Penyuluh Perikanan

Penyuluh Perikanan
Pulau Tinggi

Rabu, 26 Maret 2014

Manajemen Pakan Ikan


MANAJEMEN PAKAN DALAM BUDIDAYA IKAN


Seperti halnya manusia, ikan juga memerlukan pakan yang cukup untuk pertumbuhan, perkembangbiakan dan kelangsungan hidupnya. Kriteria pakan yang cukup ini dilihat dari segi kualitas dan kuantitasnya. Pakan yang berkualitas ditentukan oleh kandungan gizi yang ada di dalamnya, seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral dengan komposisi yang tepat dan seimbang.
Pemberian pakan yang benar secara kualitas maupun kuantitas dapat memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan produksi ikan. Agar memperoleh pertumbuhan yang optimal dan efisien dalam penggunaan pakan, maka keseimbangan protein perlu diperhatikan. Apabila protein dan energi tidak seimbang, maka akan  mempengaruhi ikan secara langsung dan akan mempengaruhi kualitas air, sebab sisa pakan akan mengalami degradasi dan mengakibatkan pencemaran lingkungan yang akan mengganggu kesehatan ikan.
Benih Ikan Lele

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen pakan antara lain:
1.    Ukuran pakan disesuaikan dengan bukaan mulut ikan
2.    Tidak memberikan pakan yang kadaluarsa, berjamur atau beracun
3.    Takaran ransum harian harus sesuai dengan anjuran, yaitu 3-5 % per hari dari bobot total ikan
4.    Frekuensi pemberian pakan 2-3 kali sehari
5.    Pemberian pakan disebar secara merata diseluruh atau sebagian permukaan kolam
6.    Pakan harus memenuhi kebutuhan nutrisi harian ikan

ALTERNATIF PEMBERIAN PAKAN

·                Pemberian Vitamin/Probiotik
Vitamin merupakan senyawa organik yang sangat diperlukan ikan dalam jumlah yang sedikit, tetapi tidak dapat disintesis sehingga harus tersedia dalam komposisi pakan. Pemberian vitamin adalah untuk meningkatkan sistem kekebalan (daya tahan) tubuh ikan terhadap penyakit, menambah nafsu makan dan  mempercepat proses penyembuhan luka. Dosis pemberian vitamin 500-1000 mg/kg pakan.
Contoh Probiotik Ikan 
·                Penyediaan Pakan Alami
Ketersediaan pakan alami merupakan faktor pembatas bagi kehidupan ikan di kolam. Untuk mengembangkan pakan alami dapat dilakukan dengan proses pemupukan dan pengapuran yaitu menggunakan kotoran kandang dosis 250-500 gr/m2, TSP 10 gr/m2, urea 10 gr/m2 dan kapur 25-100 gr/m2.
Azolla microphylla
 
Cacing sutra

·                Pakan Tambahan (Pakan Hijauan)
Adalah pakan yang berasal dari tanaman segar, baik berupa daun, tangkai daun maupun pucuk tanaman yang masih muda, misal daun talas, sente, singkong, rami, kangkung air dan enceng gondok.  Kandungan senyawa flavonoid, polifenol dan saponin pada pakan sifatnya dapat mendongkrak daya tahan tubuh ikan terhadap serangan penyakit.
Daun sente untuk ikan gurame
·                Ikan Rucah
Adalah ikan hasil sampingan yang biasanya secara ekonomis nilanya rendah.  Pemberian ikan rucah harus sesuai dosis dan aturan, agar tidak terjadi permasalahan pada kualitas air kolam ikan.
·                Limbah Dapur
Merupakan sisa dari kegiatan di dapur misalnya , baik berupa sayuran, buah maupun daging.  Contoh sisa dapur yang dapat dijadikan pakan tambahan seperti kulit kentang, wortel, kulit insang, kulit pepaya, ampas kelapa dan air cucian beras.
·                Sumber Protein Lainnya
Sumber protein lainnya yang dapat dijadikan alternatif pemberian pakan adalah bekicot, keong mas, organ dalam (usus) ayam potong.  

 MENENTUKAN DOSIS PAKAN PER HARI

Agar pertumbuhan ikan baik, harusnya secara rutin berat badan ikan harus selalu dikontrol.  Caranya, diambil 10 contoh ikan dari kolam, lalu ditimbang satu per satu, berat  total dibagi dengan 10 sehingga diperoleh berat rata-rata per ekor. Jumlah berat total rata-rata ikan dikalikan jumlah ikan yang dipelihara dikolam (tentu telah diketahui pada saat penebarannya), kemudian dikalikan dosis ransum harian pakan ikan.

Sebagai contoh, pada awalnya ikan yang disebar di satu kolam sebanyak 500 ekor ikan dengan berat rata-rata 30 gr/ekor dengan demikian berat totalnya 500x30 gr = 15.000 gr (15 kg).  Oleh karena itu pakan yang harus diberikan adalah 5%x15.000 gr = 750 gr (7,5 ons) per hari.

Pemberian pakan pada ikan
** Herman Setiawan, S.Pi



Mengenal Ikan Lele Sangkuriang


Mengenal Ikan Lele Sangkuriang



            Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1).Dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi
 2).Teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat
 3).Pemasarannya relatif mudah dan
4).Modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.
            Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) dari Benua Afrika ke Indonesia pada tahun 1984. Karena memiliki berbagai keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain pertumbuhan lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.
            Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung dengan  pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversion Rate).


            Sebagai upaya perbaikan kualitas ikan lele dumbo pihak BBPBAT (Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar) Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru bernama lele “Sangkuriang”. Induk lele sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Jantan F6 dipilih berbobot 0,5-0,75 kg dengan panjang 30-35 cm. Betina F2 bobotnya 0,7-1 kg sepanjang 25-30 cm. Hasil anakan jantan kemudian diseleksi dan dikawinkan kembali dengan betina F2.  Bagaikan ibu mengawini anak lelakinya sendiri, keturunan yang dihasilkan dinamakan Lele Sangkuriang.


            Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele Sangkuriang ini tergolong omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Untuk usaha budidaya, penggunaan pakan komersil (pellet) sangat dianjurkan karena berpengaruh besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.    

Tabel 1 Perbandingan lele dumbo dengan sangkuriang

Parameter
Lele dumbo
Lele sangkuriang
Mortalitas
(tingkat kematian)
±20%
<10%
Fekunditas
(jumlah telur)
30.000-50.000 telur/kg bobot induk
60.000-80.000 telur/kg bobot induk
FCR
(Feeding Conversion Rate).

>1 artinya untuk menghasilkan 1 kg daging dibutuhkan >1 kg pakan
0,8 artinya utk menghasilkan 1 kg daging dibutuhkan 0,8 kg pakan
Daya tahan terhadap serangan penyakit
Kurang tahan terhdp serangan bakteri Aeromonas hydrophilla dan Ichthyopthirius multifilis
Mampu meredam serangan bakteri Trichodina sp, Aeromonas hydrophilla,dan Ichthyopthirius multifilis
Umur kematangan gonad pertama (bulan)

4-5

8-9
Jumlah hari pemeliharaan yg dibutuhkan dalam siklus pembesaran (dari benih ukuran 5-7 cm untuk mencapai ukuran konsumsi 10-15 ekor/kg)




100




70

  
Table 2. Karakter pertumbuhan

Deskripsi
Lele dumbo
Lele sangkuriang
Pendederan 1 (benih umur 5-26 hari)
- pertumbuhan harian (%)
- panjang standar (cm)
- kelangsungan hidup (%)

20,38
2-3
>80

29,26
3-5
>80
Pendederan 2 (benih umur 26-40 hari)
- pertumbuhan harian (%)
- panjang standar (cm)
- kelangsungan hidup (%)

12,18
3-5
>90

13,96
5-8
>90
Pembesaran
- pertumbuhan harian  3 bulan (%)
- pertumbuhan harian calon induk (%)
- konversi pakan

2,73
0,62
>1

3,53
0,85
0,8-1



** Herman Setiawan, S.Pi (Diolah Dari Berbagai Sumber)


Akuaponik

AKUAPONIK


                Seiring semakin pesatnya pembangunan dan meningkatnya jumlah penduduk yang menyebabkan semakin sempitnya lahan dan berkurangnya sumber pasokan air untuk berbagai kebutuhan manusia. Didorong oleh keadaan tersebut serta adanya tuntunan masyarakat perkotaan untuk memanfaatkan lahan pekarangan yang sempit, maka Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor telah berupaya untuk menghasilkan suatu teknologi sederhana dan tepat guna untuk mengatasi permasalahan tersebut.      
                Sistem teknologi budidaya akuaponik pada prinsipnya menggabungkan antara budidaya ikan dengan tanaman sayuran dalam satu wadah, inti dasar dari sistem teknologi ini adalah penyediaan air yang optimum untuk masing-masing komoditas dengan memanfaatkan sistem resirkulasi, akuaponik ini sekaligus diterapkan sebagai suatu model dari tata kota dan pertamanan di kompleks perumahan.

Sistematika Pembuatan Akuaponik

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan sistem budidaya ikan secara akuaponik, diantaranya adalah:
1.     Kolam ikan untuk wadah budidaya, ukurannya disesuaikan dengan luas area yang tersedia,
2.     Pipa paralon, Pipa L dan pipa dop untuk jalur sirkulasi air, ukuran dan jumlahnya disesuaikan dengan luas area yang digunakan,
3.     Ember plastik untuk wadah tanaman konsumsi, banyaknya disesuaikan dengan ukuran kolam ikan,
4.     Aerator, untuk suplai oksigen bagi ikan,
5.     Pompa air untuk mensirkulasi air,
6.     Timer, untuk mengatur sirkulasi air oleh pompa air,
7.     Benih ikan dan Bibit tanaman dengan padat tebar disesuaikan dengan ukuran kolam ikan.

Langkah-langkah pembuatan sistem budidaya ikan secara akuaponik, diantaranya adalah:
1.     Pembuatan kolam ikan,
2.     Pemasangan pompa dan timer,
3.     pemasangan ember yang sebelumnya sudah diisi dengan media tanam, pemasangan dilakukan pada bagian atas kolam,
4.     Pemasangan pipa paralon untuk sirkulasi air, yang terdiri dari dua bagian:
a.    Pipa yang berada di atas tanaman, yang merupakan pipa yang berisi air hisapan dari kolam yang akan dialirkan ke tanaman,
b.    Pipa di bawah tanaman, merupakan pipa berisi air dari tanaman yang kemudian dialirkan ke tandon sebelum mengalir kembali ke kolam,
5.     Penebaran ikan.

Gambar Sketsa Akuaponik

Persiapan Budidaya Akuaponik

1. sistem resirkulasi

          Sistem resirkulasi yang dimaksud adalah memanfaatkan kembali air yang telah digunakan dalam budidaya ikan dialirkan dengan pompa air melalui pipa paralon ke filter biologi dan fisika yang juga berfungsi sebagai tempat menanam tanaman, kemudian air tersebut dialirkan kembali ke dalam kolam secara gravitasi.

2. pemilihan komoditas

Tabel 1.  Padat tebar benih ikan

No  
      Jenis ikan    
 Ukuran Benih    (Gr)
Padat Tebar 
  (ekor/m2)
1.
Mas
       10-50
   100-200
2.
Nila
       25-50
   100-150
3.
Gurami
    200-250
       5-10
4.
Koi
       10-50
   100-150

Tabel 2. Jarak tanam berbagai jenis tanaman sayur

 No
       Jenis Tanaman
Jarak Tanam (cm)
  1.
Kangkung
10
  2.
Cabai
40
  3.
Tomat
40
  4.
Terong
40

3. wadah pemeliharaan

          Wadah atau tempat pemeliharaan ikan yang dapat digunakan dalam sistem akuaponik berupa bak fiber, kolam tembok dan kolam terpal plastik. Sedangkan wadah pemeliharaan tanaman berupa ember plastik yang telah dimodifikasi dengan membuat lubang yang diberi potongan pipa paralon di salah satu sisi untuk saluran pengeluaran air. Untuk media tanamnya disarankan menggunakan campuran ijuk, batu kerikil dan kayu arang.  Sebelum tanaman diletakan di media tanam, tanaman harus disemai dan dipelihara terlebih dahulu di tanah sekitar 1-1,5 bulan hingga mencapai ukuran ideal.

Pelaksanaan Budidaya Akuaponik

1. manajemen pakan

          Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen pakan antara lain:
a.     Ukuran pakan ikan disesuaikan dengan bukaan mulut ikan
b.    Tidak memberikan pakan yang kadaluwarsa, berjamur atau beracun
c.     Takaran ransum harian harus sesuai dengan anjuran, yaitu 3-5 % per hari dari bobot total ikan
d.    Frekuensi pemberian pakan 2-3 kali sehari
e.     Pemberian pakan disebar secara merata diseluruh atau sebagian permukaan kolam
f.      Pakan harus memenuhi kebutuhan nutrisi harian ikan
g.   Pemberian vitamin/ probiotik secara rutin dan     berkala 
2. manajemen kualitas air
untuk menjamin kesehatan ikan perlu dilakukan monitoring kualitas dan kuantitas air, adapun parameter kualitas air yang perlu diperhatikan dan batas yang dianjurkan adalah sebagai berikut:
Table 3. Parameter kualitas air
No   
Parameter Kualitas Air 
Batas Ambang
  1.
Temperatur
25-320C
  2.
Oksigen terlarut
>4 ppm (mg/L)
  3.
Amoniak
<0,1 ppm
  4.
pH
6,5-8

3. Manajemen Kesehatan Ikan

          Akuaponik merupakan budidaya ikan dan tanaman sistem tertutup artinya air yang digunakan jumlahnya relatif sama dalam waktu yang cukup lama. oleh karena itu, kemungkinan terjadi suatu serangan penyakit pada pemeliharaan ikan akan lebih besar jika dibandingkan pemeliharaan ikan sistem mengalir.

                Umumnya serangan penyakit akan timbul dengan didahului oleh lemahnya kondisi ikan peliharaan. Pengetahuan tentang ciri-ciri ikan yang sedang dalam kondisi kurang baik merupakan kunci untuk mengatasi permasalahan yang mungkin timbul.

Pengendalian hama ikan bisa dilakukan dengan membuat bio-security berupa pagar dari waring, sedangkan untuk pengendalian penyakit ikan bisa diberikan secara rutin dan berkala berupa antibiotik dengan dosis dan waktu yang dianjurkan.


** By Herman Setiawan, S.Pi