupuk hijau Non Leguminosae berasal dari tanaman yang tidak mengikat Nitrogen.
Misalnya pupuk hijau dari tanaman gandum dan rerumputan.
Kompos, sejenis pupuk yang sebagian besar terdiri dari sampah buangan organik yang telah mengalami proses pengeraman dalam suhu yang tinggi, berwujud seperti tanah yang banyak mengandung humus.
Pupuk Bokashi disamping mengandung unsur hara makro maupun mikro yang banyak, bokashi juga mengandung mikroorganisme yang menguntungkan yang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.  Dalam perkembangannya Bokashi dapat dibuat dari bahan organik  seperti;  dedak, ampas kelapa, tepung ikan, sampah kota, kotoran ternak dan lain-lain. Bahan-bahan ini difermentasikan dengan mikroorganisme sebagai pelaku utama dalam fermentasi tersebut yaitu Efective Mikroorganism (EM4)
Pembudidaya kampung lele menggunakan pupuk kotoran ayam, pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam memilki kadar hara P yang lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk kandang kotoran hewan yang lain. Kotoran ayam lebih cepat terdekomposisi sehingga lebih cepat memberikan respon utk terbentuknya plankton dlm air yg digunakan sbg pakan alami oleh ikan.
Pemupukan dilakukan 2 hari sebelum penebaran benih dengan dosis tiap kolam bervolume 60 m3, maka pupuk setengah karung ± 25 kg pupuk. Pemupukan tidak harus dilakukan 2 hari sebelum penebaran jika kondisi mendesak misal karena benih sudah ada dan siap untuk ditebar maka sebagai starter awal untuk benih maka menggunakan 1/3 dari air budidaya sebelumnya. Pemberian pupuk dapat dilakukan dengan menebarkan langsung ke air di dalam kolam atau pupuk ditaruh dalam wadah yang memiliki ventilasi udara misal karung pakan, plastik yang di bolong kecil-kecil.

Pemupukan dalam satu kali budidaya dilakukan satu kali pemberian pupuk yaitu pada awal budidaya, jika setelah pupuk tidak berfungsi lagi di dalam kolam untuk menumbuhkan pakan alami, maka didalam kolam sudah dapat tergantikan oleh feses ikan lele sendiri. Feses merupakan limbah organik yang bersifat biodegradable, yaitu senyawa yang mudah diuraikan oleh mikroorganisme. Pemberian pupuk dapat dilakukan kembali pada saat musim hujan jika terjadi hujan lebat karena apabila habis hujan lebat, biasanya air dasar hangat, air permukaan dingin dan pH nya rendah, penebaran pupuk yang bereaksi asam sangat membantu agar ikan tidak stress.


Teknik Pemupukan
Penentuan jumlah pupuk yang akan ditebarkan dalam areal budidaya sangat penting, begitu pula jenis pupuknya. Banyak faktor yang mempengaruhi penentuan jumlah pupuk dan jenisnya, diantaranya adalah kondisi tanah dan air baik sifat fisik, kimiawi dan biologi. Setelah ditentukan jumlah pupuknya, langkah selanjutnya adalah merencanakan tata cara atau teknik pemupukan yang akan dilakukan. Kekeliruan dalam tata cara pemupukan dapat menimbulkan pengaruh yang merugikan atau tidak tercapainya tujuan pemupukan tersebut.
Salah satu contoh teknik pemupukan yang dilakukan dalam budidaya ikan di kolam/tambak sebagai berikut :
1)    Mula-mula tanah dasar kolam/tambak dibiarkan dijemur sampai kering atau retak—retak, lalu cangkullah untuk menggemburkan tanah dasar kolam/tambak.
2)    Sebarkan pupuk organik, seperti pupuk kandang/kompos kering sebanyak 2000 – 3000 kg/ha.
3)    Metode pemberian pupuk dapat dilakukan dengan cara ditebarkan, (dionggokkan) di dasar kolam/tambak atau digantungkan dalam karung di badan air. Pupuk diaduk rata kemudian disebar ke seluruh permukaan tanah dasar kolam/tambak.
4)    Masukkan air ke dalam kolam/tambak dengan ketinggian 20 – 30 cm, kemudian dibiarkan selama 3 - 5 hari. Hal ini dimaksudkan agar proses fotosintesis berjalan dengan maksimal sehingga pakan alami dapat tumbuh dengan baik.
5)    Selanjutnya dapat ditambah pupuk anorganik yaitu Urea + TSP dengan perbandingan 2 : 1 atau sebanyak 50 kg/ha : 25 kg/ha
6)    Apabila pada petakan pentokolan ketinggian air selanjutnya dapat dinaikkan secara perlahan-lahan sampai ketinggian 40 -60 cm, dan untuk petak pembesaran akan terus dinaikkan dan dipertahankan pada ketinggian 75 -100 cm.
7)    Biasanya 7 – 10 hari setelah pemupukan warna air akan berubah air sudah hijau terang atau hijau muda menandakan pakan alami telah tumbuh dan benih sudah dapat ditebar.
8)    Untuk menjaga pertumbuhan pakan alami bisa berjalan terus secara teratur, pemupukan dapat diulang 3 – 4 kali selama masa pemeliharaan benih. Pupuk lanjutan cukup dengan pemberian Urea dan TSP yang dicampur dengan perbandingan 2 : 1 atau sebanyak 25 kg/ha : 12,5 kg/ha setiap pemberian.

Sumber :
1.      Artikel “ Pemupukan Kolam Budidaya Ikan Air Tawar” oleh ivan-setyawan.blogspot.com diposting tanggal 13 September 2010
2.      Buku Teks Bahan Ajar Siswa : Teknik Pembesaran Ikan. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Hal. 102 – 116.