Penyuluh Perikanan

Penyuluh Perikanan
Pulau Tinggi

Jumat, 10 Maret 2017

Seri Penanganan Ikan Pasca-Panen Bagian 2 : Teknik Pengangkutan Ikan

Seri Penanganan Ikan Pasca-Panen Bagian 2 : Teknik Pengangkutan Ikan

Pasca-panen merupakan akifitas yang dilakukan setelah pembudidaya mendapatkan produksi ikan yang diinginkan. Kegiatan pasca-panen meliputi pengemasan, pengangkutan dan penebaran benih ikan. Kegiatan penanganan ikan pasca-panen sebaiknya dilakukan secara baik dan benar, agar kualitas tetap terjaga sehingga harga jual tidak turun.
            Pada artikel seri 2 ini akan dibahas mengenai teknik pengangkutan ikan hasil panen. Pengangkutan ikan dalam keadaan hidup merupakan salah satu mata rantai  dalam usaha perikanan. Harga jual ikan, selain ditentukan oleh ukuran, juga ditentukan oleh kesegarannya. Oleh karena itu, kegagalan dalam pengangkutan ikan merupakan suatu kerugian. Pada prinsipnya, pengangkutan ikan hidup bertujuan untuk mempertahankan kehidupan ikan selama dalam pengangkutan sampai ke tempat tujuan. Pengangkutan dalam jarak dekat tidak membutuhkan perlakuan yang khusus. Akan tetapi pengangkutan dalam jarak jauh dan dalam waktu lama diperlukan perlakuan-perlakuan khusus untuk mempertahankan kelangsungan hidup ikan.
       Pada dasarnya, ada dua metode transportasi ikan hidup, yaitu dengan menggunakan air sebagai media atau sistem basah, dan mediatanpa air atau sistem kering.
A. Pengangkutan Sistem Basah
Transportasi sistem basah (menggunakan air sebagai media pengangkutan) terbagi menjadi dua, yaitu :
(1). Sistem Terbuka
         Pada sistem ini ikan diangkut dalam wadah terbuka dan diberikan aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen selama pengangkutan. Biasanya sistem ini hanya dilakukan dalam waktu pengangkutan yang tidak lama. Berat ikan yang aman diangkut dalam sistem ini tergantung dari efisiensi sistem aerasi, lama pengangkutan, suhu air, ukuran, serta jenis spesies ikan.
(2). Sistem Tertutup
        Pada sistem ini ikan diangkut diangkut dalam wadah tertutup dengan suplai oksigen secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan selama pengangkutan, wadah dapat berupa kantong plastik atau kemasan lain yang tertutup.

Faktor-faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan pengangkutan adalah kualitas ikan, oksigen, suhu, pH, CO2, amoniak, kepadatan dan aktivitas ikan.
(1). Kualitas Ikan
        Kualitas ikan yang ditransportasikan harus dalam keadaan sehat dan baik. Ikan yang kualitasnya rendah memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dalam waktu pengangkutan yang lebih lama dibandingkan dengan ikan yang kondisinya sehat.
(2). Oksigen
Biasanya dasar yang digunakan untuk mengukur konsumsi O2 oleh ikan selama transportasi adalah berat ikan dan suhu air. Jumlah O2 yang dikonsumsi ikan selalu tergantung pada jumlah oksigen yang tersedia, oleh karena itu dalam pengemasannya perbandingan antara oksigen dengan media pengangkutan ikan (air) harus leih besar ruang untuk oksigen.
(3). Suhu
Suhu merupakan faktor yang penting dalam transportasi ikan. Suhu optimum untuk transportasi ikan adalah suhu 15 – 20 0 C untuk ikan di daerah tropis. Tingkat metabolisme berkurang akan menurunkan konsumsi oksigen, produksi amonia dan produksi karbon dioksida. Oleh karena itu, suhu rendah dalam transportasi ikan sangat penting dilakukan dengan menambahkan es.
(4). Nilai pH, CO2, dan amonia
Nilai pH air merupakan faktor kontrol yang bersifat teknik akibat kandungan CO2 dan amoniak. CO2 sebagai hasil respirasi ikan akan mengubah pH air menjadi asam selama transportasi. Nilai pH optimum selama transportasi ikan hidup adalah 7 sampai 8. Perubahan pH menyebabkan ikan menjadi stres, untuk menanggulanginya dapat digunakan larutan bufer untuk menstabilkan pH air selama transportasi ikan. Amoniak merupakan anorganik nitrogen yang berasal dari eksresi organisme perairan, permukaan, penguraian senyawa nitrogen oleh bakteri pengurai, serta limbah industri atau rumah tangga.
(5). Kepadatan dan aktivitas ikan selama transportasi
Perbandingan antara volume ikan dan volume air selama transportasi tidak boleh lebih dari 1 : 3. Ikan-ikan lebih besar, seperti induk ikan dapat ditrasportasi dengan perbandingan ikan dan air sebesar 1 : 2 sampai 1 : 3 , tetapi untuk ikan-ikan kecil perbandingan ini menurun sampai 1 : 100 atau 1 : 200. Kesegaran ikan juga dipengaruhi oleh kondisi apakah ikan dalam keadaan meronta-ronta dan letih selama transportasi. Ketika ikan berada dalam wadah selama transportasi, ikan-ikan selalu berusaha melakukan aktivitas. Selama aktivitas otot berjalan, suplai darah dan oksigen tidak memenuhi, sehingga perlu disediakan oksigen yang cukup sbagai alternatif pengganti energi yang digunakan.

          Beberapa permasalahan dalam pengangkutan sistem basah adalah selalu terbentuk buih  yang disebabkan banyaknya lendir  dan kotoran ikan yang dikeluarkan. Kematian diduga karena pada saat diangkut, walaupun sudah diberok selama satu hari, isi perut masih ada. Sehingga pada saat diangkut masih ada kotoran yang mencemari media air yang digunakan untuk transportasi. Disamping itu, bobot air cukup tinggi, yaitu 1 : 3 atau 1 : 4 bagian ikan dengan air menjadi kendala tersendiri untuk dapat meningkatkan volume ikan yang diangkut.
Pengangkutan ikan menggunakan perahu

Pengangkutan ikan menggunakan pesawat terbang

Pengangkutan ikan menggunakan mobil
 
    
B. Transportasi Sistem Kering (Semi Basah)
Pada transportasi sistem kering, media angkut yang digunakan adalah bukan air, Oleh karena itu ikan harus dikondisikan dalam keadaan aktivitas biologis rendah sehingga konsumsi energi dan oksigen juga rendah. Makin rendah metabolisme ikan, terutama jika mencapai basal, makin rendah pula aktivitas dan konsumsi oksigennya sehingga ketahanan hidup ikan untuk diangkut diluar habitatnya makin besar .
          Penggunaan transportasi sistem kering dirasakan merupakan cara yang efektif meskipun resiko mortalitasnya cukup besar. Untuk menurunkan aktivitas biologis ikan (pemingsanan ikan) dapat dilakukan dengan menggunakan suhu rendah, menggunakan bahan metabolik atau anestetik, dan arus listrik.
          Pada kemasan tanpa air, suhu diatur sedemikian rupa sehingga kecepatan metabolisme ikan berada dalam taraf metabolisme basal, karena pada taraf tersebut, oksigen yang dikonsumsi ikan sangat sedikit sekedar untuk mempertahankan hidup saja. Secara anatomi, pada saat ikan dalam keadaan tanpa air, tutup insangnya masih mangandung air sehingga melalui lapisan inilah oksigen masih diserap .

Pemingsanan Ikan
Kondisi pingsan merupakan kondisi tidak sadar yang dihasilkan dari sistem saraf pusat yang mengakibatkan turunnya kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan rendahnya respon gerak dari rangsangan tersebut. Pingsan atau mati rasa pada ikan berarti sistem saraf kurang berfungsi. Pemingsanan ikan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu melalui penggunaan suhu rendah, pembiusan menggunakan zat-zat kimia dan penyetruman menggunakan arus listrik.
 1.   Pemingsanan dengan penggunaan  suhu rendah
Metode pemingsanan dengan penggunaan suhu rendah dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu
  1. Penurunan suhu secara langsung, dimana ikan langsung dimasukan dalam air yang bersuhu 100–150C. Sehingga ikan akan pingsan
  2. Penurunan suhu secara bertahap, dimana suhu air sebagai media ikan diturunkan secara bertahap sampai ikan pingsan

2. Pemingsanan ikan dengan bahan anestasi (bahan pembius)
Bahan anestasi yang dapat digunakan untuk pembiusan ikan adalah :

No
BAHAN
DOSIS
1
MS-222
0.05 mg / l
2
Novacaine
50 mg / kg berat ikan
3
Barbitas sodium
50 mg / kg berat ikan
4
Ammobarbital sodium
85 mg / kg berat ikan
5
Methyl paraphynol (dormisol)
30 mg / l
6
Tertiary amyl alcohol
30 mg / l
7
Choral hydrate
3-3.5 g lt
8
Urethane
100 mg / l
9
Hydroksi quinaldine
1 mg / l
10
Thiouracil
10 mg / l
11
Quinaldine
0.025 mg / l
12
2-Thenoxy ethanol
30 – 40 ml / 100 lt
13
Sodium ammital
52 – 172 mg / l

Selain bahan-bahan anestasi sintetik diatas pembiusan juga dapat dilakukan dengan menggunakan zat  caulerpin  dan caulerpicin yang berasal dari ekstrak rumput laut Caulerpa sp.
Pembiusan  ikan dikatakan berhasil bila memenuhi tiga kriteria, yaitu ;
1)    Induksi bahan pembius dalam tubuh ikan terjadi dalam waktu tiga menit atau kurang, sehingga ikan lebih mudah ditangani.
2)    Kepulihan ikan sampai gerakan renangnya kembali normal membutuhkan waktu kurang dari 10 menit.
3)    Tidak ditemukan adanya kematian ikan selama 15 menit setelah pembongkaran

Proses pembiusan ikan meliputi 3 tahap yaitu :
1)    Berpindahnya bahan pembius dari lingkungan ke dalam muara pernapasan organisme
2)    Difusi membran tubuh menyebabkan terjadinya penyerapan bahan pembius ke dlm darah
3)    Sirkulasi darah dan difusi jaringan menyebarkan subtansi ke seluruh tubuh. Kecepatan distribusi dan penyerapan oleh sel bergantung persediaan darah dan kandungan lemak pada setiap jaringan sehingga bahan anestasi juga harus mudah larut dlm air dan lemak.

3. Pemingsanan Ikan dengan Arus Listrik
Arus listrik yang aman digunakan untuk pemingsanan ikan adalah yang mempunyai daya 12 volt, karena pada 12 Volt ikan mengalami keadaan pingsan lebih cepat dan tingkat kesadaran setelah pingsan juga cepat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapakan pada saat proses pengangkutan ikan adalah sebagai berikut ;
1.     Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
2.     Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan air sumur yang telah diaerasi semalam.
3.     Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari. Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran benihnya.
4.     Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi menjadi dua bagian, yaitu :
o    Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan waktu
yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
o    Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer Na2(HPO)4.H2O sebanyak 9 gram.

Sumber :
1)    http://teknologipascapanen.blogspot.co.id
2)    https://defishery.wordpress.com


Jumat, 03 Maret 2017

Seri Penanganan Ikan Pasca-Panen Bagian 3 :Teknik Penebaran Benih Ikan

Seri Penanganan Ikan Pasca-Panen Bagian 3 :
Teknik Penebaran Benih Ikan
  
      
Pasca-panen merupakan akifitas yang dilakukan setelah pembudidaya mendapatkan produksi ikan yang diinginkan. Kegiatan pasca-panen meliputi pengemasan, pengangkutan dan penebaran benih ikan. Kegiatan penanganan ikan pasca-panen sebaiknya dilakukan secara baik dan benar, agar kualitas tetap terjaga sehingga harga jual tidak turun.
Pada artikel seri 3 ini akan dibahas mengenai teknik penebaran benih ikan yang baik dan benar. Setelah benih ikan sampai ke lokasi budidaya, maka benih ikan segera akan ditebar ke dalam wadah budidaya, dalam penebaran benih ikan hal yang tidak boleh dilewatkan adalah aklimasi dan aklimatisasi. Apa sih perbedaan aklimasi dan aklimatisasi ?


Aklimasi adalah proses penyesuaian biota air terhadap satu parameter kualitas air di perairan tempat budidaya. Sedangkan aklimatisasi adalah penyesuaian biota air terhadap faktor-faktor kualitas air pada lingkungan barunya seperti suhu, pH, alkalinitas, dan sebagainya. Mengapa benih ikan yang akan ditebar harus diaklimatisasi ? Ya, karena ikan adalah binatang berdarah dingin (Poikiloterm) dimana suhu tubuhnya sama dengan suhu lingkungannya. Jadi apabila lingkungannya berganti dimana suhu lingkungan hidupnya yang baru juga berganti. Yang menjadi masalah adalah apabila perbedaan suhu lingkungan asal dan lingkungan baru berbeda terlalu besar maka ikan-ikan akan stres. Maka aklimatisasi bertujuan untuk meminimalisir kemungkinan akan terjadi “shock atau stres” bagi biota air tersebut, dimana biota air akan terganggu fungsi fisiologisnya bahkan bisa lebih parah lagi mengakibatkan kematian. Terlebih bagi biota air yang sudah dalam kondisi lemah akan lebih fatal lagi. Sedangkan aklimasi adalah penyesuaian biota air terhadap satu faktor kualitas air saja, misalnya penyesuaian suhu atau pH saja.

Bagaimana proses aklimatisasi benih ikan yang baik dan benar ?, berikut ini adalah tahapan proses aklimatisasi ;
1)    Benih ikan didalam kemasan kantong plastik diapungkan didalam wadah budidaya. Biarkan kantong plastik mengapung selama lebih kurang 30 menit agar suhu di dalam kantong kemasan sama dengan suhu di dalam wadah (proses aklimasi).
2)    Setelah 30 menit, kantong dibuka satu persatu, tambahkan air dari wadah atau air lingkungan sebanyak kira-kira 1/4 dari volume air kemasan ke dalam kantong tersebut, biarkan selama 15 menit. Perlu diperhatikan agar setelah kantong dibuka posisinya di air tidak miring, sehingga air tidak masuk.
3)    Setelah 15 menit, tambahkan lagi air wadah sebanyak 1/4 volume volume air kantong ke dalam kantong-kantong, lalu biarkan kurang lebih 30 menit. Penambahan air wadah atau lingkungan wadah ke dalam kantong untuk menyesuaikan pH dan alkalinitas (salinitas untuk ikan payau dan laut) air dalam kantong dengan air kolam/tambak secara bertahap.
4)    Setelah dilakukan dua kali penambahan air media pada kantong, maka diperkirakan salinitas air di kedua tempat sudah sama atau mendekati sama. Bila pembudidaya memiliki alat pengukur kadar garam, seyogyanya kadar garam diukur. Jika ada perbedaan kadar garam antara air kemasan benih dan air petakan perbedaannya tidak boleh terlalu besar melebihi 5 ppt. Jika ternyata perbedaan lebih besar, masukkan lagi air kolam/ tambak ¼ volume lagi ke dalam kantung dan biarkan tenang selama 30 menit.
5)    Selanjutnya, periksa apakah benih sehat. Benih yang sehat akan berenang dengan gesit. Apabila sudah dipastikan bahwa benih sudah melakukan aktifitas berenang dengan aktif, maka saatnya kantong-kantong dimiringkan hingga benih-benih dapat berenang keluar sendiri dari kantong dan menyebar ke dalam kolam/tambak. Namun jangan lupa ambillah data tentang waktu penebaran (hari, tanggal, jam), jumlah populasi benih yang ditebar, biomassa rata-rata, dan biomassa total, sebagai data awal untuk menentukan kebutuhan pakan. Ketika sampling data awal ini juga sangat dibutuhkan, karena untuk menduga pertumbuhan biomassa ikan dan perhitungan FCR harus diketahui data awal ini.




Sumber :
1.     Buku Teks Bahan Ajr Siswa : Teknik Pemdesaran Ikan. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2015.
2.     Agribisnis Perikanan. Penebaran Swadaya, 2010.

Rabu, 01 Maret 2017

Membuat Kolam Akuaponik (Yumina-Bumina) Skala Rumah Tangga

Membuat Kolam Akuaponik (Yumina-Bumina) Skala Rumah Tangga


Seiring semakin pesatnya pembangunan dan meningkatnya jumlah penduduk yang menyebabkan semakin sempitnya lahan dan berkurangnya sumber pasokan air untuk berbagai kebutuhan manusia, maka menjadi kendala umum yang terjadi dalam pengembangan usaha budidaya ikan. Didorong oleh keadaan tersebut serta adanya tuntunan masyarakat perkotaan untuk memanfaatkan lahan pekarangan yang sempit, maka Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor telah berupaya untuk menghasilkan suatu teknologi sederhana dan tepat guna untuk mengatasi permasalahan tersebut.    
Sistem teknologi budidaya akuaponik (Yumina-Bumina) pada prinsipnya menggabungkan antara budidaya ikan dengan tanaman sayuran dan buah dalam satu wadah, inti dasar dari sistem teknologi ini adalah penyediaan air yang optimum untuk masing-masing komoditas dengan memanfaatkan sistem resirkulasi, akuaponik ini sekaligus diterapkan sebagai suatu model dari tata kota dan pertamanan di kompleks perumahan.
Berikut dipaparkan cara sederhana pembuatan kolam Akuaponik (Yumina-Bumina) skala rumah tangga (catatan : kolam ikan sudah disediakan sebelumnya jadi dalam artikel ini tidak dibahas cara pembuatan kolam ikannya, melainkan hanya membahas wadah dan media hidroponik sebagai tempat tumbuhnya tanaman sayuran dan buah), adalah sebagai berikut ;

1.    Persiapan alat dan bahan
a.    Alat yang digunakan dalam pembuatan kolam akuaponik ini sebagai berikut ; gergaji paralon, solder, glue gun, spidol, penggaris, pompa air akuarium, dan instalasi listrik.
b.    Bahan yang digunakan dalam pembuatan kolam akuaponik ini sebagai berikut ;
talang air PVC, tutup talang air PVC, lem lilin stick, pipa paralon PVC ukuran 5/8”, dan pencepit talang air paralon PVC. 


2.    Memotong talang air PVC
Ukurlah panjang talang air PVC yang akan dipotong sesuai dengan panjang kolam ikan yang akan dipadukan atau dikombinasikan sebagai kolam akuaponik.


3.    Menutup kedua sisi talang air PVC
Tutuplah kedua sisi talang air PVC yang telah dipotong menggunakan tutup yang telah tersedia sesuai ukurannya. Kemudian beri lem lilin supaya celah-celah yang ada bisa tertutup sehingga menghindari kebocoran air dari kedua sisi talang air PVC tersebut. Disamping itu lem lilin akan berfungsi merekatkan antara tutup talang dengan bagian sisi talang, sehingga mencegah kerusakan.



4.    Memasang penjepit talang air PVC
Ketika talang air PVC terisi media tanam dan dialiri air maka akan timbul daya yang cukup besar, untuk menghindari jebol atau rusaknya bentuk talang air tidak sesuai aslinya, maka akan lebih aman jika talang air diberi penjepit yang sudah tersedia sesuai ukurannya.

5.    Membuat lubang saluran pengeluaran air (out-let)
Membuat lubang saluran pengeluaran air pada wadah tanaman menggunakan solder, lubang dibuat sebesar diameter pipa paralon PVC ukuran 5/8”.


6.    Memasang pipa pengeluaran air
Setelah lubang dibuat sempurna maka langkah selanjutnya memasang pipa saluran pengeluaran air yang sebelumnya telah dipotong dengan panjang ± 10 cm.


7.    Pengisian media tanam
Pengisian media tanam menggunakan 2 bahan yaitu batu split untuk bagian dasar dan arang kayu untuk bagian atasnya.
 



8.    Memasang pompa air dan instalasi listrik
Pemasangan pompa air dan instalasi listrik sebagai pendukung untuk proses distribusi airnya. Pompa air akuarium dirangkai dengan cara menyambungkan pipa paralon PVC ukuran 5/8” pada bagian out-let yang akan mendistribusikan air dari kolam ke media hidroponik, panjang pipa paralon disesuaikan ketinggian antara dasar kolam sampai bagian kerangka atas kolam, kemudian diberikan sambungan pipa L sesuai ukurannya yang berguna memberikan arah jatuhnya air kolam kedalam media hidroponik.



9.    Penanaman tanaman sayuran atau buah pada wadah dan media hidroponik
Penanaman tanaman diusahakan pada waktu pagi atau sore hari, benih tanaman yang telah disemai dan siap tanam langsung diletakan pada media tanam yang tersedia dengan cara menyelipkan batang bawah dan akarnya diantara kayu arang. 


10. Setelah semua bagian terpasang sesuai fungsinya maka kita test untuk melihat hasil aliran airnya apakah lancar atau tidak, apakah semua saluan pengeluaran air pada media hidroponik mengalir semua, dan apakah tidak ada kebocoran pada sisi-sisi media hidroponiknya.



1