Seri Penanganan Ikan Pasca-Panen Bagian 2 : Teknik Pengangkutan Ikan
Pasca-panen merupakan
akifitas yang dilakukan setelah pembudidaya mendapatkan produksi ikan yang
diinginkan. Kegiatan pasca-panen meliputi pengemasan, pengangkutan dan
penebaran benih ikan. Kegiatan penanganan ikan pasca-panen sebaiknya dilakukan
secara baik dan benar, agar kualitas tetap terjaga sehingga harga jual tidak
turun.
Pada artikel seri 2 ini
akan dibahas mengenai teknik pengangkutan ikan hasil panen. Pengangkutan ikan dalam keadaan hidup merupakan salah satu mata
rantai dalam usaha perikanan. Harga jual ikan, selain ditentukan
oleh ukuran, juga ditentukan oleh kesegarannya. Oleh karena itu, kegagalan
dalam pengangkutan ikan merupakan suatu kerugian. Pada prinsipnya, pengangkutan
ikan hidup bertujuan untuk mempertahankan kehidupan ikan selama dalam
pengangkutan sampai ke tempat tujuan. Pengangkutan dalam jarak dekat tidak
membutuhkan perlakuan yang khusus. Akan tetapi pengangkutan dalam jarak jauh
dan dalam waktu lama diperlukan perlakuan-perlakuan khusus untuk mempertahankan
kelangsungan hidup ikan.
Pada
dasarnya, ada dua metode transportasi ikan hidup, yaitu dengan
menggunakan air sebagai media atau sistem basah, dan mediatanpa
air atau sistem kering.
A. Pengangkutan Sistem Basah
Transportasi sistem basah
(menggunakan air sebagai media pengangkutan) terbagi menjadi
dua, yaitu :
(1). Sistem Terbuka
Pada sistem ini ikan diangkut dalam wadah
terbuka dan diberikan aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen selama
pengangkutan. Biasanya sistem ini hanya dilakukan dalam waktu pengangkutan yang
tidak lama. Berat ikan yang aman diangkut dalam sistem ini tergantung dari
efisiensi sistem aerasi, lama pengangkutan, suhu air, ukuran, serta jenis
spesies ikan.
(2). Sistem Tertutup
Pada
sistem ini ikan diangkut diangkut dalam wadah tertutup dengan suplai oksigen
secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan selama pengangkutan,
wadah
dapat berupa kantong plastik atau kemasan lain yang tertutup.
Faktor-faktor penting yang
mempengaruhi keberhasilan pengangkutan adalah kualitas ikan, oksigen, suhu, pH,
CO2, amoniak, kepadatan dan aktivitas ikan.
(1). Kualitas Ikan
Kualitas
ikan yang ditransportasikan harus dalam keadaan sehat dan baik. Ikan yang
kualitasnya rendah memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dalam waktu
pengangkutan yang lebih lama dibandingkan dengan ikan yang kondisinya sehat.
(2). Oksigen
Biasanya dasar yang digunakan untuk mengukur
konsumsi O2 oleh ikan selama transportasi adalah berat ikan dan
suhu air. Jumlah O2 yang dikonsumsi ikan selalu tergantung pada
jumlah oksigen yang tersedia, oleh karena itu dalam pengemasannya perbandingan
antara oksigen dengan media pengangkutan ikan (air) harus leih besar ruang
untuk oksigen.
(3). Suhu
Suhu merupakan faktor yang
penting dalam transportasi ikan. Suhu optimum untuk transportasi ikan
adalah suhu 15 – 20 0 C untuk ikan di daerah tropis. Tingkat
metabolisme berkurang akan menurunkan konsumsi oksigen, produksi amonia dan
produksi karbon dioksida. Oleh karena itu, suhu rendah dalam transportasi ikan sangat penting dilakukan dengan menambahkan es.
(4). Nilai pH, CO2, dan amonia
Nilai pH air merupakan
faktor kontrol yang bersifat teknik akibat kandungan CO2 dan
amoniak. CO2 sebagai hasil respirasi ikan akan mengubah pH air
menjadi asam selama transportasi. Nilai pH optimum selama transportasi ikan
hidup adalah 7 sampai 8. Perubahan pH menyebabkan ikan menjadi stres, untuk
menanggulanginya dapat digunakan larutan bufer untuk menstabilkan pH air selama
transportasi ikan. Amoniak merupakan anorganik nitrogen yang berasal dari
eksresi organisme perairan, permukaan, penguraian senyawa nitrogen oleh bakteri
pengurai, serta limbah industri atau rumah tangga.
(5). Kepadatan
dan aktivitas ikan selama transportasi
Perbandingan antara volume
ikan dan volume air selama transportasi tidak boleh lebih dari 1 : 3. Ikan-ikan lebih besar, seperti induk ikan
dapat ditrasportasi dengan perbandingan ikan dan air sebesar 1 : 2 sampai 1 : 3
, tetapi untuk ikan-ikan kecil perbandingan ini menurun sampai 1 : 100 atau 1 :
200. Kesegaran ikan juga dipengaruhi oleh kondisi apakah ikan dalam keadaan
meronta-ronta dan letih selama transportasi. Ketika ikan berada dalam wadah
selama transportasi, ikan-ikan selalu berusaha melakukan aktivitas. Selama
aktivitas otot berjalan, suplai darah dan oksigen tidak memenuhi, sehingga
perlu disediakan oksigen yang cukup sbagai alternatif pengganti energi yang
digunakan.
Beberapa permasalahan dalam pengangkutan sistem basah adalah
selalu terbentuk buih yang
disebabkan banyaknya lendir dan kotoran ikan yang dikeluarkan.
Kematian diduga karena pada saat diangkut, walaupun sudah diberok selama satu
hari, isi perut masih ada. Sehingga pada saat diangkut masih ada kotoran yang
mencemari media air yang digunakan untuk transportasi. Disamping
itu, bobot air cukup tinggi, yaitu
1 : 3 atau 1 : 4 bagian ikan dengan air menjadi kendala tersendiri
untuk dapat meningkatkan volume ikan yang diangkut.
 |
Pengangkutan ikan menggunakan perahu |
 |
Pengangkutan ikan menggunakan pesawat terbang |
 |
Pengangkutan ikan menggunakan mobil |
B.
Transportasi Sistem Kering (Semi Basah)
Pada
transportasi sistem kering, media angkut yang digunakan
adalah bukan air, Oleh karena itu ikan harus dikondisikan dalam keadaan
aktivitas biologis rendah sehingga konsumsi energi dan oksigen juga rendah.
Makin rendah metabolisme ikan, terutama jika mencapai basal, makin rendah pula
aktivitas dan konsumsi oksigennya sehingga ketahanan hidup ikan untuk diangkut
diluar habitatnya makin besar .
Penggunaan
transportasi sistem kering dirasakan merupakan cara yang efektif meskipun
resiko mortalitasnya cukup besar. Untuk menurunkan aktivitas biologis ikan
(pemingsanan ikan) dapat dilakukan dengan menggunakan suhu rendah, menggunakan bahan metabolik atau anestetik, dan arus
listrik.
Pada
kemasan tanpa air, suhu diatur sedemikian rupa sehingga kecepatan metabolisme
ikan berada dalam taraf metabolisme basal, karena pada taraf tersebut, oksigen
yang dikonsumsi ikan sangat sedikit sekedar untuk mempertahankan hidup saja.
Secara anatomi, pada saat ikan dalam keadaan tanpa air, tutup insangnya masih
mangandung air sehingga melalui lapisan inilah oksigen masih diserap .
Pemingsanan Ikan
Kondisi
pingsan merupakan kondisi tidak sadar yang dihasilkan dari sistem saraf pusat
yang mengakibatkan turunnya kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan
rendahnya respon gerak dari rangsangan tersebut. Pingsan atau mati rasa pada
ikan berarti sistem saraf kurang berfungsi. Pemingsanan
ikan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu melalui penggunaan suhu rendah,
pembiusan menggunakan zat-zat kimia dan penyetruman menggunakan arus listrik.
1. Pemingsanan
dengan penggunaan suhu rendah
Metode pemingsanan dengan penggunaan suhu rendah dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu ;
- Penurunan suhu secara langsung, dimana ikan langsung dimasukan dalam air
yang bersuhu 100–150C. Sehingga ikan akan pingsan
- Penurunan
suhu secara bertahap, dimana suhu air
sebagai media ikan diturunkan secara bertahap sampai ikan pingsan
2.
Pemingsanan ikan dengan bahan anestasi (bahan pembius)
Bahan anestasi
yang dapat digunakan untuk pembiusan ikan adalah :
No
|
BAHAN
|
DOSIS
|
1
|
MS-222
|
0.05 mg / l
|
2
|
Novacaine
|
50 mg / kg berat ikan
|
3
|
Barbitas sodium
|
50 mg / kg berat ikan
|
4
|
Ammobarbital sodium
|
85 mg / kg berat ikan
|
5
|
Methyl paraphynol
(dormisol)
|
30 mg / l
|
6
|
Tertiary amyl alcohol
|
30 mg / l
|
7
|
Choral hydrate
|
3-3.5 g lt
|
8
|
Urethane
|
100 mg / l
|
9
|
Hydroksi quinaldine
|
1 mg / l
|
10
|
Thiouracil
|
10 mg / l
|
11
|
Quinaldine
|
0.025 mg / l
|
12
|
2-Thenoxy ethanol
|
30 – 40 ml / 100 lt
|
13
|
Sodium ammital
|
52 – 172 mg / l
|
Selain bahan-bahan anestasi
sintetik diatas pembiusan juga dapat dilakukan dengan menggunakan zat caulerpin dan caulerpicin yang berasal
dari ekstrak rumput laut Caulerpa sp.
Pembiusan ikan
dikatakan berhasil bila memenuhi tiga kriteria, yaitu ;
1)
Induksi bahan pembius dalam
tubuh ikan terjadi dalam waktu tiga menit atau kurang, sehingga ikan lebih
mudah ditangani.
2)
Kepulihan ikan sampai gerakan
renangnya kembali normal membutuhkan waktu kurang dari 10 menit.
3)
Tidak ditemukan adanya kematian
ikan selama 15 menit setelah pembongkaran
Proses pembiusan ikan
meliputi 3 tahap yaitu :
1)
Berpindahnya bahan pembius dari
lingkungan ke dalam muara pernapasan organisme
2)
Difusi membran tubuh menyebabkan
terjadinya penyerapan bahan pembius ke dlm darah
3)
Sirkulasi darah dan difusi
jaringan menyebarkan subtansi ke seluruh tubuh. Kecepatan distribusi dan
penyerapan oleh sel bergantung persediaan darah dan kandungan lemak pada setiap
jaringan sehingga bahan anestasi juga harus mudah larut dlm air dan lemak.
3. Pemingsanan Ikan dengan Arus Listrik
Arus
listrik yang aman digunakan untuk pemingsanan ikan adalah yang mempunyai daya
12 volt, karena pada 12 Volt ikan mengalami keadaan pingsan lebih cepat dan
tingkat kesadaran setelah pingsan juga cepat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapakan pada saat
proses pengangkutan ikan adalah sebagai berikut ;
1. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit,
parasit dan tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam
kantong plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
2. Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas
hama dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan
air sumur yang telah diaerasi semalam.
3. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa
hari. Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan
aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m atau 2 m
x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat menampung benih ikan mas
sejumlah 5000–6000 ekor dengan ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan
harus disesuaikan dengan ukuran benihnya.
4. Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih
terbagi menjadi dua bagian, yaitu :
o Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan waktu yang
lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap keramba dapat diisi air bersih 15
liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
o Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari
4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan terdiri dari
air bersih 5 liter yang diberi buffer Na2(HPO)4.H2O sebanyak 9 gram.
Sumber :
1)
http://teknologipascapanen.blogspot.co.id
2)
https://defishery.wordpress.com