Penyuluh Perikanan

Penyuluh Perikanan
Pulau Tinggi

Minggu, 01 Juli 2018

Pemberian Pakan yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Lele Dumbo (Clarias gariepinus)


Pemberian Pakan yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup
Benih Lele Dumbo (Clarias gariepinus)


Peningkatan kebutuhan pakan juga berlaku pada usaha pembenihan ikan. Pakan yang memenuhi kebutuhan gizi ikan dapat meningkatkan pertumbuhan benih ikan lele dumbo hingga mencapai ukuran benh siap jual. Namun pakan masih menjadi salah satu kendala pada beberapa pembudidaya ikan, khususnya pembenihan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Beberapa pakan yang cocok bagi larva lele yaitu zooplankton, kutu air, moina, rotifera, tubifex, jentik nyamuk, tepung udang dan kuning telur. Namun belum diketahui secara persis melalui percobaan jenis pakan yang terbaik untuk memacu pertumbuhan benih ikan lele dumbo.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan lele dumbo selama diberikan pakan yang berbeda yaitu Tubifex, jentik nyamuk dan pellet butiran.
Tabel 1. Kandungan gizi pakan yang digunakan
No
Jenis Pakan
Protein (%)
Lemak (%)
Karbohidrat (%)
Abu (%)
Serat Kasar (%)
Air (%)
1
Tubifex
57
13,30
2,04
3,60
-
87,19
2
Jentik nyamuk
15,58
7,81
-
-
6,46
1,4
3
Pellet butiran
28
40
-
13
6
12
** Frekuensi pakan sebanyak 3x, dengan dosis pemberian pakan yaitu 4% dari bobot biomassa ikan uji.

Tubifex

Pellet Butiran

Jentik Nyamuk

a)      Petumbuhan Bobot Mutlak
Pengukuran pertumbuhan bobot mutlak dilakukan secara perodik dari awal hingga akhir dengan menimbang bobot biomassa ikan.
h = Wt – W0
Keterangan : h  = Pertumbuhan bobot mutlak (gr)
                     Wt = Bobot rata-rata pada akhir penelitian (gr)
                     W0 = Bobot rata-rata pada awal penelitian (gr)

Tabel 2. Rata-rata pertumbuhan bobot mutlak benih ikan lele dumbo setiap pelakuan selama penelitian
Jenis Pakan
Pertumbuhan Bobot Mutlak (Gr)
Tubifex
3,26a
Jentik nyamuk
0,79b
Pelle butiran
0,78b
Keterangan : Huruf yang berbeda menunjukan pengaruh berbeda sangat nyata

Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukan bahwa pemberian pakan yang berbeda berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan benih ikan lele dumbo, sedangkan hasil uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) memperlihatkan bahwa perlakuan pemberian Tubifex berbeda sangat nyata erhadap perlakuakn pemberian jentik nyamuk dan pellet butiran.
Perbedaan pertumbuhan bobot tersebut diduga karena adanya perbedaan nutrisi dari jenis pakan-pakan tersebut. Nutrisi adalah bahan baku yang dibutuhkan demi kelangsungan hidup suatu organisme, digunakan oleh sel-sel tubuh untuk pembentukan bagian tubuh dan untuk energi dan metabolisme suatu organisme. 


b)     Konversi Pakan
Konversi Pakan =               F
                                   (Wt + D) – W0   

Keterangan : F   = jumlah pakan yang diberikan selama peneliian
         Wt = Bobot rata-rata pada akhir penelitian (gr)
                     W0 = Bobot rata-rata pada awal penelitian (gr)
                     D   = Jumlah bobot ikan yang mati selama penelitian
           
Tabel 3. Nilai konversi pakan (FCR) benih ikan lele dumbo setiap pelakuan selama penelitian
Jenis Pakan
FCR
Tubifex
0,8
Jentik nyamuk
2,4
Pelle butiran
2,3

Perbedaan nilai FCR dari tiap perlakuan memperlihatkan perbedaan kualitas pakan yang  digunakan. Pakan yang banyak mengandung protein akan menjadi salah satu pemacu pertumbuhan ikan. Keadaan lingkungan , kualitas dan kuantitas pakan serta kondisi ikan itu sendiri mempengaruhi pertumbuhan ikan dan memiliki kaitan dengan tinggi rendahnya FCR yang dihasilkan. Semakin rendah nilai FCR semakin sedikit yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging ikan, artinya semakin efektif pakan tersebut diubah menjadi daging.

c)      Derajat Kelansungan Hidup
Merupakan persentase dari jumlah ikan yang hidup dan jumlah ikan yang ditebar selama pemeliharaan.
S   =  Nt  x 100%
         N0
Keterangan : S   = Derajat kelangsungan hidup (%)
         Nt = Jumlah ikan yang ditebar pada awal penelitian (ekor)
         N0 = Jumlah ikan pada akhir penelitian (ekor)

Derajat kelangsungan benih ikan lele dumbo selama penelitian adlaah 100% pada setiap perlakuan. Survival rate dipengaruhi oleh faktor biotik yaitu persaingan, parasit, umur, predator, kepadatan dan penanganan manusia, sedangkan faktor abiotik adalah sifat fisika dan kimia dalam perairan.

d)     Kualitas Air
Sebagai data penunjang dilakukan pengukuran terhadap beberpaa parameter kualitas air seperti suhu, oksigen terlarut, pH, dan amoniak.
Tabel 4. Nilai pengukuran kualitas air selama penelitian
Parameter Kualitas Air
Hasil Pengukuran
Nilai Standar Kualitas Air
Suhu
26 – 310 C
20 – 300 C
pH
7 - 8
6,5 - 8
Oksigen Terlarut
4,4 – 4,6 ppm
5 ppm
Amoniak
0,03 – 0,18 ppm
0,05 ppm


Sumber :
Penelitian Madinawati, Novalina Sediati dan Yoel. Pemberian Pakan yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Lele Dumbo (Clarias gariepinus). Media Litbang Sulteng IV (2): 83-87, Desember 2011.

Senin, 25 Juni 2018

MUHAMMAD ZAHID SIDQI


TIDUR










Edisi Beberapa Sumber Daya Ikan yang Dominan di Kecamatan Kepulauan Pongok Kabupaten Bangka Selatan






Edisi Poster Perikanan























Sistem Pencernaan Ikan


Sistem Pencernaan Ikan


Mencerna secara umum dapat diartikan sebagai membebaskan energi yang tersimpan dalam makanan dan mengubahnya  ke dalam bentuk yang dapat digunakan untuk melakukan kegiatan, menjaga kesehatan, dan tumbuh. Proses pencernaan pada ikan pada dasarnya akan membangkitkan proses metabolisme ikan yang mau tidak mau harus dicermati dengan baik, terutama kalau kondisi lingkungan ikan tersebut berada pada kondisi ekstrim.

Proses pencernaan
Proses mencerna makanan pada ikan dimulai sejak makanan masuk ke dalam mulut ikan, dan berakhir pada saat kotoran dikeluarkan dari tubuh ikan melalui anus. Selama proses berlangsung, terjadi penguraian bahan makanan tersebut, baik secara fisika maupun kimia, ke dalam bentuk molekul-molekul yang lebih sederhana yang kemudian diserap oleh tubuh ikan melalui dinding usus dan masuk ke dalam jaringan peredaran darah.


Perangkat pencernaan
Secara umum perangkat pencernaan terdiri dari, mulut, kerongkongan, area penyerapan makanan, dan area pemadatan sisa makanan yang tidak bisa dicerna. Dalam adaptasi terhadap jenis makanan yang dikonsumsi, ikan menunjukan variasi perangkat pencernaan seperti terlihat pada perbedaan struktur mulut dan gigi, tekak, perut dan panjang usus.
     
Pada ikan karnivora dan omnivora dijumpai perut, sedangkan pada herbivora tidak ditemukan perut, sebagai gantinya dijumpai perluasan area dari midgut. Keberadaan gigi yang terletak di rahang atau bagian rongga mulut ternyata mempunyai peran yang berbeda, pada ikan karnivora berfungsi untuk memegang makanan agar tidak lepas, sedangkan pada ikan herbivora berfungsi untuk menghancurkan makanan sebelum memasuki perut. Pada ikan karnivora terdapat perut yang menghasilkan HCL (asam perut) dan enzim pencernaan untuk melembutkan makanan dan memicu penguraian makanan ke dalam bentuk yang lebih sederhana. Usus ikan karnivora lebih pendek dibandingkan usus ikan herbivora.
Hati dan empedu pada ikan memgang peranan penting dalam pencernaan, hati mengolah hasil proses pencernaan ke dalam bentuk yang berguna dan membantu pencernaan dengan menghasilkan cairan empedu.
Cairan empedu berfungsi antara lain membantu proses pengemulsian  dan penyerapan lemak/ lipid, membantu menetralkan HCL sehingga mencegah luka pada usus akibat HCL tersebut, menyerap bahan beracun dikembalikan ke dalam usus untuk dikeluarkan melalui saluran pembuangan.


Kebiasaan makan
Kebiasaan makan ikan merupakan ekpresi dari interaksi ikan dengan lingkungan dan kondisi fifiologisnya. Kondisi lingkungan yang berpengaruh pada kebiasaan makan antara lain temperatur, intensitas sinar, musim, dan siklus. Kondisi fifiologis ikan yang ikut mempengaruhi seperti indra perasanya. 
Berbagai kandungan gizi pada pakan ikan memiliki fungsi untuk menjaga ikan agar tetap hidup dan tumbuh. Proporsi keperluan gizi ikan dan jumlahnya ditentukan oleh : spesies, tahap pertumbuhan, status reproduksi, dan faktor luar seperti suhu, habitat dan musim. 

Sumber : Aquatica Magazine, Volume 01 No. 04.

Mengenal Penyakit White Spot (Ich)

Mengenal Penyakit White Spot (Ich)
  



Penyakit ikan mudah sekali ditularkan dari satu ikan ke ikan yang lain dalam satu wadah budidaya melalui kulit, insang dan terutama air sebagai media hidup ikan. Seringkali terlihat, ikan yang semula terlihat sehat, setelah sekian lama dipelihara tiba-tiba menunjukan gejala serangan penyakit pada beberapa bagian tubuh ikan tersebut. 
Penurunan produksi dapat diakibatkan oleh adanya wabah penyakit, hama & pengganggu. Penyebab turunnya produksi harus dikendalikan & diberantas tuntas tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Pengenalan terhadap suatu jenis penyakit serta penyebabnya, akan membantu dalam pengendalian & penanggulangan penyakit tertentu.
Penyakit white spot yang menyerang ikan air tawar merupakan salah satu penyakit yang sering muncul dan meresahkan bagi para pembudidaya ikan, penyebabnya adalah parasit Ichthyophthirius multifiliis merupakan protozoa bersilia (bulu getar) & memiliki tanda klinis bintik putih pd bagian tubuh ikan.



Gambar 1. Parasit protozoa Ichthyophthirius multifiliis penyebab penyakit White spot

Klasifikasi Ichthyophthirius multifiliis
Ichthyophthirius multifiliis  merupakan ekto-parasit yang menyebabkan penyakit white spot atau penyakit ich, penyakit yang menginfeksi dan merusak kulit, insang, sirip maupun mata pada spesies ikan air tawar. Ich termasuk ke dalam filum protozoa, sub-filum Ciliophora, kelas Ciliata, famili Ophyroglenidae dan genus Ichthyophthirius.

Siklus hidup Ichthyophthirius multifiliis
Siklus hidup parasit ini sangat sederhana, dimulai dari stadium dewasa atau pemakan (troposit) yang berpenetrasi pada lapisan lendir & lapisan kulit terluar (epidermis) serta jaringan epithelium insang dari inang. Hal ini menyebakan ikan mengalami iritasi. Parasit ini berkembang dengan memperoleh makanan dari sel darah merah dan sel kulit ikan. Setelah fase pemakannya selesai, ich akan memecah epithelium dan keluar dari inangnya untuk membentuk kista. Kista-kista tersebut akan menempel pada tumbuhan, batu ataupun objek lainnya yang ada diperairan. Kemudian terjadi pembelahan biner hingga 10 kali menghasilkan 100-2000 sel bulat berdiameter 18-22 µm. Sel-sel tersebut akan memanjang seperti cerutu berdiameter 10 X 40 µm dan mengeluakan enzim hyaluronidase, enzim ini digunakan untuk memecahkan kista sehingga tomit (sel-sel muda) yang dihasilkan dapat berenang bebas dan segera mendapat inang baru. Tomit-tomit yang motil dan bersifat infektif akan mati jika tidak menemukan inang baru dalam waktu 3x24 jam. Siklus hidup ich memerlukan waktu 3 hari hingga 3 minggu tergantung pada suhu dan keadaan tubuh inangnya (sekitar 4 minggu pada suhu 200C tapi akan lebih cepat siklusnya sekitar 5 hari pada suhu 270C).
Gambar 2. Siklus infeksi Ichthyophthirius multifiliis pada ikan

Gejala infeksi
Bagian tubuh ikan yang menjadi sasaran adalah sel pigmen, sel darahdan sel lendir. Bila yang diserang bagian kepala, terutama permukaan insang, ikan biasanya megap-megap seperti sesak napas, lama-kelamaan mati. Serangan yang ringan pada selaput lendir mengakibatkan ikan gatal-gatal, mengesek-gesekan tubuhnya pada dinding atau substrat lain diperairan. Pada tahap infeksi yang lebih lanjut, akan muncul bintik-bintik putih pada bagian tubuh yang terinfeksi, sehingga menyebabkan ulcer (borok) atau infeksi sekunder lainnya.

Gambar 3. Ikan lele yang terinfeksi white spot

Mencegah & Mengobati White Spot
Cara termudah timbulnya penyakit ich dengan menjaga kualitas air secara optimal bagi pemeliharaan ikan, pergantian air secara rutin akan membantu menghilangkan atau memutus fase parasit tersebut.
Ikan yang sakit diobati melalui perendaman methile blue, caranya sebagai berikut  :
1.     Buatlah larutan baku dengan mencampurkan 1 gr methile blue ke dalam 100 ml air bersih
2.     Siapkan wadah plastik dan isi air bersih dan campurkan larutan baku sebanyak 2-4 ml setiap 4 liter air.
3.     Rendam ikan yang sakit dan biarkan selama 24 jam.
Pengobatan alternatif menggunakan larutan garam dapur (NaCl) dengan konsentrasi 1-3% atau 1-3 gr garam dapur dalam 100 ml air bersih. Rendam ikan yang sakit dalam wadah plastik selama 5-10 menit lalu pindahkan ke dalam air bersih.
Bisa juga menggunakan campuran formalin sebanyak 25 ml per 1 m3 air atau dengan Malachite green oxalat sebanyak 0.15 gr per 1 m3 air ( 1 m3 = 1000 liter) rendam ikan yang terserang selang waktu 12-24 jam, selama perendaman perhatikan pasokan oksigen terlarut supaya memadai.  


Sumber :
1.      Aquarista Magazine. Edisi 02.
2.     Daelami, Deden. 2002. Agar Ikan Sehat . Penebar Swadaya. Jakarta
3.     Supriyadi, Hambali. 2002. Mewaspadai & Menanggulangi penyakit pada Lau Han. Agro Media Pustaka. Bogor