Penyuluh Perikanan

Penyuluh Perikanan
Pulau Tinggi

Minggu, 20 September 2015

Data Kelembagaan Kelompok Pelaku Utama Per Bulan September 2015

Data Kelembagaan Kelompok Pelaku Utama
Tabel 1. Data kelompok pelaku utama pertanian di wilayah binaan BP3K Kecamatan Tukak Sadai
Kecamatan Tukak Sadai
No
Nama Desa
Jumlah dan Kelas Kelompok Pelaku Utama
Jumlah Kelompok Pelaku Utama
Pemula
(0-250)
Lanjut
(251-500)
Madya (501-750)
Utama (751-1000)
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
1
Tukak
4
0
0
0
4
2
Pasir Putih
5
3
0
0
8
3
Bukit Terep
12
0
0
0
12
4
Tirem
11
0
0
0
11
5
Sadai
2
0
0
0
2
  
34
3
0
0
37

Kecamatan Lepar Pongok
No
Nama Desa
Jumlah dan Kelas Kelompok Pelaku Utama
Jumlah Kelompok Pelaku Utama
Pemula
(0-250)
Lanjut
(251-500)
Madya (501-750)
Utama (751-1000)
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
1
Tanjung Sangkar
11
0
 0
11
2
Kumbung
6
0
 0
6
3
Penutuk
14
0
 0
14
4
Tanjung Labu
6
0
 0
6
  
37
0
 0
37

Kecamatan Kepulauan Pongok
No
Nama Desa
Jumlah dan Kelas Kelompok Pelaku Utama
Jumlah Kelompok Pelaku Utama
Pemula
(0-250)
Lanjut
(251-500)
Madya (501-750)
Utama (751-1000)
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
1
Pongok
2
0
 0
2
2
Celagen
0
0
 0
0
  
2
0
 0
2

Validasi & Up-dating data per 19 September 2015




Tabel 2. Data kelompok pelaku utama perikanan di wilayah binaan BP3K Kecamatan Tukak Sadai
Kecamatan Tukak Sadai
No
Nama Desa
Jenis & Jumlah Kelompok Pelaku Utama
Jumlah Kelompok Pelaku Utama
KUB
Pokdakan
Poklahsar
Pokmaswas
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
1
Tukak
5
0
0
1
6
2
Pasir Putih
3
1
0
0
4
3
Bukit Terep
1
0
0
0
1
4
Tirem
2
0
0
0
2
5
Sadai
8
2
0
0
10
  
19
3
0
1
23

Kecamatan Lepar Pongok
No
Nama Desa
Jenis & Jumlah Kelompok Pelaku Utama
Jumlah Kelompok Pelaku Utama
KUB
Pokdakan
Poklahsar
Pokmaswas
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
1
Tanjung Sangkar
2
0
 0
2
2
Kumbung
0
0
 0
0
3
Penutuk
3
1
 0
4
4
Tanjung Labu
0
0
 0
0
  
5
1
 0
6

Kecamatan Kepulauan Pongok
No
Nama Desa
Jenis & Jumlah Kelompok Pelaku Utama
Jumlah Kelompok Pelaku Utama
KUB
Pokdakan
Poklahsar
Pokmaswas
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
1
Pongok
16
0
 0
16
2
Celagen
1
0
1
2
  
17
0
 1
18

Validasi & Up-dating data per 19 September 2015

Keterangan :
KUB         : Kelompok Usaha Bersama (kelompok Nelayan)
Pokdakan    : Kelompok Pembudidaya Ikan
Poklahsar   : Kelompok Pengolah dan Pemasar ikan
Pokmaswas   : Kelompok Masyarakat Pengawas
                                                 


Senin, 07 September 2015

PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN (TERIPANG)

PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN (TERIPANG)



 Teripang atau gamat merupakan salah satu komoditas hasil perikanan yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan berkadar protein tinggi, bahkan teripang dalam bentuk kering atau asap telah menjadi komoditas ekspor non-migas dari sektor perikanan. Jenis teripang yang memiliki nilai komersial tinggi adalah teripang pasir (Holothuria scabra) dan teripang batu (Holothuria nobiis).
Cara pengolahan teripang sangat tergantung dari jenisnya, pada umumnya terdapat dua cara pengolahan yaitu pengolahan dengan cara menghilangkan kapur pada permukaan kulit terutama untuk jenis teripang pasir dan pengolahan tanpa menghilangkan kapur untuk jenis teripang batu.

Pengolahan
I. Bahan
1. Bahan utama : teripang segar (hidup) dengan berat rata-rata 400-500 gr atau yang telah berumur 3 bulan dalam budidaya (pembesaran)
2. Bahan pembantu : air laut, daun pepaya dan kayu bakar
3. Peralatan : ember plastik, alat perebus dan serok
II. Cara Pengolahan
1. Pengeluaran isi perut Isi perut dan air dalam tubuh teripang segar dikeluarkan dengan cara memijat-mijat hingga isi perut dan air dapat keluar melalui anus dan tubuh teripang menjadi gepeng
2. Perebusan
Selama perebusan selalu dijaga agar semua teripang tetap terendam dalam air perebus sehingga diluar dan didalam tubuh teripang relatif sama. Perebusan diakhiri apabila semua teripang yang semula gepeng menjadi gembung kembali seperti karet
3. Penghilangan kapur
Penghilangan kapur hanya dilakukan teripang pasir. Adapun penghilangan kapur pada kulit teripang pasir dapat dilakukan dengan :
(a). Perendaman dalam daun pepaya sebanyak 7,5% dari berat teripang selama 10 menit;
(b). Perendaman dalam larutan enzim papain 4% dari air perebus yang digunakan. Setelah dilakukan proses perendaman tersebut kemudian teripang digosok dengan pasir.
4. Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan cara menyayat perut teripang dengan membentuk celah memanjang kira-kira sepanjang teripang atau kurang. Perlakuan dimaksud untuk membantu mengeluarkan dan membersihkan perut teripang.
5. Pengasapan
Pengasapan dilakukan dengan cara menberi sedikit asap (asap tipis), pada bagian perut teripang selama pengasapan, teripang dibalik beberapa kali sehingga asap dapat merata. Apabila teripang sudah agak kering maka dilanjutkan dengan pengasapan dengan asap agak kecil, umumnya  pengasapan tebal dilakukan selama 1-1,5 jam.
6. Pengeringan
Setelah selesai pengasapan, teripang tampak masih lentur dan kenyal, kemudian dilanjutkan dengan pengeringan dibawah panas matahari. Bila teripang telah kering maka teksturnya akan sangat keras & tidak lentur, umunya pengeringan dilakukan selama 2 hari.
7. Pengemasan
Pengemasan teripang dapat dilakukan dengan menggunakan karung, bila cara penyimpanannya bagus maka teripang dapat bertahan hingga 2 tahun atau lebih.

III. Mutu Teripang
Teripang asap atau kering yang baik mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut :
1)     Bentuk bulat lurus, rapi dan tidak cacat, belahan terdapat pada bagian perut dengan otot disisi  dalam perut masih ada
2)     Warna kuning keemasan sampai kuning kecoklatan atau coklat kehitaman, pigmen asli (hitam) masih utuh dan kapur sudah bersih
3)     Bau harum khas asap tipis atau lembut
4)     Tekstur sangat keras, kaku dan daging kompak
5)      

Sumber : dari berbagai sumber, internet.

Pembesaran Ikan Lele (Clarias sp.)

Pembesaran Ikan Lele (Clarias sp.)


PERSIAPAN LAHAN

PENGERINGAN KOLAM
1)      Tujuan pengeringan untuk meningkatkan produksi, memperbaiki pematang, jugamerupakan salah satu bentuk kontrol alami terhadap pengganggu ataupun predator, dan menyebabkan terjadinya mineralisasi dari kandungan organik dan mengoksidasi asam organik.
2)     Lamanya pengeringan ini tergantung pada keadaan cuaca, lamanya pengeringan atau penjemuran tergantung pada cuaca. Jika cuaca baik, pengeringan dasar kolam cukup selama 2-3 hari.
3)     Setelah dikeringkan dilakukan pembuangan lumpur yang menumpuk di dasar kolam sehingga ketebalan lumpur dari 20-30 cm menjadi 10-15 cm. Lumpur yang terbuang digunakan untuk menutupi kebocoran yang ada pada pematang.

PEMUPUKAN DAN PENGAPURAN
1)      Setelah dikeringkan, kolam dipupuk. Pupuk yang digunakan biasanya berupa pupuk organik, misalnya kotoran ayam.
2)     Kotoran ayam ini disebarkan secara merata di seluruh dasar kolam. Untuk kolam berukuran sekitar 20 m2, biasanya digunakan 5 kg kotoran ayam.
3)     Dosis kapur untuk kolam baru dan kolam yang telah dipakai dibedakan. Untuk kolam baru biasanya 20-150 kg per 100 m2, sedangkan untuk kolam yang sudah pernah dipakai 10-15 kg per 100 m2.



SUMBER DAN KUALITAS AIR
1)      Sumber air untuk kegiatan pembesaran lele dapat berupa saluran irigasi yang airnya dapat langsung disadap dengan menggunakan pipa paralon ataupun bambu.
2)     Air yang baik digunakan untuk pembesaran lele dumbo nilai pH-nya berkisar antara 6,5-8. Selain itu perlu diperhatikan bahwa kekeruhan juga dapat mempengaruhi kegiatan pembesaran ikan lele.
3)     Kekeruhan ini sebaiknya tidak lebih dari 10 cm, sebab jika lebih dari itu sangat besar kemungkinan terjadinya kekurangan oksigen dan ikan sulit bernafas karena elemen insangnya tertutup partikel-partikel lumpur.

PEMASUKAN AIR
1)      Pemasukan air biasanya dilakukan secara perlahan-lahan hingga ketinggian air mencapai 20 cm.
2)     Setelah itu kolam didiamkan selama 2-3 hari agar pupuk mengalami penguraian.
3)     Setelah 3 hari ketinggian dinaikkan hingga mencapai 70 cm. Debit air yang masuk ke kolam biasanya sekitar 1 liter/detik.

PENGELOLAAN KOLAM

1) Penebaran Benih
a)      Dalam proses penebaran aklimatisasi perlu dilakukan dalam rangka penyesuaian ikan dari suatu lingkungan (keadaan) ke lingkungan yang baru atau lingkungan yang berbeda.
b)     Penebaran benih ini biasanya dilakukan pada pagi hari sekuar pukul 07.00-08.00, ini karena pada pagi hari suhu belum terlalu tinggi.
c)      Padat penebaran benih tergantung pada ukuran kolam, ukuran ikan yang ditanam, serta lama masa  pemeliharaan. Pada ukuran lebih besar dari 5 cm, lele dapat ditebar dengan kepadatan 5-8 ekor/m2 dan untuk benih berukuran 1-3 cm dapat ditebar dengan kepadatan 10 ekor/m2. Kepadatan ini dapat ditingkatkan apabila dikelola secara lebih intensif.

2) Pemberian Makanan
a)      Pada kegiatan pembesaran secara tradisional makanan alami merupakan makanan utama, sedangkan pada kegiatan yang lebih intensif diberikan makanan tambahan.
b)     Makanan tambahan ini dapat berupa sisa-sisa dapur, dedak ataupun bangkai. Selain itu juga diberikan cacahan daging bekicot dan pelet yang berkadar protein sekitar 20 -25 %.
c)      Makanan tambahan diberikan dengan disebar secara merata. Makanan diberikan sekitar 2 kali sehari. Jumlah makanan yang diberikan setiap hari sekitar 2-3% dari bobot tubuhnya.

3) Pergantian Air
Pergantian air dapat dilakukan sekitar 1 bulan sekali sebanyak 10-30 %.

4) Hama dan Penyakit
a)      Hama burung dapat diatasi dengan membuat kanopi dari jaring atau waring bekas bisa juga menggunakan pengusir burung seperti di sawah , sedangkan untuk pencegahan hama biawak kolam budidaya bisa pagar keliling atau memasang perangkap dengan pancing
b)     Penyakit yang umum menyerang ikan lele adalah white spot (bercak putih) penyebabnya adalah protozoa Ichthyoptirius multifilis, dapat diobati dengan melakukan karantina ikan yang sakit dan perendaman menggunakan malachite green dengan dosis 0,1 ppm (0,1 ml/ liter air), biasanya pengobatan dengan perendaman dalam wadah ±20 liter air selama 1 jam sudah cukup efektif. Sedangkan untuk tindakan pencegahan dosis malachite green yang direkomendasikan adalah setengah dari dosis  pengobatan.

5) Pemanenan
a)      Pemanenan biasanya dapat dilakukan setelah bobotnya mencapai sekitar 300 gram per ekor.
b)     Biasanya dapat dicapai setelah masa pemeliharaan sekitar 3-4 bulan.
c)      Pemanenan total dapat dilakukan pada pagi hari.
d)     Pada mulanya air kolam diturunkan ketinggiannya hingga mencapai sekitar 10-15 cm.
e)      Ikan dapat dipanen dengan menggunakan jaring atau serok, selanjutnya ditempatkan ke dalam wadah, misalnya ember, yang berisi air jernih.


Sumber : Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir,

Ditjen KP3K, Kementrian Kelautan dan Perikanan.

kegiatan penyuluhan BP3K Kecamtan Tukak Sadai periode Bulan September 2015

Penumbuhan KTH Rimba Tiram Lestari Desa Tiram Kec. Tukak Sadai Tanggal 04 September 2015

Penumbuhan KTH Rimba Tiram Lestari Desa Tiram Kec. Tukak Sadai Tanggal 04 September 2015

Penumbuhan KUB Desa Sadai Kec. Tukak Sadai Tanggal 04 September 2015

Penumbuhan KUB Desa Sadai Kec. Tukak Sadai Tanggal 04 September 2015

kegiatan persiapan penyusunan programa penyuluhan pertanian perikanan dan kehutanan di Hotel Bangka City 

kegiatan persiapan penyusunan programa penyuluhan pertanian perikanan dan kehutanan di Hotel Bangka City